• 082280336808 (Maryam)
  • ksei.febundip@gmail.com

Ekonomi Islam dalam Perspektif Pembangunan Masa Depan

Ekonomi berasal dari bahasa yunani “oikos” yang berarti rumah tangga, keluarga dan “nomos” yang berarti peraturan, aturan, hukum. Secara garis besar, ekonomi diartikan sebagai “aturan rumahtangga” atau “manajemen rumah tangga”. Seperti yang kita ketahui ekonomi merupakan salahsatu hal yang memiliki pengaruh besar atas suatu aturan bahkan subuah tatanan pemerintahan (komunis dan liberalis misalnya).

Dalam bidang ekonomi Islam, seseorang tidak boleh memaksakan diri berhutang sebelum ia meninjau terlebih dahulu kekayaan yang dimilikinya, masih cukup atau memang tidak mencukupi. Demikian pula halnya dengan negara; suatu negara tidak boleh mengimpor barang dari negara lain sebelum ia meninjau kekayaan yang dimilikinya, dan juga kemampuan yang ada padanya. Bercermin dari hal ini, kita bisa bertanya: Tidakkah kekayaan jiwa, kekayaan pemikiran, dan kekayaan hati itu bisa dibangun, sebagaimana halnya kekayaan material yang ada pada diri manusia?

Pasti bisa! Apa lagi kita berada di negara Indonesia yang mayoritas masyarakat muslim. Kekayaan sumber daya dan modal semangat kita tidak akan tumbang jika kita tidak berfikir untuk meng impor prinsip-prinsip dan ideologi yang dibuat oleh makhluk yang memiliki keterbatasan berfikir. Seseorang bertanya mengapa islam dikatakan agama rahamatan lil alamin namun penganutnya kebanyakan terihat miskin, menderitan dan bodoh(jumud), sedangkan orang nonislam – yahudi misalnya – justru menjadi sekelompok orang yang kaya dan bahkan hampir menguasai berbagai sektor ekonomi dunia. Masalah apa yang terjadi disini?, Masalah yang membuat orang-orang berfikir agama hanya sebuah praktik ritual peribadatan dan harus terlepas dari sendi-sendi kehidupan sosial kemasyarakatan. Agama islam ini bersifat sempurna dan tidak memiliki kecacatan apapun, sedangkan muslim dalah seorang makhluk – yaitu manusia yang memiliki kekurangan. Seseorang yang mengamalkan Islam secara keseluruhan maka ia akan dekat dengan kesempurnaan. Jika anda tidak percaya kenapa tidak anda buktikan sendiri dengan mengamalkan ajaran islam secara keseluruhan.

Jikalau ada satu saja golongan masyarakat yang didalamnya menerapkan prinsip-prinsip syariat secara syummul/keseluruhan, maka yang akan didapati oleh sekelompok masyarakat tersebut adalah sebuah kemakmuran, kesejahteraan dan tonggak kemajuan peradaban, salah satu buktinyata adalah ketikka dinasti abasiyah tengah berada pada puncak kejayaan. Ketika seluruh syaria’at-syariat islam ditegakkan, dinasti abasiyah memiliki kekuatan politik, kekuatan militer yang kokoh dan menjadi pusat dari peradaban dunia pada masa itu.

Mari kita jadikan potensi ummat yang besar ini, sekaligus pedoman yang sempurna ini yaitu al-qur’an sebagai alat untuk mencapai kejayaan, kesuksesan dan pembangunan tatanan dunia dimasa depan menjadi lebih baik.

Wallahu a’lam bisawwab.

Daftar pustaka :
https://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi
Sayyid Quthb. 1984. Keadilan Sosial dalam Islam. PUSTAKA-Perpustakaan Institut Teknologi Bandung: Bandung.
PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI ABBASIYAH

Ditulis oleh
Khoirun nisa
S1-Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan angkatan 2016 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Leave your message