• 0896-6205-4692 (Bahrul)
  • ksei.febundip@gmail.com

Industri Halal : Potensinya di Indonesia

Persoalan halal dan haram adalah hal yang sangat perlu diketahui dan diuatamakan bagi setiap muslim dalam menggunakan produk atau jasa. halal sendiri dapat diartikan dengan segala sesuatu yang diperbolehkan oleh Allah, sementara haram adalah segala sesuatu yang tidak diperbolehkan atau dilarang. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada Q.S Al-Baqarah ayat 168

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa barang yang dikonsumsi haruslah barang yang halal dan thayyib atau baik.

Dalam rangka memenuhi permintaan pasar mengenai produk halal, maka diperlukan industri halal didalamnya. Dalam KBBI disebutkan bahwa industri adalah kegiatan memproses atau mengolah denganmenggunakan sarana dan peralatan, misalnya dengan mesin. Sementara halal dalam kbbi diartikan dengan diizinkan atau tidak dilarang oleh syarak. Maka, industri halal dapat disimpulkan dengan kegiatan memproses atau mengolah dengan menggunakan sarana dan peralatan yang sesuai dengan syariat islam. fungsi dan tujuan dari industry halal adalah sebagai bentuk perwujudan dari UU no. 33 tahun 2014 yang berisi tentang jaminan produk halal.

Dengan 87% penduduk beragama Islam, Indonesia menjadi pasar terbesar dalam konsumsi industry halal, seperti halal food dan fashion. Dari data Global Islamic Economic Report 2018-2019 yang dipublikasikan oleh KNKES, menyebutkan bahwa Indonesia berada pada peringkat pertama dari sepuluh negara dalam pengeluaran konsumsi barang dan jasa halal. total konsumsi barang dan jasa halal di Indonesia pada ahun 2017 sekitar US$ 218,8 miliar dan akan terus bertambah hingga 5,3 persen hingga mencapai US$ 330,5 miliar pada tahun 2025.

Dengan potensi yang dimiliki, Indonesia masuk dalam peringkat lima dari sepuluh negara dalam industry halal dengan enam indikatornya yakni halal food, fashion, recreation, friendly travel, Cosmetics dan Islamic finance. Indonesia masuk dalam sepuluh besar pada indikator fashion, muslim friendly travel dan Islamic finance sementara pada indikator lainnya Indonesia masih dibawah sepuluh besar. Meski demikian hal itu merupakan suatu pencapaian yang bagus dan perlu ditingkatkan kembali kedepannya sehingga Indonesia tidak hanya menjadi konsumen terbesar dalam industry halal tetapi juga sebagai produsen produk dan jasa halal.

Salah satu pengembangan yang diperlukan dalam industri halal adalah pengembangan sumber daya manusia. Dengan sumber daya manusia yang berkompeten akan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan ide cemerlang dalam memberi solusi disetiap permasalahan industri halal. sumber daya manusia dapat dikembangkan melalui berbagai sarana seperti sosialisasi media sosial, kegiatan dan sosialisasi desa, perlombaan dan seminar keilmuwan. Semakin banyaknya individu yang paham mengenai industry halal, maka akan semakin banyaknya ketersediaan produk dan jasa halal yang dapat dinikmati bersama.

Selain melalui pengembangan sumber daya manusia, diperlukan juga dukungan pemerintah mengenai industri halal. dukungan pemerintah dalam industri halal dapat berupa undang-undang mengenai jaminan produk halal dan kawasan industri halal, hal ini diperlukan agar terciptanya ekosistem yang baik dalam mengembangkan industri halal tersebut.

Dengan adanya potensi dan usaha pengembangan industri halal, diharapkan Indonesia tidak hanya sebagai konsumen dari produk halal, tetapi juga akan membawa kemajuan dan dapat turut memimpin arah gerak dari industri halal secara global.

 

Sumber

https://knks.go.id/storage/upload/1603516943-Paparan%20Menko%20Ekon%20-%20Webinar%20KNEKS%20-%20Menuju%20Pusat%20Halal%20Dunia.pdf

https://www.kompasiana.com/chrisantarigan/5cd98f7e6db84325c7752272/tantangan-dan-peluang-indonesia-sebagai-industri-halal-terbesar-di-dunia#

Leave your message