• 0858-6827-5728 (Boma)
  • ksei.febundip@gmail.com

Weekly Articles : ” Halal Lifestyle untuk Kehidupan yang Lebih Baik ” & ” Jangan Utang Bank, Riba ! KJKS Saja “

Halal Lifestyle untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Islam merupakan agama yang sungguh luar biasa sempurnanya, karena setiap aktivitas kita telah Allah SWT atur dalam agama yang di ridhoi-Nya yaitu Islam.
Sehingga setiap aktivitas kita itu mengandung sebuah keberkahan dan kemashlahatan bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat, karena setiap aktivitas kita jika diniatkan untuk meraih ridhonya maka itu tentunya akan menjadi nilai ibadah dimata Allah SWT.
Di Zaman Modern ini , banyak muslim muslim yang mulai lupa dengan jatidiri nya sebagai muslim , yang pantang akan hal hal haram . Hal itu disebabkan karena kemajuan zaman dan kurangnya Pengetahuan tentang Syariah itu sendiri.
Maka dari itu , kita sebagai Agen agen perubahan patutnya memberi sumber sumber pengetahuan tentang Gaya hidup Halal.
Halal lifestyle atau disebut juga dengan “gaya hidup halal”, adalah pola hidup seseorang yang dinyatakan dalam kegiatan atau aktivitas yang halal, minat dan pendapatnya dalam membelanjakan uangnya untuk makan, minum dan kesenangan lainnya secara halal dan bagaimana mengalokasikan waktu juga secara halal.
Gaya hidup halal atau Halal Lifestyle kian berkembang beberapa tahun belakangan ini. Perkembangannya mencakup 10 sektor, diantaranya makanan, fashion, kosmetik, pariwisata, hotel, finance, dan lainnya.

Halal lifestyle juga memiliki banyak manfaat atau keuntungan yang bisa diperoleh , diantaranya bisa membawa ketenangan dalam kehidupan sehari hari , bisa menjaga kesehatan jasmani maupun rohani , dan juga bisa menambah ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, penerapan halal lifestyle penting dalam meningkatkan pencegahan diri terhadap hal hal kecil yang mungkin haram untuk masyarakat muslim itu sendiri. Karena muslim setidaknya harus berprinsip hidup islam dalam hal kecil sekalipun.
Wallahu a’lam bi al-showab

Ditulis Oleh Alfathur Rio Tri Sadewo

Jangan Utang Bank, Riba ! KJKS Saja

Menurut data struktur ekonomi Indonesia masih didominasi oleh para pelaku usaha mikro dan kecil, dengan 51,3 juta unit atau 99,79% dari seluruh unit yang ada. Dengan perkembangan usaha mikro dan kecil, maka lembaga keuangan seperti koperasi amat berpeean penting dalam mendukung perkembangannya. (BPS : 2015) Sistem koperasi di Indonesia sendiri terbagi menjadi 2 yaitu sistem koperasi konvensional dan sistem koperasi syariah salah satunya KJKS.
Koperasi Jasa Keuangan Syariah merupakan realisasi atas keperdulian pemerintah untuk berperan memberikan payung hukum atas kenyataan yang tumbuh subur dalam masyarakat ekonomi Indonesia terutama dalam lingkungan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. (Kepmen-neg KUKM RI No 91/Kep/IV/KUKM/IX : 2004). Total koperasi simpan pinjam (KSP)/usaha simpan pinjam (USP), koperasi dan koperasi kredit di Indonesia sebanyak 71.365 unit. Dari jumlah itu, sebesar 3,52% merupakan KJKS/usaha jasa keuangan syariah (UJKS) atau sebanyak 2.508 unit. Total aset KJKS/UJKS ini mencapai Rp 13,23 triliun. Padahal, total aset KSP sendiri hanya Rp 18,72 triliun. (Kemen KUKM : 2011)
. Faktanya Indonesia memiliki tingkat perkembangan yang sangat signifikan dan dinamis. Hal ini ditunjukan dengan beberapa indicator operasional seperti asset, funding, financing, maupun jumlah karyawan mengalami pertumbuhan. Bahkan dunia perbankan banyak yang melakukan kerja sama dengan KJKS guna menyalurkan pembiayaan kepada UMKM. Pada tahun 2010 diketahui bahwa sekitar 5200 KJKS serta mempunyai 10 juta nasabah, sedangkan untuk wilayah penyebaran wilayah jawa masih mendominasi dengan jawa barat sebanyak 637 KJKS, jawa tengah 513 dan jawa timur sebanyak 600. (BPS : 2015)

Dana yang terkumpul dari simpanan tersebut lalu diolah dengan cara disalurkan melalui produk pembiayaan dan jasa. Berbeda dengan koperasi biasa yang menggunakan bunga konsep pembiayaan pada koperasi jasa keuangan mengunakan sistem kesepakatan dan bagi hasil dengan menggunakan akad mudharobah, musyarokah, dan syirkah. (Pariaman Sinaga : 2011) Sistem bagi hasil merupakan pengaplikasian dari konsep ekonomi syariah yang berupaya keras menghindari riba. Pada Sistem Bagi Hasil, yang dibagi adalah keuntungan yang diperoleh oleh peminjam yang menjalankan usaha. Setiap keuntungan yang ada di bagi berdasarkan kesepakan dengan pihak KJKS. Pada Sistem Bagi Hasil pun terdapat pembagian resiko , dimana apabila usaha dari si peminjam mengalami kerugian maka pihak KJKS juga ikut bersama-sama menanggung kerugian tersebut dengan syarat kerugian tersebut bukan disebabkan karena kelalaian, kesalahan, atau kesengajaan dari pihak peminjam. (Surabaya : KJKS MBS 2013) KJKS mempunyai kelebihan dibanding lembaga keuangan konvensional lainnya dintaranya :
1. Sistem dan kinerja KJKS berpegang pada prinsip dasar yang berlandaskan Syariah.
2. KJKS menjauhkan dari system riba, maysir, gharar : yang melanggar prinsip fiqh alghunmu bil ghurmi (keuntungan muncul bersama resiko) atau al kharaj bi dhaman (hasil muncul bersama beban) yaitu dengan system bagi hasil.
3. Dengan menitipkan dan di KJKS dana aman, bermanfaat dan Insya Allah barokah.
4. Pelayanan maksimal, siap mengambil dan mengantar.
Dengan begitu KJKS sebagai lembaga keuangan mikro syariah berperan sebagai pilar ekonomi ditengah masyarakat,karena keberadaan KJKS ditengah masyarakat mampu memberdayakan perekonomian kerakyatan dengan usaha kecil dan menengah. Dan perkembangan usaha kecil merupakan gambaran dari suatu masyarakat yang produktif, dimana masyarakat dapat menunjukan keahlian serta kemandiriannya. Tidak hanya itu, usaha-usaha kecil ini juga dapat membantu pemerintah dalam penyerapan tenaga kerja yang selama ini menjadi masalah dalam pemerintahan karena usaha dengan mengurangi angka pengangguran dengan meningkatkan kesempatan kerja. (Jakarta: PT Bank Muamalat Indonesia, 1998), 45.
Krisis perekonomian yang sering menjadi alibi dalam memburuknya keadaan perekonomian nasional. Namum, tersebarnya usaha kecil di berbagai daerah dengan berbagai jenis usaha dalam bentuk barang dan jasa dapat menjadi sebuah peluang yang wajib diperhitungkan untuk memulihkan perekonomian saat ini yang sedang di ambang kehancuran. Hal ini dikarenakan usaha kecil bergerak di lapisan bawah ekonomi yang bergerak langsung di masyarakat.
Oleh karena itu sangat disarankan untuk mengembangkan KJKS di setiap daerah yang ada untuk membantu menuntaskan masalah perekonomian kelas kecil dan menengah di daerah dengan landasan syariah yang sangat dianjurkan oleh agaa Islam karena menghindari dan menolak keras riba. Sekalipun KJKS menggunakan konsep syariah yang cenderung identik dengan umat islam, bukan berarti hanya masyarakat muslim saja yang bisa bergabung menjadi anggota dan menggunakan jasa KJKS. KJKS dan konsep syariah yang digunakan bisa dinikmati oleh umat manapun tak memandang agama dan suku karena pada dasarnya konsep syariah adalah konsep ekonomi yang universal yang berkeadilan.
Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt. :

وَمَآءَاتَيْتُم مِّن رِّبًا لِيَرْبُوا فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلاَ يَرْبُوا عِندَ اللهِ وَمَآءَاتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللهِ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia. Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).” (Q.S. Ar Rum: 39).

Ditulis oleh Abdul Rouf

Leave your message