• 0858-6827-5728 (Boma)
  • ksei.febundip@gmail.com

Category ArchiveArtikel

Mengenal Islamic Fintech dan Peluangnya

Apa itu FinTech?
Ada sebuah industri baru bernama financial technology atau FinTech. Keberadaan FinTech bertujuan untuk membuat masyarakat lebih mudah mengakses produk-produk keuangan, mempermudah transaksi  dan juga meningkatkan literasi keuangan. Perusahaan-perusahaan FinTech Indonesia didominasi oleh perusahaan startup dan berpotensi besar.

Fintech bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk transaksi komersial akan tetapi juga bisa dipakai untuk dunia sosial. Kebanyakan untuk yang komersial berada pada bidang investasi sedangkan yang sosial lebih pada bentuk corwdfunding dana untuk berbagi kegiatan. Namun dalam tulisan kali ini akan lebih difokuskan pada Fintech untuk komersial yang berkaitan prospek dan peran Islamic Fintech dalam dunia UMKM. Secara garis besar yang diusung oleh penggerak Islamic Fintech tidak jauh beda dengan keuangan syariah pada umumnya yaitu terhindar dan terbebas dari sistem ribawi dan menuju sistem profit and loss sharing.

Memang belum ada definisi baku untuk Islamic Fintech bahkan Fintech itu sendiri. Namun begitu, secara singkat Islamic Fintech dapat di artikan sebagai teknologi keuangan yang berbasis syariah. Artinya akad (kontrak) dan prosesnya sesuai dengan prinsip prinsip syariah.

Dalam skala global Islamic Fintech Alliance (IFA) telah dibentuk baru baru ini. Aliansi Islamic Fintech ini bertujuan membangun trust sesama penggerak crowdfunder muslim, dan meningkatkan inovasi inovasi berbasis syariah. Jika kita lihat terdapat beberapa Islamic Fintech yang beroperasi di Indonesia. Setidaknya, Islamic Fintech yang beroperasi di Indonesia bisa di bedakan menjadi dua kategori jika dilihat dari sasarannya.
Pertama adalah Fintech yang menyasar seluruh UMKM.

Kedua, Fintech yang memang menyasar niche market. Sebagai contoh Fintech yang berak khusus di bidang real estate terdapat ethiscrowd.com. Dengan Slogan “the world’s first Real Estate Islamic Crowdfunding Platform”, ethiscrowd berusaha membangun perumahan sederhana untuk rakyat. Crowdfunding syariah merupakan sebuah aset keuangan syariah karena berpotensi mengisi kesenjangan di industri.

Islamic Fintech juga merambah pertanian. Igrow.asia membuat terobosan baru dalam dunia investasi dibidang pertanian. Investor dapat memantau investasi mereka, tapi juga bisa merasakan senangnya menumbuhkan dan melihat perkembangan tanaman yang mereka danai.

Tantangan islamic fintech, Peluang mengembangkan Islamic Fintech untuk menfasilitasi UMKM masih terbuka lebar,namun memiliki tantangan, ada dua tantangan besar yang dihadapi oleh Islamic Fintech. Pertama adalah terkait aturan hukum. Ganjalan ini dirasakan oleh Islamic Fintech maupun Fintech pada umumnya. Selama ini belum ada aturan khusus dari lembaga otoritas jasa keuangan yang mengatur Fintech. Kedua, kaitannya dengan social trust. Fintech harus mampu menyakinkan pengguna baik dari sisi investor maupun penerima manfaat dari investasi. Tidak jauh beda dengan perbankan investor juga harus diyakinkan dengan keamanan dana yang mereka investasikan, dan harus Mampu Menjaga prinsip prinsip syariah dalam operasinya. Sebagai solusinya, perlu adanya dewan pengawas syariah (DPS) yang kompeten dalam bidang ini diperlukan untuk menjaga kepatuhan syariah tersebut.

Ditulis oleh
Anggun Setia Dewi
Staff Divisi Kajian Departemen Kajian dan Penelitian Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Ekonomi Islam : Pelumas Dalam Menciptakan Kesejahteraan dan Keadilan

Ekonomi Islam atau Ekonomi Syariah adalah sebuah sistem yang telah berkembang sejak zaman Rasulullah SAW dan diteruskan oleh para khalifah yang menggantikan beliau. Ekonomi syariah membawa dampak yang sangat baik bagi ummat pada saat itu. Contohnya, saat zamankekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, tidak ada yang mau menerima zakat karena semua warganya dapat digolongkan sebagai warga yang mampu. Begitupun didalam Baitul Maal wat Tammil (Rumah Harta) saat itu juga sangat penuh. Itu artinya masyarakat saat itu memeroleh kesejahteraan secara adil dan merata.

Namun, peran ekonomi islam sempat meredup dikala jatuhnyakekhalifahan utsmani ke tangan sekulerisme oleh Mustafa Kamal Attarturk. Sistem ekonomi dikuasai oleh kapitalis yang sangat merugikan rakyat yang kurang mampu. Karena, pada prinsipnya, kapitalisme hanya menyejahterakan masyarakat yang memiliki modal yang besar atau notabenenya adalah masyarakat yang kaya.

Kondisi tersebut sangat menggambarkan situasi perekonomian Indonesia yang sangat tidak stabil. Dimana kesenjangan sosial yang sangat tinggi menyebabkan lambatnya pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Dibuktikan dengan di tahun 2015, menurut laporan dari Bank Pembangunan Asia (ADB) bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia hanya mencapai 4,8% pada akhir tahun, jauh dari target yaitu sebesar 5,3%.

Hal itu disebabkan karena rendahnya ekspor dan juga investasi di Indonesia. Faktor tingginya bunga dari bank pemberi pinjaman adalah salah satu alasan mengapa para pengusaha sulit untuk berkembang dan berinvestasi karena takut akan beban hutang yang tinggi akibat dari bunga yang diberikan. Maka dari itu, diperlukan pengelolaan peminjaman dana yang menggunakan prinsip syariah agar tidak menguntungkan satu pihak saja.

Atas berbagai permasalahan tadi, diperlukan sebuah solusi untuk mengatasinya. Untuk itulah kembali dikembangkan sistem ekonomi islam yang diharapkan dapat mengatasi berbagai persoalan ekonomi. Salah satunya adalah konsep ekonomi islam yang tidak mengenal bunga atau riba. Melainkan diganti oleh bagi hasil ataumudharabah, sehingga menguntungkan kedua belah pihak. Hal itu juga menjadi solusi bagi pengusaha menengah untuk terus mengembankan bisnisnya karena tidak ada bunga yang memberatkan.

Ekonomi islam kembali dikembangkan pertama kali di dunia adalah di Mesir pada tahun 1962 olehIslamic Development Bank (IDB) dan dilanjutkan oleh beberapa negara setelahnya. Hingga akhirnya sampai di Indonesia pada tahun 1992 oleh Bank Muamalat. Perkembangannya di Indonesia cukup pesat dan diikuti oleh munculnya berbagai bank syariah yang menganut dual banking system salah satunya adalah Bank Mandiri Syariah.

Meskipun belum 100% menganut sistem syariah, namun kehadiran bank tersebut telah memberikan angin yang cukup segar bagi perkembangan perekonomian di Indonesia. Salah satunya dengan munnculnya berbagai instrumen yang mendukung ekonomi islam, seperti surat berharga syariah, asuransi syariah, deposito syariah dan sebagainya. Hal itu membuat para pengusaha semakin nyaman dengan sistem ini. Bahkan, banyak pengusaha non muslim yang turut menikmati hasil dari sistem perekonomian ini.

Pakar-pakar ekonomi islam pun mulai muncul, seperti Dr. Syafiin Antonio yang sangat konsen dan mendukung sistem ini, diikuti dengan munculnya kurikulum dan jurusan ekonomi islam di berbagai universitas guna mendukung dan mensosialisasikan sistem ini. Karena ekonomi islam bagaikan sebuah mata air yang hadir ditengah ancaman kapitalisme yang terus menyudutkan rakyat kecil. Kesadaran masyarakat akan pentingnya ekonomi islam sangatlah dibutuhkan agar semakin banyak yang tersadarkan dengan begitu menguntungkannya sistem ini.

Di Indonesia saja, praktek ekonomi islam diwujudkan dengan banyaknya UU yang mengatur perekonomian syariah dan berbagai instrumennya. Hal tersebut adalah bentuk apresiasi dari pemerintah untuk mengaplikasikan sistem ini. Harapannya, sistem ini dapat terus disosialisasikan agar masyarakat tersadar bahwa ekonomi islam bukanlah sebuah kampanye agama, melainkan sebuah sistem yang bertujuan untuk menyejahterakan seluruh masyarakat dengan nilai-nilai islam yang adil, sejahtera dan menjunjung kemakmuran.

Instrumen ekonomi islam tersebut juga dapat menjadi sebuah solusi dalam menyelesaikan permasalahan di negeri ini. Contohnya saja, dengan adanya wakaf produktif maka tanah wakaf dapat dibangun dengan apartemen yang keuntungannya dapat disalurkan kepada masyarakat yang kurang mampu. Atau wakaf tunai yang mampu menyelesaikan permasalahan infrastruktur yang belum merata.

Dengan diterapkannya sistem ini, diharapkan para pengusaha akan semakin tergugah untuk membangun usaha dengan karena tidak dibebankan bunga ketika meminjam modal usaha. Dengan hal itu, produktivitas akan semakin meningkat sehingga semakin banyak pengusaha yang lahir dan mendukung pertumbuhan perekonomian nasional.

Diharapkan, implementasi dari sistem ekonomi islam yang menjunjung tinggi kesejahteraan dan pemerataan masyarakat mampu diimplementasi dan mampu bertransformasi dengan nilai-nilai pancasila yang telah ada di Indonesia. Karena, pada prinsipnya, ekonomi islam memberikan kesempatan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mampu mencapai kesejahteraannya sesuai dengan pancasila ayat kelima yang berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

Ditulis oleh
Naufal Haidar Farras
Staff Divisi Acara Departemen Kajian dan Penelitian Kelompok Studi Ekonomi Islam FEB Universitas Diponegoro periode 2016-2017

Pendidikan Ekonomi Syariah Sebagai Instrumen Untuk Meningkatkan Pembangunan Ekonomi Negara

Di Indonesia saat ini pekermbangan pendidikan ekonomi syariah sudah mulai berkembang cukup pesat. Hal ini ditandai dengan munculnya program studi di berbagai perguruan tinggi baik yang berada di bawah naungan Kementerian Agama ataupun berada di bawah nauangan Kementerian Riset, Teknogi dan Pendidikan Tinggi. Tidak hanya program studi, ada juga berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh beberapa organisasi berkaitan dengan ekonomi syariah.
Meskipun relaif banyak yang sudah memfasilitasi terkait dengan pendidikan ekonomi syariah, namun masih terdapat permasalahan yang berkaitan dengan hal tersebut. Permasalahan ini terkait dengan kualitas pendidikan ekonomi syariah yang masih perlu ditingkatkan guna menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk itu diperlukan sejumlah langkah stategis guna meningkatkan kualitas pendidikan ekonomi syariah sehingga pendidikan ekonomi syariah terutama di Indonesia memiliki daya saing di dunia internasional.
Salah satunya yaitu perlunya peningkatan kualitas kurikulum pendidikan ekonomi syariah. Cara penyelesaian hal tersebut diantaranya perlunya standarisasi kurikulum pendidikan ekonomi syariah, baik yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi maupun lembaga atau organisasi yang ada. Selain itu, alangkah baiknya jika kurikulum pendidikan ekonomi syariah dapat disesuaikan ataupun beradaptasi dengan perkembangan masa. Untuk itu diperlukan adanya koordinasi antara pemerintah dengan berbagai lembaga ataupun organisasi yang ada guna melalukan evaluasi untuk kemudian menysusun aturan yang terkait dengan kurikulum pendidikan ekonomi syariah tersebut.
Namun, disisi lain tidak hanya kurikulum pendidikan ekonomi syariah saja yang perlu diperbaiki. Pihak lembaga ataupun organisasi yang telah memfasilitasi pendidikan ekonomi syariah juga harus memastikan kualitas sumber daya tenaga pendidik yang ada. Jika tenaga pendidik memiliki kualitas sumber daya manusia yang bagus, tentu hal ini akan berpengaruh pada sumber daya yang akan dididik olehnya nanti.
Selain itu diperlukan adanya dukungan dari pemerintah terkait dengan perkembangan pendidikan ekonomi syariah, misalnya saja melalui penyediaan fasilitas penunjang guna meningkatkan kualitas pendidikan ekonomi syariah yang ada. Dengan adanya fasilitas yang lengkap, yangmana disediakan oleh pemerintah diharapkan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pendidikan akan menjadi lebih mudah, sebagai contoh fasilitas yang disediakan pemerintah untuk mempermudah penelitian – penelitian yang ada pada perguruan tinggi, hal ini tentunya akan meningkatkan kualitas dari pendidikan itu sendiri.
Selain itu perlu adanya koordinasi dengan dunia industri sebagai sarana untuk mengaplikasikan perkembangan ekonomi syariah yang ada. Dunia industri seperti yang kita tahu bahwasannya dunia industri juga memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan perekonomian, salah satunya adalah yang menerapkan sistem ekonomi syariah, yang pada dasarnya tentu saja memerlukan sumber daya yang berkualitas, salah satunya sumber daya manusia. Industri ini tidak hanya yang berkaitan dengan produksi saja tentunya, bisa juga industr yang berkaitan dengan keuangan.
Hal – hal tersebut tentu saja berguna bagi perkembangan pendidikan ekonomi syariah yang ada, dengan demikian tentu akan menghasilkan sumber daya – sumber daya manusia yang berkualitas, jika sumber daya manusia berkualitas tentu akan mampu meningkatkan berbagai aktivitas yang ada terutama berkaitan dengan pengelolaan sumber daya yang ada, salah satunya adalah sumber daya manusia. Dengan demikian, hal tersebut akan mampu meningkatkan pembangunan ekonomi suatu negara.

Ditulis oleh
Redita Aprilia
Staff Ahli Divisi Jaringan Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Ekonomi Islam dalam Perspektif Pembangunan Masa Depan

Ekonomi berasal dari bahasa yunani “oikos” yang berarti rumah tangga, keluarga dan “nomos” yang berarti peraturan, aturan, hukum. Secara garis besar, ekonomi diartikan sebagai “aturan rumahtangga” atau “manajemen rumah tangga”. Seperti yang kita ketahui ekonomi merupakan salahsatu hal yang memiliki pengaruh besar atas suatu aturan bahkan subuah tatanan pemerintahan (komunis dan liberalis misalnya).

Dalam bidang ekonomi Islam, seseorang tidak boleh memaksakan diri berhutang sebelum ia meninjau terlebih dahulu kekayaan yang dimilikinya, masih cukup atau memang tidak mencukupi. Demikian pula halnya dengan negara; suatu negara tidak boleh mengimpor barang dari negara lain sebelum ia meninjau kekayaan yang dimilikinya, dan juga kemampuan yang ada padanya. Bercermin dari hal ini, kita bisa bertanya: Tidakkah kekayaan jiwa, kekayaan pemikiran, dan kekayaan hati itu bisa dibangun, sebagaimana halnya kekayaan material yang ada pada diri manusia?

Pasti bisa! Apa lagi kita berada di negara Indonesia yang mayoritas masyarakat muslim. Kekayaan sumber daya dan modal semangat kita tidak akan tumbang jika kita tidak berfikir untuk meng impor prinsip-prinsip dan ideologi yang dibuat oleh makhluk yang memiliki keterbatasan berfikir. Seseorang bertanya mengapa islam dikatakan agama rahamatan lil alamin namun penganutnya kebanyakan terihat miskin, menderitan dan bodoh(jumud), sedangkan orang nonislam – yahudi misalnya – justru menjadi sekelompok orang yang kaya dan bahkan hampir menguasai berbagai sektor ekonomi dunia. Masalah apa yang terjadi disini?, Masalah yang membuat orang-orang berfikir agama hanya sebuah praktik ritual peribadatan dan harus terlepas dari sendi-sendi kehidupan sosial kemasyarakatan. Agama islam ini bersifat sempurna dan tidak memiliki kecacatan apapun, sedangkan muslim dalah seorang makhluk – yaitu manusia yang memiliki kekurangan. Seseorang yang mengamalkan Islam secara keseluruhan maka ia akan dekat dengan kesempurnaan. Jika anda tidak percaya kenapa tidak anda buktikan sendiri dengan mengamalkan ajaran islam secara keseluruhan.

Jikalau ada satu saja golongan masyarakat yang didalamnya menerapkan prinsip-prinsip syariat secara syummul/keseluruhan, maka yang akan didapati oleh sekelompok masyarakat tersebut adalah sebuah kemakmuran, kesejahteraan dan tonggak kemajuan peradaban, salah satu buktinyata adalah ketikka dinasti abasiyah tengah berada pada puncak kejayaan. Ketika seluruh syaria’at-syariat islam ditegakkan, dinasti abasiyah memiliki kekuatan politik, kekuatan militer yang kokoh dan menjadi pusat dari peradaban dunia pada masa itu.

Mari kita jadikan potensi ummat yang besar ini, sekaligus pedoman yang sempurna ini yaitu al-qur’an sebagai alat untuk mencapai kejayaan, kesuksesan dan pembangunan tatanan dunia dimasa depan menjadi lebih baik.

Wallahu a’lam bisawwab.

Daftar pustaka :
https://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi
Sayyid Quthb. 1984. Keadilan Sosial dalam Islam. PUSTAKA-Perpustakaan Institut Teknologi Bandung: Bandung.
PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI ABBASIYAH

Ditulis oleh
Khoirun nisa
S1-Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan angkatan 2016 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Akad Salam dalam Transaksi Online

A. Pengertian Jual Beli Dengan Akad Salam Secara Syar’i
Secara bahasa, transaksi (akad) digunakan berbagai banyak arti, yang hanya secara keseluruhan kembali pada bentuk ikatan atau hubungan terhadap dua hal. Yaitu As-Salam atau disebut juga As-Salaf merupakan istilah dalam bahasa arab yang mengandung makna “penyerahan”. Sedangkan para fuqaha’ menyebutnya dengan al-Mahawi’ij (barang-barang mendesak) karena ia sejenis jual beli barang yang tidak ada di tempat, sementara dua pokok yang melakukan transaksi jual beli mendesak.

Jual beli pesanan dalam fiqih islam disebut as-salam sedangkan bahasa penduduk hijaz, sedangkan bahasa penduduk iraq as-salaf. Kedua kata ini mempunyai makna yang sama, sebagaimana dua kata tersebut digunakan oleh Nabi, sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah ketika membicarakan akad bay’salam, beliau menggunakan kata as-salaf disamping as-salam, sehingga dua kata tersebut merupakan kata yang sinonim.
Secar terminology ulama’ fiqih mendefinisikannya:
بيع اجل معاجل او بيع شيئ موصوف في الذمة اي انه يتقدم فيه رأس المال ويتأخر المثمن لأجله
“menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda, atau menjual suatu barang yang ciri-cirinya jelas dengan pembayaran modal di awal, sedangkan barangnya diserahkan kemudian”.

Sedangkan Ulama’ Syafi’yah dan Hanabilah mendefinisikannya sebagai berikut :
عقدعلى موصوف بذمة مقبوض بمجلس عقد
“akad yang disepakati dengan menentukan ciri-ciri tertentu dengan membayar harganya terlebih dulu, sedangkan barangnya diserahkan kemudian dalam suatu majelis akad”.
Dengan adanya pendapat-pendapat diatas sudah cukup untuk memberikan perwakilan penjelasan dari akad tersebut, dimana inti dari pendapat tersebut adalah, bahwa akad salam merupakan akad pesanan dengan membayar terlebih dahulu dan barangnya diserahkan kemudian, tapi ciri-ciri barang tersebut haruslah jelas penyifatannya.
Dan masih banyak lagi pendapat yang diungkapkan para pemikir dalam masalah ini, sebagaimana al-Qurthuby , An-Nawawi dan ulama’ malikiyah, serta yang lain, mereka ikut andil memberikan sumbangsih pemikiran dalam masalah ini, akan tetapi karena pendapatnya hampir sama dengan pandapat yang diungkapkan diatas, maka penulis berfikir, bahwa pendapat diatas sudah cukup untuk mewakilinya.

Dalam islam dituntut untuk lebih jelas dalam memberikan sutu landasan hukum, maka dari itu islam melampirkan sebuah dasar hukum yang terlampir dalam Al-Qur’an, Al-Hadits dan Al-hadits, ataupun Ijma’. Perlu diketahui sebelumnya mengenai transaksi ini secara khusus dalam Al-Qur’an tidak ada yang selama ini dijadikan landasan hukum adalah transaksi jual beli secara global, karna bay salam termasuk salah satu jual beli dalam bentuk khusus, maka hadist Nabi dan ijma’ ulama’ banyak menjelaskannya dan tentunya Al-Qur’an yang membicarakan secara global sudah mencakup atas diperbolehkannya jual beli akad salam. Adapun landasan hukum islam mengenai hal tersebut adalah :

  1. Ayat tentang bay as-salam

الذين يأكلون الربوا لايقومون إلا كما يقول الذي يتخبطه الشيطن من المس ذلك بأنهم قالوا إنماالبيع مثل الربوا وأحل الله البيع وحرم الربوا فمن جاءه موعظة من ربه فانتهى فله ماسلف وامره إلى الله ومن عاد فالئك اضحاب النار هم فيها خالدون
ياايهالذين أمنوا إذا تداينتم بدين الى اجل مسمى فاكتبوه واليكتب بينكم كاتب بالعدل ولا يأب كاتب أنيكتب كماعلمه الله فاليكتب واليملل الذي عليه الحق واليتق الله ربه ……

  1. Hukum tentang bay assalam

Adapun hadits tentang dasar hukum diperbolehkannya transaksi ini adalah, sebagaimana riwayat Hakim bin Hizam :
عن حكيم بن حزام ان النبي صلى الله عليه وسلم قال له لاتبع ما ليس عندك
“dari hakim bin hizam, sesungguhnya Nabi bersabda : janganlah menjual sesuatu yang tidak ada padamu”
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة وهم يسلفون في الثمر السنتين والثلاث فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من أسلف في شيئ ففي كيل في ثمر معلوم ووزن معلوم إلى اجل معلوم (رواه البخاري)
“dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, Nabi datang ke Madinah, dimana masyarakat melakukan transaksi salam (memesan) kurma selama dua tahun dan tiga tahun, kemudian Nabi bersabda, barang siapa melakukan akad salam terhadap Sesuatu, hendaklah dilakukan dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas, dan sampai batas waktu yang jelas.

Dalam transaksi salam ini diperlukan adanya keterangan mengenai pihak-pihak yang terlibat, yaitu orang yang melakukan transaksi secara langung, juga syarat-syarat ijab qabul, yaitu :

  1. Pihak-pihak yang terlibat. Adapun pihak-pihak yang terlibat langsung adalah al-muslim dimana posisinya sebagai pembeli atau pemesan, dan juga muslim ilaihi, dimana posisinya sebagai orang yang di amanatkan untuk memesan barang dan juga barang yang di maksudkan.
    Sedangkan syarat dari penjual dan pemesan, penulis hanya bisa menyimpulkan sedikit, yaitu mereka belum termasuk sebagai golongan-golongan orang-orang yang dilarang bertindak sendiri, seperti anak-anak kecil, gila, pemboros, banyak hutangnya, atau yang lainnya.
  2. Syarat-syarat ijab qabul. Pernyataan dalam ijab qabul ini bisa disampaikan secara lisan, tulisan (surat menyurat, isyarat yang dapat memberi pengertian yang jelas), hingga perbuatan atau kebiasaan dalam melakukan ijab qabul. Adapun syarat-syaratnya adalah :
  • Dilakukan dalam satu tempo
  • Antara ijab dan qabul sejalan
  • Menggunakan kata assalam atau assalaf
  • Tidak ada khiyar syarat (hak bagi pemesan untuk menerima pesanan atau tidak)

B.Pengertian Jual beli dengan Akad Salam Secar online (E-Commerce)

Transaksi secara online merupakan transakasi pesanan dalam model bisnis era global yang non face, dengan hanya melakukan transfer data lewat maya (data intercange) via internet, yang mana kedua belah pihak, antara originator dan adresse (penjual dan pembeli), atau menembus batas System Pemasaran dan Bisnis-Online dengan menggunakan Sentral shop, Sentral Shop merupakan sebuah Rancangan Web Ecommerce smart dan sekaligus sebagai Bussiness Intelligent yang sangat stabil untuk diguakan dalam memulai, menjalankan, mengembangkan, dan mengontrol Bisnis.

Perkembangan teknologi inilah yang bisa memudahkan transaksi jarak jauh, dimana manusia bisa dapat berinteraksi secara singkat walaupun tanp face to face, akan tetapi didalam bisnis adalah yang terpenting memberikan informasi dan mencari keuntungan.

Adapun mengenai definisi mengenai E-Commerce secara umumnya adalah dengan merujuk pada semua bentuk transaksikomersial, yang menyangkut organisasi dan transmisi data yang digeneralisasikan dalam bentuk teks, suara, dan gambar secara lengkap.
Sedangkan pihak-pihak yang terlibat sebagaiman yang telah diungkapkan dalam akad salam diatas, mungkin tidak beda jauh, hanya saja persyaratan tempat yang berbeda.

C.Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pembelian Secara Online (E-Commerce)
Sebagaimana keterangan dan penjelasan mengenai dasar hokum hingga persyaratan transaksi salam dalam hokum islam, kalo dilihat secara sepintas mungkin mengarah pada ketidak dibolehkannya transaksi secara online (E-commerce), disebabkan ketidak jelasan tempat dan tidak hadirnya kedua pihak yang terlibat dalam tempat.

Tapi kalo kita coba lebih telaah lagi dengan mencoba mengkolaborasikan antara ungkapan al-Qur’an, hadits dan ijmma’, dengan sebuah landasan :
الأصل في المعاملة الإباحة حتى يدل الدليل لعلى تحرمه
Dengan melihat keterangan diatas undijadikan sebagai pemula dan pembuka cenel keterlibatan hokum islam terhadap permasalahan kontemporer. Karena dalam al-Qur’an permasalahn trasnsaksi online masih bersifat global, selamjutnya hanya mengarahkan pada peluncuran teks hadits yang dikolaborasikan dalam peramasalahan sekarang dengan menarik sebuah pengkiyasan.

Sebagaimana ungkapan Abdullah bin Mas’ud : Bahwa apa yang telah dipandang baik leh muslim maka baiklah dihadapan Allah, akan tetapi sebaliknya.
Dan yang paling penting adalah kejujuran, keadilan, dan kejelasan dengan memberikan data secara lengkap, dan tidak ada niatan untuk menipu atau merugikan orang lain, sebagaimana firman Allah dalam surat Albaqarah 275 dan 282 diatas.

Jadi, Transaksi salam adalah transaksi pesanan dengan melibatkan penjual dan pembeli, dengan membayar uang dimuka dan barangnya diserahkan dikemudian hari (Tidak mendapat barang secara langsung saat sudah dilakukan pembayaran, akan tetapi barangnya menyusul). Transaksi memesan barang secara online non face atau maya world, dengan cara menular data, dengan menampakkan keperluan, kejelasan barang, baik berupa tulisan atau gambar. Ketika bentuk barang sudah jelas, dengan menampakkan keseluruhan barang, walaupun tidak secara langsung. Akan tetapi, dengan tidak adanya niat saling merugikan, hanya sebatas bisnis, agar saling menguntungkan dan memuaskan.

 

Ditulis oleh:

Safira Widayanti

Staff Ahli Sinergitas Departemen 2016-2017