• 0896-6205-4692 (Bahrul)
  • ksei.febundip@gmail.com

Mosquenterpreneurship Lewat Teknologi Digital dalam Mengoptimalkan Potensi Masjid

Oleh : Wulan Listiani

Masjid adalah rumah atau bangunan tempat bersembahyang orang Islam atau tempat ibadah umat Islam atau Muslim. Masjid artinya tempat sujud, dan sebutan lain bagi masjid di Indonesia adalah musala, langgar atau surau.(KBBI) Bagi umat Islam, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah namun memiliki peran strategis dalam mendorong pengembangan peradaban ummat Islam, salah satunya dalam perekonomian. Selama ini, sejarah telah mencatat masjid Nabawi oleh Rasulullah SAW difungsikan sebagai pusat ibadah, pusat pendidikan dan pengajaran, pusat penyelesaian problematika umat dalam aspek hukum (peradilan), pusat pemberdayaan ekonomi umat melalui Baitul Mal (ZISWAF), pusat informasi Islam, hingga sebagai pusat pelatihan militer dan urusan-urusan pemerintahan Rasulullah, serta fungsi lainnya.

Seiring dengan perkembangan zaman dan derasnya aliran “sekularisasi” dan pandangan hidup “materalisme”, tanpa disadari peranan masjid dalam kehidupan umat Islam semakin menyempit dan bahkan terpinggirkan. Besarnya gelombang sekularisasi yang mempengaruhi pandangan orang terhadap agama, telah menjadikan agama dan lembaga-lembaga agama sebagai pelengkap dalam kehidupan. Pada kenyataannya fungsi masjid yang ada saat ini sebagian besarnya hanya terbatas sebagai tempat ibadah ritual saja. Hal ini berbeda dengan fungsi masjid pada zaman Rasulullah SAW. kecenderungan umat meninggalkan masjid karena mereka merasa masjid tidak memberikan manfaat langsung dalam kehidupan mereka yang semakin komplek. Untuk itu perlu kembali kita mereposisikan masjid sebagai sentral kegiatan umat yang mampu memberikan kontribusi langsung kepada umat.

Berdasarkan data Ditjen Bimas Islam Kemenag menyebutkan jumlah masjid di Indonesia tahun 2020 sebanyak 263.888 buah. Dengan perkiraan potensi penerimaan zakat,infaq,dan sadakah(ZISWAF) sangat besar yang dapat dioptimalkan. Ekonomi potensial masjid yang terkumpul melalui ZIS berdasarkan sampel yang diambil rata-rata sebesar Rp 22.574.920/masjid.Seandainya potensi dana zakat sebesar Rp 217 triliun ini dapat terkumpul, tentunya akan ada beberapa keuntungan dari potensi ekonomi masjid yang dapat dikembangkan, yaitu : 1) dapat membantu pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan, 2) dapat mengurangi ketergantungan pemerintah kepada pinjaman luar negeri untuk program pengentasan kemiskinan, 3) dapat dipergunakan untuk membangun kemandirian ekonomi umat, 4) sangat membantu dalam meningkatkan ketersediaan pembiayaan sektor produktif yang pada gilirannya akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, mengentaskan kemiskinan, bahkan mendorong Indonesia menjadi pusat keuangan syariah dunia.

Mosquenterprenuership merupakan program kerja MES bidang UMKM dan Kewirausahaan dalam rangka untuk membangun kebangkitan ekonomi umat melalui masjid. Dengan melakukan sinergi dengan dewan masjid dan jamaahnya untuk mengembangkan UMKM yang berbasis syariah serta memberikan pendampingan dalam implementasinya.(Diantri, 2017) Strategi untuk meningkatkan peranan tersebut dapat dilakukan dengan lima tahapan yaitu tahapan pertama merupakan tahap sosialisasi peran ekonomi masjid, tahapan kedua peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia,  DKM(Dewan Kemakmuran Masjid) dan pengelola masjid, tahapan ketiga inovasi metode penerapan peningkatan ekonomi berbasis masjid, tahapan keempat implementasi dan tahapan kelima evaluasi dan tindakan perbaikan.

Gambar

Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Berbasis Baitul Mal Masjid

Source: Iqtishoduna p-ISSN: 2252-5661, e-ISSN: 2443-0056

Tahap Sosialisasi peran ekonomi masjid, kebutuhan hidup umat Islam mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali saat ini dipenuhi dari luar lingkaran ekonomi ummat. Oleh karena itu, dalam membangun masjid sebagai kekuatan ekonomi dengan menjadikan para jamaah di masjid sebagai mata rantai ekonomi yang terintegrasi sebagai konsumen, produsen dan pemilik dalam kegiatan ekonomi yang dibangun di masjid. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, DKM, dan pengelola masjid dapat dilakukan dengan mengelola masjid dengan baik sehingga mampu memakmurkan masjid. Pengurus masjid yang kurang memiliki kapabilitas dan kurang berwawasan dalam mengelola harus ditingkatkan dengan pelatihan dan training dari DMI terkait. Pengurus masjid sangat menentukan maju-mundurnya umat Islam. Pengurus masjid yang kurang berwawasan dalam memandang agama Islam sebatas ibadah dan aqidah harus diubah wawasannya. Sehingga harapannya masjid harus dipersiapkan untuk diisi oleh orang yang memahami ibadah dan muamalah, ekonomi Islam serta manajemen masjid melalui Baitul Mal sehingga dengan demikian kebangkitan ekonomi berbasis masjid dapat terwujud. Inovasi metode penerapan peningkatan ekonomi berbasis masjid(Mosquenterprenuership), memfungsikan masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, namun juga pusat ekonomi umat dengan mengembangkan UMKM yang belum ada dan atau sudah ada serta mensupport dengan menggabungkan stakeholder dari pembiayaan, perusahaan financial technology (fintech), platform baik marketing dan accounting yang dapat diakses online. Sehingga ada keberpihakan umat dan RT RW sekitar masjid. Implementasi, dengan tersedia tiga pilar teknologi digital yaitu pembiayaan usaha (fintech), operasional usaha (POS system) dan terhubungnya supply-demand (marketplace) melalui masjid, maka tidak perlu khawatir untuk memulai usaha dan membangkitkan ekonomi ummat. Mosquenterprenuership ini dapat di-roll-out ke masjid-masjid lain di bawah koordinasi MES dengan sinergi berbagai pihak. Evaluasi dan tindakan perbaikan dapat dilakukan dengan melihat hasil dari kegiatan yang telah dilakukan di masjid-masjid yang telah menerapkan hal ini.

Dengan kelima strategi tersebut diharapkan potensi ekonomi masjid yang sangat penting dapat mengembangkan pemberdayaan ekonomi yang bermanfaat bagi segala kalangan. Berdasarkan beberapa indikator potensi ekonomi masjid, maka masjid memiliki potensi ekonomi baik dari segi jumlah dana, jenis dana terhimpun maupun pengelolaan dana tersebut. Ekonomi potensial masjid hendaknya dapat digunakan bukan saja untuk pembangunan masjid tetapi juga dapat digunakan untuk pembangunan ekonomi umat melalui pemberdayaan ekonomi produktif umat yang dilakukan secara selektif.

 

Referensi

Imran, Carolina. 2008. Masjid sebagai Sentral Pemberdayaan Ekonomi Umat. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah.

Muhtadi, “Pemberdayaan Masjid Untuk Pengentasan Kemiskinan”, Republika, 27 September 2006, 1.

Suryanto, A., & Saepulloh, A. (2016). Optimalisasi Fungsi dan Potensi Masjid: Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis Masjid di Kota Tasikmalaya. Iqtishoduna: Jurnal Ekonomi Islam5(2), 1-27.

Erziaty, R. (2015). Pemberdayaan Ekonomi Potensial Masjid Sebagai Model Pengentasan Kemiskinan. AL IQTISHADIYAH JURNAL EKONOMI SYARIAH DAN HUKUM EKONOMI SYARIAH2(2).

Yulianto, Agus. 2017. Membangun Ekonomi Berbasis Masjid Lewat Teknologi Digital dalam https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islamnusantara/17/12/24/p1g3 u2396-membangun-ekonomi-berbasis-masjid-lewat-teknologi-digital diakses pada 18 April 2020.

Body, Bayu. 2019. Potensi ZISWAF di Indonesia Capai Rp 217 Triliun, Hanya Rp 8 Triliun yang Terkumpul dalam https://www .timesindonesia .co.id/read/news/ 237151/potensi-ziswaf-di-indonesia-  capai-rp-217-triliun-hanya-rp-8-triliun-yang-terkumpul  diakses 18 April 2020.

Leave your message