• 0896-6205-4692 (Bahrul)
  • ksei.febundip@gmail.com

EKSYARTICLE – Pemberdayaan Umat di Tengah Krisis Melalui Ekonomi Masjid

A. PENDAHULUAN

  Ekonomi masjid merupakan pemaksimalan peran masjid dalam memberdayakan masyarakat. Terdapat dua peran masjid dalam sejarah Islam, masjid mempunyai peran sebagai tempat berhubungan dengan Allah, yakni masjid bermakna vertikal, menyangkut hubungan manusia dengan khalik. Peran masjid juga mencakup sosial kemasyarakatan, yaitu masjid bermakna horizontal (Suwarto, 2012). Selain pusat ibadah, masjid juga digunakan sebagai pusat pemerintahan, politik, Pendidikan, budaya , dan pengembangan ekonomi. Selain itu masjid juga berperan dalam melahirkan tokoh – tokoh penting tidak hanya dibidang hukum Islam, tetapi juga pakar matematika, filsafat, astronomi, kimia, biologi, seni, arsitektur, dan ekonomi (Bakar, 2007).

B. ISI

 Masjid dalam sejarah peradaban Islam merupakan sarana untuk melakukan dakwah dan pengembangan sumber daya ekonomi umat Islam. Setiap jama’ah dalam membangun masjid, berorientasi untuk melakukan dakwah dan sekaligus memberdayakan ekonomi jama’ah dan masyarakat yang ada di sekitar masjid (Hasyim, 2016). revitalisasi fungsi masjid sebagai wadah melakukan dakwah dan pemberdayaan umat merupakan implementasi dari peran masjid secara luas. Potensi masjid di Indonesia sebagai Pemberdayaan ekonomi umat sangat besar, dengan jumlah masjid mencapai 277.877 yang tersebar diseluruh wilayah di Indonesia.

Gambar 1. Data Masjid di Indonesia (SIMAS, 2021)

  Terkait dengan potensi ekonomi masjid, sekarang ada beberapa unit usaha jama’ah masjid yaitu Koperasi simpan pinjam antar pengurus, wartel, wc umum, penitipan sendal dan sepatu, arisan majelis taklim, dan toko milik masjid. Usaha yang pertama yakni Koperasi simpan pinjam adalah upaya di antara sesama pengurus untuk mengatasi kebutuhan harian dan saling membantu mereka bermufakat mendirikan koperasi simpan pinjam. Kedua, Wartel. Kebutuhan informasi daan telekomunikasi saat ini, ditambah tempat yang strategis membuat keberadaan warung telekomunikasi ini sangat dibutuhkan masyarakat. Ketiga, wc umum. Jasa yang satu ini sangat dibutuhkan masyarakat apalagi apabila masjid berada di lokasi keramaian pasar. Pengurus beriniasiatif menyediakan wc umum yang cukup representatif usaha jasa ini sangat menguntungkan dan meraup keuntungan yang berlipan ganda. Keempat, Penitipan Sandal dan Sepatu. Jasa yang satu ini juga lahan potensi ekonomi yang sangat potensial jika dikelola secara bagus dan profesional, terbukti infak yang terkumpul pertahunnya mencapai jutaan rupiah. Kelima, Arisan Jamaah Majlis Taklim. Ada inisiatif dari jamaah wirid majlis taklim untuk mengadakan arisan. Hal ini masih berjalan dan perputaran uang pada sekali putaran mencapai puluhan juta. Keenam, Toko milik masjid. Masjid telah mengembangkan toko sebagai sarana pengembangan modal pembiayaan masjid. Tujuh, Jasa ambulan. Jasa ini juga sangat dibutuhkan dengan perkembangan masyarakat dan berbagai sektor (Hasyim, 2016).

  Adapun langkah – langkah revitalisasi dan realisasi potensi kekuatan umat berbasis masjid. Antara lain, Pertama, mendata potensi jamaah masjid meliputi: pendataan jamaah masjid kategori mampu dan tidak mampu, diversifikasi mata pencaharian masing-masing individu jamaah masjid, latar belakang pendidikan para jamaah, dan data kependudukan yang bersifat standar, seperti usia dan jenis kelamin. Pengurus masjid juga harus menganalisis tingkat partisipasi jamaah dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan sebagai indikator kemakmuran masjid. Kedua, mendata potensi ekonomi lingkungan sekitar masjid, termasuk menganalisis potensi ekonomi masyarakat yang tinggal disekitar masjid, termasuk analisis potensi strategis lokasi masjid. Ketiga, memperkuat jaringan ekonomi dengan masjid lainnya. Jaringan merupakan salah satu sumber kekuatan umat yang harus dikelola dengan baik, sehingga akan memiliki manfaat yang bersifat luas.  Dengan hal ini, maka dapat dipastikan sector riil akan bergerak, dan tingkat pengangguran pun diminimalisasi karena masjid dapat mempekerjakan masyarakat yang tidak mendapat pekerjaan.

C. KESIMPULAN

  Masjid mempunyai peran yang multifungsi, tidak hanya dibidang agama, tetapi meliputi bidang ekonomi, politik, sosial, dan Pendidikan dalam membangun umat. Dewasa ini salah satu persoalan yang dihadapi umat Islam adalah masalah kemiskinan, ketimpangan, dan sulitnya akses ekonomi, terlebih dikondisi pandemi dan krisis seperti sekarang. Ibnu Khaldun pernah berkata “Ekonomi adalah tiang dan pilar paling penting untuk membangun peradaban Islam (Imarah). Tanpa kemapanan ekonomi, kejayaan Islam sulit dicapai bahkan tak mungkin diwujudkan. Ekonomi penting untuk membangun negara dan menciptakan kesejahteraan umat”. Hal ini dapat diwujudkan melalui ekonomi masjid, Apabila umat Islam memiliki komitmen dalam memberdayakan masjid sebagai pusat kegiatan perekonomian, maka berbagai permasalahan yang terkait dengan rendahnya tingkat kesejahteraan umat akan dapat diatasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Yamali, F. R. & Putri, R. N., 2020. Dampak Covid-19 Terhadap Ekonomi Indonesia. Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JIAP), Volume I, p. 386.

Suwarto, 2012. Peranan Majid dalam Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Masjid Riyad Surakarta, Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Bakar, H. A., 2007. Manajemen Masjid Berbasis II H. Abu Bakar. Yogyakarta: Arina.

Hasyim, S. L., 2016. Strategi Masjid Dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat. Jurnal Lentera, XIV(Lentera), p. 279.

Hasyim, S. L., 2016. Strategi Masjid Dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat. Jurnal Lentera, XIV(Lentera), p. 284.

 

Leave your message