• 0896-6205-4692 (Bahrul)
  • ksei.febundip@gmail.com

Urgensi Penerapan Good Corporate Governance (GCG) dalam Lembaga Keuangan Mikro Syari’ah

Oleh: Falsa Dzaky Arifian

Menurut Pasal 1 (1) Undang-undang No. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro, yang dimaksud dengan LKM adalah lembaga keuangan yang khusus didirikan untuk memberikan jasa pengembangan usaha dan pemberdayaan masyarakat, baik melalui pinjaman atau pembiayaan dalam usaha skala mikro kepada anggota dan masyarakat, pengelolaan simpanan, maupun pemberian jasa konsultasi pengembangan usaha yang tidak semata-mata mencari keuntungan. Selain lembaga keuangan mikro konvensional terdapat juga lembaga keuangan mikro syari’ah. Khusus untuk lembaga keuangan mikro syariah (LKMS), kegiatan yang dilakukannya dalam bentuk pembiayaan, bukan simpanan. Pembiayaan di sini diartikan sebagai penyediaan dana kepada masyarakat yang harus dikembalikan sesuai dengan yang diperjanjikan menurut prinsip syariah (Rasyid, Abdul 2017). LKMS juga wajib membentuk Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas memberi nasihat dan saran kepada direksi atau pengurus, dan mengawasi kegiatan LKM sesuai dengan prinsip syariah (Rasyid, Abdul 2017).

Sebelum lahirnya Undang-undang No. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro, LKMS di Indonesia dikenal dengan nama Baitul Mal wa Tamwil (BMT) atau Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS). BMT atau KSPPS sering disebut juga dengan Balai Usaha Mandiri Terpadu adalah LKM berbadan hukum koperasi yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah dengan tujuan menyediakan permodalan bagi masyarakat usaha mikro dan dan kecil. Saat ini berdasarkan data yang dimiliki oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), sampai dengan akhir tahun 2011, secara umum ada sekitar 187.598 unit koperasi, yang mana sebanyak 71.365 unit merupakan koperasi simpan-pinjam, dan kurang lebih 5.500 unit (7,7%) diantaranya adalah BMT (Rasyid, Abdul 2017). Mengingat pentingnya keberadaan lembaga keuangan mikro dalam meningkatkan perekonomian masyarakat, maka penting untuk memperhatikan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya serta adanya tata aturan organisasi yang baik (CGC).

Menurut Peraturan Menteri BUMN No. Per-01/MBU/2011 tanggal 1 Agustus 2011Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Bahasa Inggris: “Good Corporate Governance” atau disingkat “GCG”), adalah prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha. Penerapan prinsip GCG/tata kelola perusahaan yang baik dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan nilai ekonomi jangka panjang bagi para investor dan pemangku kepentingan (stakeholder). Contoh dari penerapan GCG adalah sistem pengendalian dan pengawasan intern, mekanisme pelaporan atas dugaan penyimpangan, tata kelola teknologi informasi, pedoman perilaku etika, dsb.

Dalam penerapan Good Corporate Governance (GCG) pada LKMS dibutuhkan beberapa prinsip diantarannya Transparency (Tranparansi), Accountability (Akuntabilitas), Responsibility (Bertanggungjawab). Professional (profesional), dan Fairness (Kewajaran). Prinsip ini berguna untuk meningkatkan kinerja LKMS agar semakin berkembang sehingga mampu membantu pengusaha terutama di sekto mikro.

Transparency (Tranparansi) dilakuakan LKMS misalnya dengan Laporan keuangan LKMS dapat diakses melalui website LKMS, dari mulai laporan tahunan, annual report, laporan GCG dan publikasi lainnya. Kemudian dengan tidak semua karyawan dan mitra usaha mengetahui kebijkan operasional perusahaan, dari mulai kebijakan perhitungan bagi hasil, mitra, ketentuan simpanan lainya serta perusahaan sangat terbuka dalam kegiatan tanggung jawabnya, dari mulai kebijakan sampai pengelolaan dana yang dilakukan lembaga. Accountability (Akuntabilitas) dapat dilakukan dengan Teknologi yang sudah memadai dan kejelasan kemitraan bukan hubungan personal melainkan hubungan kelembagaan. Responsibility (Bertanggungjawab) dilakukan dengan LKMS sepenuhnya menerima dan menjalankan apa yang sudah ditetapkan dalam regulasi koperasi syariah, dari mulai kelembagaan, operasional system syariah dan tanggungjawab socialkemudian dana penyetoran simpanan dikelola untuk dijadikan sebagai pembiayan ke nasabah lain dan bagi hasil dari pengelolaan dana tersebut akan di gunakan untuk pengundian hadiah. Professional (profesional) dilakukan dengan setiap bagian pengelola BMT bekerja sesuai objeknya tidak ada suatu tekanan dan dominasi dari pihak lain serta tidak memihak satu sama lain. Lalu, Fairness (Kewajaran) dapat dijalankan LKMS dengan setiap karyawan LKMS memiliki kesamaan dalam budaya perusahaan dari mulai pemenuhan shalat dhuha, dan pemberian materi islami dan setiap operasional LKMS harus disertai hati yang hasanah sehingga menghasilkan kebermanfaatan yang lebih baik dan luas (Huda, Choirul 2018). Apabila prinsip ini dapat dijalankan pastinya akan semakin besar kebermanfaatan LKMS terhadap semua pihak terkait.

Kelimanya prinsip di atas bukan hanya dibutuhkan oleh LKMS, namun juga dibutuhkan lembaga keuanagn lain misalnya Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. Karena keduanya memiliki karakter yang berbeda, LKMS memerlukan lebih banyak interaksi dengan nasabah sehingga dibutuhkan satu prinsip lagi melengkapi GCG yang sudah yaitu Partnership (kemitraan/silaturrahim) (Trimulato, 2018). Prinsip ini akan semakin memperkuat LKMS yang juga bisa dikatakan sebagai salah satu pilar penting dalam proses intermediasi keuangan yang dibutuhkan oleh masyarakat kecil dan menengah guna untuk konsumsi maupun produksi serta juga menyimpan hasil usaha mereka (Rasyid, Abdul 2017).

Referensi

Huda, Choirul. 2018. Penerapan Prinsip GCG ( Good Corporate Governance ) Pada      Produk Si WADIAH ( Simpanan Wajib Berhadiah ) (Studi Kasus Baitul Mal     Wat Tanwil (BMT) Al-Hikmah Ungaran). Semarang: Universitas Islam Negeri            Walisongo.

Rasyid, Abdul. 2017. Sekilas tentang Lembaga Keuangan Mikro Syariah di          Indonesia. Dalam https://business-law.binus.ac.id/2017/03/31/sekilas-tentang- lembaga-keuangan-mikro-syariah-di-indonesia/ diakses pada 5 Maret 2020.

Trimularto. 2018. Good Corporate Governance Bagi Lembaga Keuangan Mikro   Syariah. Jurnal I-Economic Vol. 4. No 2. 141-158.

Leave your message