• 0896-6205-4692 (Bahrul)
  • ksei.febundip@gmail.com

EKSYARTICLE – Vaksin Halal: Katalisator Perkembangan Produk Farmasi Halal Indonesia

A. PENDAHULUAN

     Virus COVID-19 telah menemani kita selama kurang lebih 1 tahun, menyelimuti manusia dengan ketakutan akan kematian. Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) menyebutkan total kasus COVID-19 di Indonesia sampai 11 April 2021 tercatat 1.566.995 kasus positif, dengan 42.530 kasus meninggal (KPCPEN, 2021). Dengan kasus sebanyak itu menyebabkan munculnya vaksinasi sebagai bagian dari penanganan COVID-19 di Indonesia, selain 3M (Memakai masker, Menjaga jarak dan hindari kerumunan, Mencuci tangan pakai sabun) dan 3T (Testing, Tracing, Treatment).

     Pemberian vaksinasi ini dibagi atas 4 tahapan dengan mempertimbangkan ketersediaan, waktu kedatangan dan tahapan pelaksanaan vaksinasi COVID 19. Vaksinasi mulai diberlakukan dengan total sasaran sebesar 10.002.901. Penduduk Indonesia sebagian besar beragama muslim sehingga pemberlakuan vaksinasi dengan vaksin COVID-19 wajib dipastikan kehalalannya. Penanganan tersebut diserahkan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait dengan Komisi Fatwa MUI Pusat. Vaksinasi sendiri merupakan bentuk dari produk farmasi sehinggga perkembangannya mmpu meningkatkan pangsa pasar farmasi Indonesia. Pada tahun 2023 diperkirakan pangsa pasar farmasi akan naik sebesar 7.1 persen menjadi USD 131 miliar (KNKS, 2018). Faktanya farmasi merupakan salah satu industri andalan yang ditetapkan oleh Kementerian Perindustrian dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional. Urgensi ini menjadi tantangan serta potensi bagi Indonesia untuk mengembangkan vaksin halal yang akan meningkatkan industri farmasi halal Indonesia.

B. ISI

     Data vaksinasi Indonesia terlihat di gambar, pada 14 Januari sampai 10 April 2021 sudah mencapai 3,7 % atas total 10.002.901 sebagai penerima minimal 1 dosis vaksin.

Grafik 1 Jumlah Vaksinasi COVID-19 di Indonesia

     Dalam Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2021 tentang produk vaksin COVID-19, vaksin yang diproduksi Sinovac Life Sciences Co. Ltd. China dan  PT. Bio Farma (Persero) hukumnya suci dan halal (MUI, 2021). Vaksin Covid-19 ini boleh digunakan untuk umat Islam sepanjang terjamin keamanannya menurut ahli yang kredibel dan kompeten.  Dikarenakan fakta diatas membuat pemerintah dengan  segera melakukan vaksinasi di Indonesia menggunakan vaksin Sinovac. Namun karena kekurangan terkait vaksin sinovac yang ada di Indonesia menjadikan pemerintah mencari vaksin lain, salah satunya adalah vaksin AstraZeneca. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa Nomor 14 tahun 2021 tentang Hukum Penggunaan Vaksin AstraZeneca, memiliki kandungan haram yaitu dalam proses pembuatannya memanfaatkan tripsin yang berasal dari babi namun hukumnya dibolehkan atau mubah (MUI , 2021).

     Untuk memenuhi target sasaran pemerintah yang totalnya masih jauh dibanding jumlah vaksin Indonesia. Biologi Molekuler Eijkman, PT Kalbe farma, dan PT Biofarma mencoba menciptakan vaksin hasil produksi Indonesia. Apabila hasilnya menjanjikan, vaksin akan siap diedarkan awal tahun 2022 (KEMKES RI, 2021). Hal tersebut membuat Indonesia memiliki potensi dalam industri farmasi untuk terus mengembangkan vaksin corona yaitu Vaksin Merah Putih.

Grafik 2 Pangsa Pasar Farmasi di Indonesia

     Berbicara tentang bidang farmasi dalam industri halal Indonesia, terdapat grafik pangsa pasar farmasi dalam negeri Indonesia. Hal ini menjadi bukti bahwa negara berkembang produk farmasinya cenderung lebih cepat tumbuh, karena secara agregat mengikuti indikator makroekonomi. Berdasarkan Euromonitor Consumer Health in Indonesia Country Report 2017, pangsa pasar farmasi Indonesia pada tahun 2019 nilainya mencapai Rp 55,874.9 miliar. State of Global Islamic Report mengatakan konsumsi muslim terhadap produk farmasi dan kimia dari tahun 2013-2017 menunjukkan tren yang meningkat (KNKS, 2018). Urgensi pengembangan vaksin halal dalam negeri tentu saja menjadi potensi atau batu loncatan Indonesia untuk mendorong menuju industri halal bidang farmasi nasional maupun iternasional.

C. KESIMPULAN

   Urgensi vaksin menjadikan pemerintah bergerak secara cepat dengan mengimpor vaksin sinovac dan astrazeneca. Namun faktanya kedua vaksin tersebut dikatakan masih kurang untuk memenuhi target. Oleh karena itu, muncullah percobaan penciptaan vaksin Indonesia yaitu Vaksin Merah Putih. Dengan melihat vaksin sebelumnya yang telah digunakan pemerintah sebagai evaluasi kekurangan masing-masing. Diharapkan vaksin buatan Indonesia ini mampu menjadi vaksin halal, memiliki efikasi vaksin yang tinggi, disertai dengan efek samping yang sedikit. State of Global Islamic Report mengatakan konsumsi muslim terhadap produk farmasi dan kimia dari tahun 2013-2017 menunjukkan tren yang meningkat. Jadi apabila vaksin ini mampu memenuhi harapan yang ada mampu mewujudkan perkembangan industri halal dalam bidang farmasi Indonesia. Dengan adanya urgensi, tantangan, serta potensi tersebut dibutuhkan kepekaan untuk bisa dimanfaatkan dengan tujuan kemajuan produk halal Indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA

KEMKES RI. (2021). Artikel Sehat. Dipetik April 12, 2021, dari p2ptm.kemkes.go.id: http://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/vaksin-corona-buatan-indonesia-siap-edar-tahun-2022

KNKS. (2018). Masterplan Eksyar. Dipetik April 14, 2021, dari knks.go.id: https://knks.go.id/storage/upload/1573459280-Masterplan%20Eksyar_Preview.pdf

KPCPEN. (2021, April 11). Data sebaran COVID-19 di Indonesia. Dipetik April 11, 2021, dari covid19.go.id: https://covid19.go.id/

MUI . (2021, Maret 19). Fatwa MUI. Dipetik April 12, 2021, dari mui.or.id: https://mui.or.id/produk/fatwa/29883/fatwa-mui-hukum-penggunaan-vaksin-covid-19-produk-astrazeneca/

MUI. (2021). Fatwa MUI. Dipetik April 12, 2021, dari mui.or.id: https://mui.or.id/category/produk/fatwa/

MUI. (2021, Januari 20). Fatwa MUI. Dipetik April 12, 2021, dari mui.or.id: https://mui.or.id/produk/fatwa/29485/fatwa-mui-no-02-tahun-2021-tentang-produk-vaksin-covid-19-dari-sinovac-life-sciences-co-ltd-china-dan-pt-biofarma/

 

Leave your message