• 0896-6205-4692 (Bahrul)
  • ksei.febundip@gmail.com

Reksadana Syariah sebagai Pilihan Investasi yang Mudah dan Lebih Aman Sesuai dengan Syariah Islam di Masa Pandemi

Investasi merupakan hal yang masih di anggap “wah” oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal itu tidak lepas dari citra dari investasi yang dipandang harus memiliki modal yang sangat besar untuk memulainya. Padahal sebenarnya hal itu kurang tepat. Kitapun bisa memulai berinvestasi hanya dengan bermodal Rp. 100.000, – saja. benarkah bisa seperti itu? Tentu saja bisa.

Ada beberapa pilihan instrumen investasi yang ada di Indonesia, diantaranya adalah emas, deposito, saham, obligasi, hingga reksadana. Nah, instrumen investasi Reksadana lah yang dinilai paling aman bagi para pemula. Kenapa seperti itu? hal ini karena dalam kita berinvestasi di reksadana, dana yang kita investasikan akan dikelola oleh Manajer Investasi yang sudah berpengalaman dalam mengelola dana dari masyarakat. Jadi kita hanya perlu menyetorkan modal tanpa harus pusing bagaimana mengelola modal/dana yang kita miliki.

Namun masalah kembali muncul dan menjadi pertanyaan masyarakat, terutama bagi umat muslim. Apakah reksadana ini halal? Apakah reksadana syariah ini sesuai dengan ketentuan syariah islam? Nah, oleh karena keresahan tersebut, saat ini telah terdapat yang namanya Reksadana syariah.

Apa itu reksadana syariah? Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Nomor 20/DSN-MUI/IX/2000, reksadana syariah adalah reksadana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syariah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta (Sahib al-mal/ rabb al-mal) dengan manajer investasi sebagai wakil sahib al-mal, maupun antara ma-najer investasi sebagai wakil dengan pengguna investasi. Dengan kata lain reksadana syariah dapat dirumuskan sebagai reksadana yang cara pengelolannya dan kebijakan investasinya mengacu pada syarit Islam. Misalnya reksadana syariah tidak berinvestasik pada saham-saham atau obligasi dari perusahaan yang pengelolaan atau produknya bertentangan dengan syariat Islam, misalnya: pabrik minuman keras, industri pertenakan babi, jasa keuangan yang melibatkan riba dalam operasionalnya dan bisnis yang mengandung maksiat.

Reksadana syariah dirancang untuk menghimpun dana dari masyarakat (investor) yang mempunyai waktu, pengetahuan dan modal yang terbatas sehingga mampu meningkatkan peran modal lokal mereka. Adanya berbagai jenis reksadana syariah, investor bebas memilih jenis reksadana syariah yang dapat menguntungkan, karena setiap jenis reksadana syariah memiliki kelebihan dan kelemahan.

Menurut Sutedi (2011) jenis-jenis reksadana antara lain: (1) Reksadana pasar uang (money market funds), hanya melakukan investasi pada efek yang bersifat utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 tahun. Tujuannya untuk menjaga likiuditas dan pemeliharaan modal investasi; (2) reksadana pendapatan tetap (fixed income funds), melakukan investasi seku-rang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk efek bersifat utang. Berinvestasi dengan reksadana pendapatan tetap ini memiliki risiko yang relatif besar dibandingkan dari reksadana pasar uang. Tujuan untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil; (3) reksadana saham (equity funds), melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk efek bersifat ekuitas. Sifat investasi dari reksadana saham ini risi-konya lebih tinggi dari dua jenis reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap, namun menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi; (4) reksadana campuran (Mix Funds), reksadana jenis ini melakukan investasi dalam efek bersifat ekuitas dan efek bersifat utang.

Investasi reksadana syariah tidak hanya bertujuan mendapatkan retrun yang tinggi dan tidak melakukan maksimalisasi kesejahteraan yang tinggi terhadap pemilik modal atau investor. Investasi reksadana syariah juga memperhatikan portofolio yang dimiliki investor tetap berada pada aspek investasi pada perusahaan yang memiliki produk halal dan baik yang tidak melanggar aturan syariah.

Selain sesuai dengan aturan syariah, apalagi keuntungan berinvestasi di reksadana syariah? Menurut Sutedi (2011), keuntungan yang diperoleh pemodal atau investor jika berinvestasi melalui reksadana syariah antara lain: (1) Pemodal yang tidak memiliki dana cukup besar untuk berinvestasi, dapat melakukan diversifikasi investasi dalam efek sehingga dapat memperkecil risiko. Reksadana syariah bertujuan untuk dapat membantu instrument di pasar uang maupun pasar modal. (2) Mempermudah pemodal untuk melakukan investasi di pasar modal secara bebas. Pemodal dengan memeliki pemahaman yang baik mengenai investor, lebih mudah untuk menentukan saham-saham yang baik untuk dibeli. (3) Efesiensi waktu. Investor tidak perlu setiap saat memantau kinerja investasinya, karena hal tersebut telah dialihkan kepada manajer investasi.

Mengapa penulis mendorong untuk berinvestasi di reksadana syariah? selain aman dan mudah bagi para pemula, Investasi syariah disebut lebih kebal terhadap efek dari pandemi Covid-19. Deputi bidang Ekonomi Kementrian PPN/Bappenas, Bambang Prijambodo menyampaikan dampak Covid-19 sangat terasa ke semua instrument pasar modal, tapi instrument syariah lebih kebal pada pandemi. “Resistensi instrumen syariah lebih less volatile dibanding saham konvensional, lebih stabil,” katanya dalam Webinar Potensi Pasar Modal Syariah KNEKS, pada Juni lalu.

Bambang mengatakan zona merah hampir terjadi semua sektor. Namun jika melihat kapitalisasi pasar saham dan kinerja pasar saham, indeks syariah lebih tahan dan mencatat kinerja yang lebih baik dari saham konvensional.

Per 19 Juni 2020, Kapitalisasi pasar saham syariah secara year to date (ytd) tercatat -22,39 persen sementara konvensional sebesar -23,55 persen. Kinerja pasar saham syariah (ytd) tercatat -16,33 persen dan saham konvensional jatuh lebih dalam sebesar -20,60 persen.

Pada instrumen surat utang, sukuk juga terpantau lebih tahan dibanding obligasi. Berdasarkan data Indonesia Composite Index, perbandingan pasar sukuk dan konvensional menunjukkan yield pasar sukuk turun 2,5 persen, sementara obligasi turun lebih dalam yakni 4,46 persen.

Di pasar reksa dana juga demikian. Nilai Aktiva Bersih (NAB) produk reksa dana syariah, campuran dan pendapatan tetap terpantau turun dalam tiga bulan terakhir. NAB reksa dana syariah meningkat pada Februari 2020 dan turun kembali pada Maret 2020. Penurunan tercatat satu persen, sementara NAB konvensional turun lebih dalam sebesar 10 persen.

“Dengan bertambahnya risiko, para investor lebih memilih mengalihkan dana investasi dari yang berisiko ke investasi yang lebih aman,” katanya.

Investor juga lebih memilih menarik dananya sementara dan bahkan berhenti investasi sama sekali sampai kembali normal. Padahal, seharusnya Covid-19 tidak menjadi penghalang dalam berinvestasi. Saat ini juga telah banyak muncul aplikasi yang memudahkan kita untuk jual-beli produk reksadana via daring dengan modal mulai dari Rp. 100.000,- yang dapat dilakukan dimana saja. Tak hanya bisa jual-beli, mayoritas aplikasi ini juga menyediakan beragam fitur yang cukup lengkap untuk memudahkan investasi. Selain itu beberapa aplikasi ini juga telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga lebih aman dan terpercaya. Beberapa aplikasi pilihan yang dapat kalian coba diantaranya adalah Ajaib, Bareksa, dan Bibit. Semua aplikasi tersebut telah tersedia di Playstore maupun Appstore dalam ponsel pintar kalian.

Oleh karena itu, Disaat ekonomi mengalami reset dan memulai lagi untuk kembali naik, inilah kesempatan yang tepat bagi kita untuk memulai investasi. Rekasadana syariah yang aman, mudah, dan sesuai dengan aturan syariah merupakan pilihan yang tepat bagi kita yang ingin memulai dan belajar berinvestasi. Selain itu, kita lebih tenang dalam berinvestasi dan insyaallah dana kita menjadi berkah karena terhindar dari riba dan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

 

 

Firmansyah, L. (2020). PENERAPAN DAN PERKEMBANGAN REKSADANA SYARIAH. AKSY: Jurnal Ilmu Akuntansi dan Bisnis Syariah2(1), 67-80.

 

Kandarisa, N. A. (2014). Perkembangan dan Hambatan Reksadana Syariah di Indonesia: Suatu Kajian Teori. Jurnal Akuntansi AKUNESA2(2).

 

OJK.go.id. Portal Transaksi Online. https://reksadana.ojk.go.id/Public/PTOPublic.aspx Diakses pada 25 Oktober 2020.

 

Republika.co.id. 2020. Pasar Modal Syariah Lebih Kebal di Tengah Pandemi. https://republika.co.id/berita/qbx6k9396/pasar-modal-syariah-lebih-kebal-di-tengah-pandemi Diakses pada 25 Oktober 2020.

Leave your message