• 0896-6205-4692 (Bahrul)
  • ksei.febundip@gmail.com

Optimalisasi Wakaf sebagai Langkah Membangun Perekonomian Bangsa

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak kekayaan, baik kekayaan secara budaya maupun sumber daya alam. Kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dapat menjadikan kita sebagai negara maju, jika kekayaan tersebut dapat diolah dengan baik oleh sumber daya manusia yang tersedia. Potensi alam yang sering kita jumpai adalah tanah produktif. Pengelolaan tanah yang baik dapat memberikan sebuah peluang untuk membantu perekonomian bangsa.

Di dalam Islam, kita mengenal dan sering mendengar istilah “wakaf”. Wakaf merupakan sedekah jariyah, dimana harta yang kita sedekahkan digunakan untuk kepentingan umat. Harta yang telah diwakafkan tidak boleh dijual, berkurang nilainya, dan tidak boleh diwariskan. Sejatinya, ketika seseorang mewakafkan hartanya, harta tersebut diserahkan kepemilikannya untuk Allah atas nama umat. Ketika kita telah mewakafkan harta, kita akan mendapat empat manfaat, yaitu pahala yang terus mengalir sampai yaumul akhir, mendapatkan surga, bentuk sedekah yang paling mulia, dan instrumen dalam ekonomi untuk mengelola harta untuk usaha produktif dan hasilnya untuk kepentingan umat.

Di Indonesia, wakaf memiliki potensi yang tinggi untuk menyokong perekonomian. Menurut Romdlon Hidayat, wakaf tidak bisa dilepaskan dari instrumen pembangungan ekonomi bangsa ini. Beliau berkata seperti itu berlandaskan pada potensi aset wakaf di Indonesia mencapai Rp. 2.000 triliun. Tidak dapat dielakkan, wakaf dapat memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan bangsa, baik dari pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan aspek sosial lainnya. Contoh yang ada di Indonesia adalah Rumah Sakit Mata Achmad Wardi di Serang, Banten. Rumah sakit ini dibangun di atas tanah wakaf keluarga Achmad Wardi yang diamanahkan kepada BWI dan DD. Keberjalanan wakaf di Indonesia perlu didukung dan diatur dengan undang-undang agar wakaf dapat lebih diterima dan dibiasakan oleh masyarakat.

“Dengan adanya UU Nomor 41/2004 tentang wakaf, diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk membiasakan berwakaf. Karena kami punya slogan ‘siapapun bisa berwakaf’.” kata Romdlon.

Berkaitan dengan sumber daya alam, seperti tanah, dengan skema wakaf dapat diproduktifkan dengan baik. Permasalahannya adalah tanah yang diwakafkan di Indonesia dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan sosial, seperti sekolah dan masjid. Hal tersebut tidaklah dilarang, bahkan sangat dianjurkan. Akan tetapi, harta wakaf dapat dikelola untuk kegiatan atau usaha-usaha produktif. Selain itu, pengetahuan masyarakat mengenai wakaf masih sangat minim. Dr. Fahruroji, Dosen UI dan praktisi wakaf, menyatakan bahwa pemahaman masyarakat tentang wakaf banyak yang keliru dan masih minim sehingga menghambat optimalisasi wakaf produktif. Perlu adanya sosialisasi yang lebih intens dalam mengatasi hal tersebut. Selain sosialiasi, pembelajaran sejak kecil tentang wakaf dapat membantu meminimalisir ketidaktahuan masyarakat. Permasalahan selanjutnya datang dari para Wakif (pemberi wakaf) dan  Nadzir (pengelola wakaf). Mereka masih memahami mekanisme wakaf secara tekstual.  Menurut Drg. Imam, Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi, perlunya Nadzir Partnership dan edukasi kepada para Wakif agar wakaf produktif bisa optimal sehingga bisa menciptakan kesejahteraan umat. Pemahaman yang minim, baik dari masyarakat maupun Wakif dan Nadzir, menyebabkan pengelolaan wakaf secara produktif akan terhambat. Mereka masih berpikiran bahwa wakaf hanya untuk kegiatan sosial. Hal tersebut dapat diatasi dengan pengalihan manfaat tanah dari kegiatan sosial kepada kegiatan produktif. Misalnya, terdapat masjid yang berdiri di atas tanah wakaf yang terdapat di tengah kota dapat direnovasi menjadi pusat perbelanjaan. Terdengar sedikit buruk, seakan-akan masjid tersebut akan hilang dan digantikan oleh pusat perbelanjaan. Akan tetapi, kita tidak akan menghilangkan masjid, melainkan hanya menambahkan pusat perbelanjaan. Jadi, kita bisa melakukan kegiatan sosial dan keagaaman, kita juga mendapatkan manfaat dari kegiatan produktif.

 

Sumber :

http://tabungwakaf.com/pengertian-wakaf/

https://www.kompasiana.com/luliyatul.m/5b0ecbfbdd0fa80d221ead93/optimalisasi-wakaf-produktif-di-indonesia

https://nasional.sindonews.com/read/1272072/15/potensi-aset-wakaf-di-indonesia-capai-rp2000-triliun-1515446944

Leave your message