• 0896-6205-4692 (Bahrul)
  • ksei.febundip@gmail.com

EKSYARTICLE – Peran Zakat Dalam Mengurangi Dampak Krisis Ekonomi Akibat Pandemi Covid-19

A. Pendahuluan

Pandemi covid-19 berdampak pada kehidupan masyarakat di semua sektor termasuk perekonomian (Fahlefi, Rizal. Ahmad, 2020). Suryo Utomo selaku Dirjen Pajak Kemenkeu, menyampaikan gangguan pada sektor perekonomian akibat Covid-19 berdampak pada tiga hal besar. Pertama, Covid-19 menyebabkan tingkat konsumsi jatuh cukup jauh. Kedua, terhentinya usaha dikarenakan investasi semakin melemah. Ketiga, kegiatan ekspor terhenti dan terjadinya penurunan harga komoditas karena adanya penurunan ekonomi secara global (Fahlefi, Rizal. Ahmad, 2020). Di antara bentuk upaya yang diserukan dan dilakukan oleh dunia dalam rangka mengurangi penyebaran wabah ini adalah dengan social atau physical distancing (Iskandar, Possumah and Aqbar, 2020). Namun sayangnya, pemberlakuan social distancing ini mempengaruhi penurunan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Dalam kajian teori ilmu ekonomi, social atau physical distancing atau pengetatan dan pembatasan aktifitas masyarakat akan berakibat pada penurunan Agregat Supply (AS) dalam perekonomian yang berdampak pada penurunan jumlah produksi atau quantitiy (Q). Kondisi dimana masyarakat yang hanya berdiam diri di rumah (stay at home), berdasarkan hukum supply dan demand, lambat laun akan menyebabkan penurunan permintaan secara agregat atau Agregat Demand (AD) yang berujung pada jumlah produksi yang terus menurun (Hafizah, 2020). Mengingat bahwa aspek-aspek vital ekonomi yaitu supply, demand dan supply-chain telah terganggu, maka dampak krisis akan dirasakan secara merata ke seluruh lapisan atau tingkatan masyarakat. (Iskandar, Possumah and Aqbar, 2020).

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, umat Islam dapat memberikan peran terbaiknya melalui berbagai bentuk atau model philanthropy dalam Ekonomi dan Keuangan Syariah (Iskandar, Possumah and Aqbar, 2020). Salah satu instrument filantropi islam yaitu zakat. Penduduk Indonesia yang mayoritas beragama islam menggambarkan akan besarnya potensi zakat

B. Isi

Cara pertama yang dapat dilakukan untuk menghadapi guncangan ekonomi saat ini adalah dengan menyalurkan bantuan langsung tunai yang berasal dari zakat, infak dan sedekah, baik yang berasal dari lembaga-lembaga penghimpun zakat maupun yang berasal dari masyarakat. Khusus untuk zakat, penyalurannya diharapkan dapat berfokus pada masyarakat miskin yang terdampak COVID-19 secara langsung sebagai pihak yang berhak menerimanya (mustahik). Hal ini merupakan salah satu potensi besar yang dimiliki oleh Ekonomi Islam dalam menghadapi guncangan perekonomian yang disebabkan oleh wabah COVID-19 (Hafizah, 2020).

Sebagian dana yang dikumpulkan oleh unit-unit atau organisasi pengumpul zakat (khususnya yang ada di daerah) dapat digunakan untuk memperkuat usaha UMKM. Menyelamatkan kelompok UMKM yang krisis atau terancam bangkrut karena terkena dampak ekonomi dari wabah Covid-19, dapat dikategorikan sebagai golongan asnaf (penerima zakat), yaitu sebagai kelompok miskin, berjuang di jalan Allah (fii sabilillah), atau orang yang berhutang (gharimin) (Iskandar, Possumah and Aqbar, 2020).

Ketika seorang mustahik yang menerima zakat memiliki kemampuan untuk membelanjakan harta untuk memenuhi kebutuhannya, maka kondisi akan mengakibatkan bergesernya kurva Demand ke kanan dari D0 ke D1 . Di lain pihak, ketika seorang muzakki memiliki aset, ia termotivasi untuk menginvestasikan aset tersebut ke sektor riil sehingga suplai barang dan jasa akan meningkat dan kurva supply akan bergerak ke kanan, dari S0 ke S1 .

Gambar 1. Intervensi ZISWAF dalam Kurva Demand dan Supply

Kemudian, pada periode pembayaran zakat berikutnya, mustahik tetap memiliki kemampuan untuk membelanjakan harta untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga kurva Demand akan terus bergeser ke kanan dari D1 ke D2 . Hal ini akan berlangsung terus menerus. Begitu pula, sisi supply juga akan bergerak ke kanan, dari S1 ke S2, dan terus bergerak. Pada akhirnya, pergerakan sisi demand dan supply ke kanan yang terus menerus lambat laun akan meningkatkan GDP atau GDP per kapita yang berujung pada kesejahteraan dan kemakmuran.

Gambar 2. Kondisi Akhir Perekonomian dengan Intervensi ZISWAF Pada

Melalui sistem pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan yang baik, zakat dapat menjadi alternatif kestabilan krisis ekonomi (Afrina, 2020). Pengumpulan dana zakat ini diharapkan akan meningkatkan kembali aggregate demand dan aggregate supply ke kanan, diikuti dengan pembangunan pasar dan fokus kepada UMKM yang mempertemukan permintaan dan penawaran, sehingga surplus ekonomi terbentuk kembali dan membantu percepatan pemulihan ekonomi (Iskandar, Possumah and Aqbar, 2020).

C. Penutup

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, umat Islam dapat memberikan peran terbaiknya melalui berbagai bentuk atau model philanthropy dalam Ekonomi dan Keuangan Syariah, khususnya dalam masa pandemi Covid-19. Peran ini diharapkan dapat mengatasi guncangan ekonomi yang terjadi dan seluruh masyarakat, khususnya umat muslim, dapat ikut serta berkontribusi dalam memulihkan guncangan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Afrina, D. (2020) ‘Manajemen Zakat Di Indonesia Sebagai Pemberdayaan Ekonomi Umat’, EkBis: Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 2(2), p. 201. doi: 10.14421/ekbis.2018.2.2.1136.

Fahlefi, Rizal. Ahmad, S. R. (2020) ‘Dampak pandemi covid 19 terhadap perekonomian masyarakat di sektor informal’, 4(2), pp. 3–9.

Hafizah, G. D. (2020) ‘Peran Ekonomi dan Keuangan Syariah pada Masa Pandemi COVID-19’, Jurnal Likuid, 1(1), pp. 55–64.

Iskandar, A., Possumah, B. T. and Aqbar, K. (2020) ‘Peran Ekonomi dan Keuangan Sosial Islam saat Pandemi Covid-19’, SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i, 7(7). doi: 10.15408/sjsbs.v7i7.15544.

 

Leave your message