• 0896-6205-4692 (Bahrul)
  • ksei.febundip@gmail.com

ANALISIS TINGKAT KETERTARIKAN DAN PENGETAHUAN MAHASISWA UNIVERSITAS DIPONEGORO TERHADAP EKONOMI ISLAM (KSEI FEB UNIVERSITAS DIPONEGORO)

 

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Berdasarkan catatan The Pew Forum on Religion & Public Life pada 2010, jumlah  muslim Indonesia mencapai 12,7 persen dari populasi dunia. Menurut hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, tercatat sebanyak 207.176.162 penduduk Indonesia memeluk agama Islam, setara dengan 87,18 persen dari total penduduk Indonesia. Kondisi diatas merupakan sebuah potensi besar bagi Negara Indonesia untuk mengembangkan Halal Industry.

Halal Industry merupakan sebuah industri yang dimana dalam melakukan kegiatannya berdasarkan pada prinsip-prinsip Ekonomi Islam. Ekonomi Islam adalah suatu ilmu yang mengkaji aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya berdasarkan syariat Islam yang berlandaskan pada Al-Quran dan Hadist. Halal Industry tidak bisa berkembang dengan pesat apabila sebagian besar dari pelaku ekonomi di Indonesia tidak memahami tentang ekonomi Islam. Maka dari itu kami melakukan penelitian mengenai seberapa besar tingkat ketertarikan dan pengetahuan mahasiswa yang merupakan salah satu kelompok pelaku ekonomi dan motor penggerak ekonomi masa depan terhadap Ekonomi Islam. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana ketertarikan dan pengetahuan para mahasiswa terhadap Ekonomi Islam khususnya di Universitas Diponegoro. Dengan mengetahui tingkat ketertarikan dan pengetahuan para mahasiswa terhadap Ekonomi Islam maka dapat diprediksi bagaimana perkembangan Ekonomi Islam serta Halal Industry kedepannya.

Penelitian ini dilakukan di Universitas Diponegoro. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dalam mendapatkan data primer ialah dengan menyebar kuesioner kepada mahasiswa, dimana peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaan telah dibuat secara sistematis. Peneliti menyebarkan kuesioner dengan mengambil teknik sampling sebanyak 127 responden.

Dari hasil penelitian yang berupa kuesioner untuk Mahasiswa/i Universitas Diponegoro, 91% dari jumlah koresponden atau sekitar 115 orang mengetahui tentang Ekonomi Islam. Dan sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa Ekonomi Islam adalah suatu sistem perekonomian yang berlandaskan pada syariat Islam dan tidak mengandung unsur riba.

            Selain itu, 84% dari jumlah responden  mengerti apa yang dimaksud dengan riba dan menyebut riba adalah tambahan keuntungan yang telah ditetapkan di awal. Akan tetapi, besarnya pengetahuan mengenai Ekonomi Islam dan riba tidak sebanding dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Persentase penerapan ekonomi islam dalam kehidupan para mahasiswa hanya 43% dan 57% sisanya belum menerapkan Ekonomi Islam dalam kehidupan mereka. Hal ini terbukti ketika mereka ditanya “Apakah masih menggunakan bank konvesional?”  hasil menunjukkan 95% dari responden menjawab masih menggunakan bank konvensional. Alasan yang mereka ajukan pun bermacam-macam namun alasan terbanyak adalah karena bank konvensional mempunyai fasilitas yang lebih mudah dijangkau dibandingkan dengan bank syariah. Mungkin ini dapat menjadi masukan untuk semua lembaga keuangan syariah agar mempeluas aksesnya sampai ke wilayah terpencil. Akan tetapi, 16% dari responden menyatakan sudah memiliki rekening bank syariah. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat kemungkinan beberapa mahasiswa memiliki lebih dari satu rekening bank yang salah satu dari rekening tersebut adalah rekening bank syariah.

Namun, terlepas dari itu semua 94% dari responden mengaku tertarik dengan Ekonomi Islam. Dengan derajat ketertarikan digambarkan pada diagram dibawah ini.

Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pemuda khususnya mahasiswa mengetahui dan mengerti tentang Ekonomi Islam serta segala sesuatu yang dilarang di dalamnya. Akan tetapi, keterbatasan akses dan fasilitas yang menunjang penerapan Ekonomi Islam dalam kehidupan sehari-hari yang masih sangat minim menyebabkan mereka mau-tidak mau harus menggunakan fasilitas yang tidak sesuai dengan Ekonomi Islam. Apabila akses dan fasilitas ini ditingkatkan mungkin akan banyak yang beralih menggunakan fasilitas yang berbau Ekonomi Islam dalam melakukan kegiatan ekonomi mereka, melihat begitu besarnya ketertarikan  meraka terhadap Ekonomi Islam. Maka dari itu marilah kita sebagai pejuang Ekonomi Islam terus mengkampanyekan segala bentuk kegiatan yang akan mendukung perkembangan Ekonomi Islam kedepannya.

Leave your message