• 0895-3918-23366 (Firman)
  • ksei.febundip@gmail.com

Pentingnya Zakat di Era Revolusi Industri 4.0

Islam adalah ajaran yang komprehensif yang mengakui hak individu dan hak kolektif masyarakat secara bersamaan. Sistem Ekonomi Syariah mengakui adanya perbedaan pendapatan (penghasilan) dan kekayaan pada setiap orang dengan syarat bahwa perbedaan tersebut diakibatkan karena setiap orang mempunyai perbedaan keterampilan, insiatif, usaha, dan resiko.

Namun perbedaan itu tidak boleh menimbulkan kesenjangan yang terlalu dalam antara yang kaya dengan yang miskin sebab kesenjangan yang terlalu dalam tersebut tidak sesuai dengan syariah Islam yang menekankan sumber-sumber daya bukan saja karunia Allah, melainkan juga merupakan suatu amanah. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengkonsentrasikan sumber-sumber daya di tangan segelintir orang.

Secara teknik, zakat adalah kewajiban financial seorang muslim untuk membayar sebagian kekayaan bersihnya atau hasil usahanya apabila kekayaan yang dimilikinya telah melebihi nishab (kadar tertentu yang telah ditetapkan). Zakat merupakan institusi resmi syari’at Islam untuk menciptakan kesejahteraan sosial-ekonomi yang berkeadilan, sehingga pembangunan ekonomi mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif.

Industri 4.0 menghasilkan “pabrik cerdas”. Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Lewat komputasi awan, layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai nilai.

Seiring dengan dinamika zaman yang terus bergulir hingga berada pada era revolusi industri 4.0, syariat zakat tetap dan terus hidup serta tertanam di dalam setiap jiwa-jiwa orang yang bertaqwa. Bahkan di era revolusi industri 4.0, dukungan teknologi semakin mengukuhkan syariat zakat.

Bagi pergerakan zakat, teknologi yang semakin canggih semakin memudahkan muzaki untuk menunaikan zakat, menguatkan tata kelola zakat dan memberikan akses bagi mustahik terhadap program-program penyaluran zakat. Dengan demikian, ketiga dimensi zakat, yakni dimensi muzaki, tata kelola dan mustahik ikut terdorong dengan adanya revolusi industri 4.0.

Pertama, dimensi muzaki. Dari dimensi muzaki, keberadaan teknologi telah berkontribusi di dalam memudahkan muzaki di dalam menunaikan kewajiban syariat zakat. Di manapun dan kapanpun waktunya, muzaki dapat menunaikan kewajibannya.

Maka dengan kondisi seperti ini, tak ada alasan lagi untuk saat ini bagi wajib zakat untuk tidak menunaikan kewajiban dalam berzakat. “Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?,” begitu Allah SWT berfirman di dalam QS Ar-Rahman.

Kemajuan teknologi saat ini benar-benar harus dioptimalkan untuk meraih keberkahan di dalam menunaikan zakat. Dengan demikian sesungguhnya keberadaan Lembaga Pengelola Zakat yang diamanahkan negara yaitu, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas ), Baznas Provinsi, Baznas Kabupaten/Kota dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) adalah dalam rangka memberikan jaminan dan memberikan kenyamanan serta kemudahan bagi wajib zakat di dalam menunaikan rukun Islam yakni: syariat zakat.

Kedua, dimensi tata kelola. Dari dimensi tata kelola, keberadaan teknologi telah mampu memperkuat tata kelola lembaga pengalola zakat untuk menjalankan proses akuntabilitas dan transparansi kepada stakeholders terkait baik kepada pemerintah, swasta maupun masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Membaiknya akuntabilitas dan transparansi selanjutnya mampu memberian peningkatan terhadap trust para stakeholders sehingga pengumpulan zakat semakin meningkat dan manfaat zakat kepada mustahik semakin dirasakan.

Ketiga, dimensi penyaluran. Dari dimensi penyaluran sebagai acuan utama adalah mustahik zakat yang mencakup 8 (delapan) asnaf sebagaimana tercantum di dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60, yaitu bahwa sesungguhnya zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk membebaskan orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu kewajiban dari Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dengan demikian, dari berbagai faktor-faktor yang telah dijelaskan diatas mengenai peran zakat di era revolusi industri 4.0 ini kita sebagai generasi muslim milenial sudah seharusnya ikut berkontribusi secara maksimal terkait perkembangan teknologi saat ini. Kita bisa belajar, berdiskusi, dan bahkan berkontribusi secara langsung untuk memajukan dan mengembangkan peran zakat di era revolusi industri 4.0 saat ini dan tentunya juga dapat bermanfaat di berbagai sektor lainnya seperti ekonomi, sosial dan pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Bahri, Efri S. 2018. Zakat di Era Revolusi Industri. https://sharianews.com/posts/zakat-di-era-revolusi-industri-40 (diunggah pada 21 September 2019)

https://id.wikipedia.org/wiki/Industri_4.0 (diunggah pada 21 September 2019)

Utomo, Ari. Makalah Fungsi Zakat Untuk Kesejahteraan Umat. https://www.academia.edu/33778764/MAKALAH_FUNGSI_ZAKAT_UNTUK_KESEJAHTERAAN_UMAT.doc (diunggah pada 21 September 2019)

Leave your message