• 0858-6827-5728 (Boma)
  • ksei.febundip@gmail.com

Weekly Articles : “Urgensi Etos Kerja Karyawan Muslim Sebagai Pembangkit Energi Kebangkitan Ekonomi Umat Islam Kontemporer” & “Tingkatkan Penerapan Perbankan Syariah di Indonesia”

Urgensi Etos Kerja Karyawan Muslim Sebagai Pembangkit Energi Kebangkitan Ekonomi Umat Islam Kontemporer

oleh : Muhammad Rizal Hidayat

Di zaman seperti saat ini, globalisasi benar-benar telah mengambil alih kemudi dunia ini berikut aspek-aspek yang terkait didalamnya. Tidak terkecuali Indonesia yang saat ini tengah berjuang mengejar ketertinggalan dari negara-negara lainnya. Tidak tanggung-tanggung, hampir seluruh sendi pembangun kehidupan di negara kita (Indonesia) tengah digenjot habis-habisan oleh pemerintah. Satu di antara seluruh sendi pembangun kehidupan di Indonesia yang akan diulas pada weekly article kali ini adalah bidang industri. Mengacu pada Kinerja Ekonomi RI Triwulan III dan IV tahun 2017 yang lalu, bidang industri (migas maupun non-migas) menempati posisi teratas dalam hal sektor ekonomi yang menyumbang kontribusi PDB Indonesia, mengalahkan sektor pertanian, perikanan, peternakan dan lain sebagainya. Sejalan dengan ulasan seputar bidang industri, pengamatan dan sorotan tentu saja tertuju pada karyawan dan etos kerja karyawan. Terlebih, industri yang beroperasi merupakan industri yang berbasis syariah dan dioperasikan oleh manajer dan karyawan muslim pastinya.

Menyikapi etos kerja karyawan muslim, hal ini mutlak dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan kerja yang kompetitif tetapi proporsional. Berikut merupakan karakteristik etos kerja karyawan muslim yang dapat dipelajari dengan saksama :

  1. As-Shalah, yaitu baik dan bermanfaat. Maksudnya adalah seorang karyawan muslim hendaknya mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan dalam pekerjaannya, baik untuk diri sendiri, perusahaan tempat yang bersangkutan mengabdi, masyarakat, dan lingkungan sekitar.
  2. Al-Itqan, yaitu kemantapan secara optimal. Maksudnya adalah orientasi seorang karyawan muslim dalam bekerja selain mengisi pundi-pundi keuangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, juga menjadi kesempatan untuk menambah pahala guna menggapai ridha Allah Swt.
  3. Al-Ihsan, yaitu melakukan sesuatu yang terbaik. Maksudnya adalah Islam menuntut seorang karyawan muslim untuk melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan penuh dengan keseriusan agar dapat memeroleh hasil yang optimal. Tentu saja, seorang karyawan muslim diharapkan dapat memberikan yang terbaik yang mungkin dapat dilakukan olehnya.
  4. Al-Mujahadah, yaitu melakukan segala sesuatunya itu harus dengan sungguh-sungguh dan penuh dengan keseriusan agar dapat memeroleh hasil yang optimal.
  5. Menghargai waktu dan kesempatan, adalah menjadikan setiap kesempatan yang datang sebagai ajang evaluasi dan introspeksi diri agar kedepannya seorang karyawan muslim dapat menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.
  6. Tolong-menolong dan saling berkompetisi untuk meraih prestasi tertinggi.

Melalui penjabaran poin-poin di atas, diharapkan karyawan muslim di Indonesia dapat memahami dan mempraktikkan etos kerja kryawan muslim dalam pekerjaannya. Tentu saja, etos kerja karyawan muslim ini sangat diperlukan untuk memelihara kehormatan diri dan integritas seorang karyawan muslim agar terhindar dari berbagai terjangan isu dan/atau spekulasi mengenaiketenagakerjaan yangsudah barang tentu sangat merugikan bagi karyawan muslim sendirisebab yang demikian itu dapat menghambat daya produktivitas seorang karyawan muslim dalam berkreasi dan berinovasi di sketsa pasar tenaga kerja.

Tingkatkan Penerapan Perbankan Syariah di Indonesia

oleh : Adinda Sabella

Bank syariah pertama kali lahir pada tahun 1991 dan beroperasi secara resmi tahun 1992 di Indonesia. Padahal, pemikiran mengenai hal ini sudah terjadi sejak tahun 1970-an. Pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia dilakukan dalam kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia (API), untuk menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada masyarakat Indonesia. Secara bersama-sama, sistem perbankan syariah dan perbankan konvensional secara sinergis mendukung mobilisasi dana masyarakat secara lebih luas untuk meningkatkan kemampuan pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional.

Sistem perbankan syariah yang ingin diwujudkan oleh Bank Indonesia adalah perbankan syariah yang modern, yang bersifat universal, terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Sebuah sistem perbankan yang menghadirkan bentuk-bentuk aplikatif dari konsep ekonomi syariah yang dirumuskan secara bijaksana, dalam konteks kekinian permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia, dan dengan tetap memperhatikan kondisi sosio-kultural di dalam mana bangsa ini menuliskan perjalanan sejarahnya. Hanya dengan cara demikian, maka upaya pengembangan sistem perbankan syariah akan senantiasa dilihat dan diterima oleh segenap masyarakat Indonesia sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan negeri.

Indonesia termasuk negara di ASEAN yang saat ini lagi gencar mengembangkan sistem perbankan dan keuangan syariah. Industri perbankan syariah di Indonesia lebih banyak digerakkan oleh masyarakat (market driven). Sehingga hasilnya juga berbeda, perbankan syariah saat ini baru memiliki pangsa pasar sekitar 4,8% dari keseluruhan perbankan nasional. Perbankan syariah di Indonesia mengalami momentum percepatan pertumbuhan semenjak disahkannya UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Berbeda dengan negara Malaysia yang menggunakan pendekatan state driven, Malaysia menjadi negara yang paling cepat dalam mengembangkan industri tersebut dengan total pangsa pasar perbankan syariah yang sudah mencapai sekitar 26% dari keseluruhan aset perbankan nasional. Malaysia sudah mengembangkan konsep keuangan syariah semenjak tahun 1963 melalui pendirian Tabung Haji Malaysia.

Dilihat dari perkembangan tersebut, bahwa masyarakat Malaysia dan pemerintahnya sangat mendukung penerapan perbankan syariah, sehingga pertumbuhannya pun begitu cepat. Sedangkan di Indonesia masyarakat masih banyak menggunakan jasa perbankan konvensional. Oleh karena itu seharusnya masyarakat di Indonesia lebih mendukung program pemerintah dalam pengembangan perbankan syariah, dikarenakan mengingat bahwa Negara Indonesia merupakan Negara yang sebagian besar penduduknya Islam. Kita sebagai umat Islam seharusnya menerapkan syariat Islam di segala bidang.

Sesuai dengan Q.S An-Nisa ayat 29 yang memiliki arti “Hai orang-orang beriman,janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela diantara kalian.” Dalam artian ini bisa ditafsirkan bahwasannya bank syariah dalam melaksanakan tugasnya tidak boleh menyeleweng dari ajaran islam (batil) namun harus selalu tolong menolong demi menciptakan suatu kesejahteraan. Kita tahu banyak sekali tindakan-tindakan ekonomi yang tidak sesuai dengan ajaran islam hal ini terjadi karena beberapa pihak tidak tahan dengan godaan uang serta mungkin mereka memiliki tekanan baik kekurangan dalam hal ekonomi atau yang lain, maka bank syariah harus membentengi mereka untuk tidak berbuat sesuatau yang menyeleweng dari islam.

Daftar Pustaka :

Abdullah, R. Mohamed. Development of Islamic Banking in Malaysia. KLRC Newsletter January 2011.

Ali Rama. Analisis Deskriptif Perkembangan Perbankan Syariah di Asia Tenggara : The Jounal of Tauhidinomics Vol.1 No. 2. 2015: 105-128.

Leave your message