• 082280336808 (Maryam)
  • ksei.febundip@gmail.com

Ekonomi Islam : Pelumas Dalam Menciptakan Kesejahteraan dan Keadilan

Ekonomi Islam atau Ekonomi Syariah adalah sebuah sistem yang telah berkembang sejak zaman Rasulullah SAW dan diteruskan oleh para khalifah yang menggantikan beliau. Ekonomi syariah membawa dampak yang sangat baik bagi ummat pada saat itu. Contohnya, saat zamankekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, tidak ada yang mau menerima zakat karena semua warganya dapat digolongkan sebagai warga yang mampu. Begitupun didalam Baitul Maal wat Tammil (Rumah Harta) saat itu juga sangat penuh. Itu artinya masyarakat saat itu memeroleh kesejahteraan secara adil dan merata.

Namun, peran ekonomi islam sempat meredup dikala jatuhnyakekhalifahan utsmani ke tangan sekulerisme oleh Mustafa Kamal Attarturk. Sistem ekonomi dikuasai oleh kapitalis yang sangat merugikan rakyat yang kurang mampu. Karena, pada prinsipnya, kapitalisme hanya menyejahterakan masyarakat yang memiliki modal yang besar atau notabenenya adalah masyarakat yang kaya.

Kondisi tersebut sangat menggambarkan situasi perekonomian Indonesia yang sangat tidak stabil. Dimana kesenjangan sosial yang sangat tinggi menyebabkan lambatnya pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Dibuktikan dengan di tahun 2015, menurut laporan dari Bank Pembangunan Asia (ADB) bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia hanya mencapai 4,8% pada akhir tahun, jauh dari target yaitu sebesar 5,3%.

Hal itu disebabkan karena rendahnya ekspor dan juga investasi di Indonesia. Faktor tingginya bunga dari bank pemberi pinjaman adalah salah satu alasan mengapa para pengusaha sulit untuk berkembang dan berinvestasi karena takut akan beban hutang yang tinggi akibat dari bunga yang diberikan. Maka dari itu, diperlukan pengelolaan peminjaman dana yang menggunakan prinsip syariah agar tidak menguntungkan satu pihak saja.

Atas berbagai permasalahan tadi, diperlukan sebuah solusi untuk mengatasinya. Untuk itulah kembali dikembangkan sistem ekonomi islam yang diharapkan dapat mengatasi berbagai persoalan ekonomi. Salah satunya adalah konsep ekonomi islam yang tidak mengenal bunga atau riba. Melainkan diganti oleh bagi hasil ataumudharabah, sehingga menguntungkan kedua belah pihak. Hal itu juga menjadi solusi bagi pengusaha menengah untuk terus mengembankan bisnisnya karena tidak ada bunga yang memberatkan.

Ekonomi islam kembali dikembangkan pertama kali di dunia adalah di Mesir pada tahun 1962 olehIslamic Development Bank (IDB) dan dilanjutkan oleh beberapa negara setelahnya. Hingga akhirnya sampai di Indonesia pada tahun 1992 oleh Bank Muamalat. Perkembangannya di Indonesia cukup pesat dan diikuti oleh munculnya berbagai bank syariah yang menganut dual banking system salah satunya adalah Bank Mandiri Syariah.

Meskipun belum 100% menganut sistem syariah, namun kehadiran bank tersebut telah memberikan angin yang cukup segar bagi perkembangan perekonomian di Indonesia. Salah satunya dengan munnculnya berbagai instrumen yang mendukung ekonomi islam, seperti surat berharga syariah, asuransi syariah, deposito syariah dan sebagainya. Hal itu membuat para pengusaha semakin nyaman dengan sistem ini. Bahkan, banyak pengusaha non muslim yang turut menikmati hasil dari sistem perekonomian ini.

Pakar-pakar ekonomi islam pun mulai muncul, seperti Dr. Syafiin Antonio yang sangat konsen dan mendukung sistem ini, diikuti dengan munculnya kurikulum dan jurusan ekonomi islam di berbagai universitas guna mendukung dan mensosialisasikan sistem ini. Karena ekonomi islam bagaikan sebuah mata air yang hadir ditengah ancaman kapitalisme yang terus menyudutkan rakyat kecil. Kesadaran masyarakat akan pentingnya ekonomi islam sangatlah dibutuhkan agar semakin banyak yang tersadarkan dengan begitu menguntungkannya sistem ini.

Di Indonesia saja, praktek ekonomi islam diwujudkan dengan banyaknya UU yang mengatur perekonomian syariah dan berbagai instrumennya. Hal tersebut adalah bentuk apresiasi dari pemerintah untuk mengaplikasikan sistem ini. Harapannya, sistem ini dapat terus disosialisasikan agar masyarakat tersadar bahwa ekonomi islam bukanlah sebuah kampanye agama, melainkan sebuah sistem yang bertujuan untuk menyejahterakan seluruh masyarakat dengan nilai-nilai islam yang adil, sejahtera dan menjunjung kemakmuran.

Instrumen ekonomi islam tersebut juga dapat menjadi sebuah solusi dalam menyelesaikan permasalahan di negeri ini. Contohnya saja, dengan adanya wakaf produktif maka tanah wakaf dapat dibangun dengan apartemen yang keuntungannya dapat disalurkan kepada masyarakat yang kurang mampu. Atau wakaf tunai yang mampu menyelesaikan permasalahan infrastruktur yang belum merata.

Dengan diterapkannya sistem ini, diharapkan para pengusaha akan semakin tergugah untuk membangun usaha dengan karena tidak dibebankan bunga ketika meminjam modal usaha. Dengan hal itu, produktivitas akan semakin meningkat sehingga semakin banyak pengusaha yang lahir dan mendukung pertumbuhan perekonomian nasional.

Diharapkan, implementasi dari sistem ekonomi islam yang menjunjung tinggi kesejahteraan dan pemerataan masyarakat mampu diimplementasi dan mampu bertransformasi dengan nilai-nilai pancasila yang telah ada di Indonesia. Karena, pada prinsipnya, ekonomi islam memberikan kesempatan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mampu mencapai kesejahteraannya sesuai dengan pancasila ayat kelima yang berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

Ditulis oleh
Naufal Haidar Farras
Staff Divisi Acara Departemen Kajian dan Penelitian Kelompok Studi Ekonomi Islam FEB Universitas Diponegoro periode 2016-2017

Leave your message