• 082280336808 (Maryam)
  • ksei.febundip@gmail.com

Category ArchiveArtikel

E-Money dalam Perspektif Syariah

Indonesia saat ini mengalami gejala perubahan iklim ekonomi yang semakin kompetitif dan modern. Hal ini terlihat dari beragamnya transaksi ekonomi maupun kegiatan ekonomi yang mengadopsi teknologi sebagai penunjangnya. Salah satunya yaitu penggunaan electronic money (e-Money) atau uang elektronik dalam model transaksi di masyarakat. Suatu negara yang memiliki kecenderungan untuk menggunakan uang elektronik sebagai sarana pembayaran dapat dikatakan sebagai negara maju. Dengan kata lain, indikator kemajuan suatu negara dapat direpresentasikan melalui penggunaan uang elektronik yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakatnya.
Menurut Mastercard Advisors dari data The Cashless Journey, Indonesia hingga saat ini masih berada pada posisi negara tahap awal dikarenakan penggunaan e- money secara kolektif masyarakatnya masih berkisar 31 persen berbeda dengan negara maju seperti Perancis, Belanda, Swedia, Inggris dan Kanada rata-rata partisipasi masyarakat dalam penggunaan e-Money lebih dari kisaran 85 persen.

Dari data publikasi BI mengenai uang elektronik, Indonesia mengalami fase perkembangan yang dikategorikan signifikan. Hal ini terlihat dari skala nilai transaksi uang elektronik yang mencapai Rp 5,28 T pada tahun 2015 dan meningkat di tahun 2016 hingga kisaran 5,49 T. Fakta ini menjadi legitimasi yang kuat bahwa daya terima masyarakat terhadap uang elektronik semakin tinggi.

Lantas bagaimana pandangan syariah terhadap e- money ini?
Uang elektronik pada dasarnya sama seperti uang biasa karena memiliki fungsi sebagai alat pembayaran atas transaksi jual beli barang. Dalam perspektif syariah hukum uang elektronik adalah halal. Kehalalan ini berlandaskan kaidah, setiap transaksi dalam muamalah pada dasarnya diperbolehkan kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya, maka saat itu hukumnya berubah menjadi haram. Saat ini beberapa Bank Syariah juga telah mengeluarkan produk yang terkait dengan uang elektronik. Salah satunya pada tanggal 28 Maret 2016, MUI telah mengeluarkan sertifikat syariah pada produk uang elektronik syariah yang diakui oleh Dewan Syariah Nasional. Produk uang elekronik syariah pertama ini dinamakan True Money Witami. Uang Elektroik ini dikeluarkan oleh PT Witami Tunai Mandiri. Inovasi uang elektronik True Money Witami ini terlibat langsung dalam berbagai transaksi syariah. Transaksi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan sektor ekonomi syariah yang mengelola dana-dana keagamaan secara lebih produktif dan profesional. Adapun ketentuan dan batasan uang elektronik syariah, yaitu wajib terhindar dari transaksi yang ribawi, gharar, maysir, risywah, israf, dan transaksi dari objek yang haram atau maksiat.

Terkait akad antara penerbit dengan pemegang uang elektronik e-money menggunakan akad wadi’ah atau akad qardh. Dalam hal akad yang digunakan wadi’ah, maka berlaku ketentuan dan batasan akad wadi’ah. Yaitu, jumlah nominal elektronik bersifat titipan yang dapat diambil atau digunakan oleh pemegang kapan saja. Jumlah elektronik yang dititipkan tidak boleh digunakan oleh penerima titipan (penerbit) kecuali atas izin pemegang kartu. Dalam hal jumlah nominal uang elektronik yang dititipkan digunakan oleh penerbit, maka akad titipan (wadi’ah) berubah menjadi akad pinjaman (qardh). Ketentuan khusus jumlah nominal uang elektronik yang ada pada penerbit harus ditempatkan kepada bank syariah. Jika kartu yang digunakan sebagai media uang elektronik hilang maka jumlah nominal yang ada di penerbit tidak boleh hilang sehingga timbul rasa aman bagi pemegang e-money syariah

Namun saat ini berkembang polemik seputar uang elektronik yaitu munculnya besaran biaya pada proses Top-up e-Money . Munculnya biaya Top – up dianggap tidak rasional karena jika dianalogikan secara sederhana bagaimana mungkin seseorang yang membelanjakan uangnya sendiri dibebankan biaya dari uang yang dikeluarkan dan hal tersebut bisa menjurus kearah riba. Menanggapi hal tersebut e-money syariah harus menggunakan skema fee yang didapatkan penerbit bukan dari transaksi yang dilakukan, melainkan mendapatkan fee dari biller atau agen karena membantu membayarkan. Skema ini digunakan sembari menunggu fatwa tentang e-money syariah dari DSN MUI resmi diterbitkan . Dengan cara tersebut insya allah e-money syariah terhindar dari unsur ribawi.
Wallahu a’lam bi al-showab.

Ditulis oleh
Zulva Aprilia
Staff Pengembangan Sumber Daya Insani periode 2016-2017 Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Bisnis Islami

Semua manusia yang ada di bumi diperintahkan untuk beribadah dan bekerja. Islam menganjurkan setiap pemeluknya untuk selalu bekerja. Bekerjalah seperti engkau akan hidup selamanya dan beribadahlah dengan sungguh-sungguh seakan engkau akan meninggal esok hari. Rasululllah Muhammad SAW bersabda di dalam dalam suatu hadis yang artinya bahwa bekerja mencari rejeki yang halal merupakan kewajiban, setelah kewajiban ibadah. (HR. Ath Thabrani dan Baihaqi).

Tentunya bekerja dalam rangka mengharapkan ridha Allah SWT, haruslah mencari pekerjaan yang halal. Rasululllah Muhammad SAW bersabda di dalam dalam suatu hadis yang artinya bahwa bekerja mencari rejeki yang halal merupakan kewajiban, setelah kewajiban ibadah. (HR. Ath-Thabrani dan Baihaqi). Hadis tersebut kemudian diperkuat dengan firman Allah dalam surah al-A’raff ayat 10 yang artinya “Sesungguhnya, Kami menempatkan kalian sekalian di muka bumi dan Kami memberikan kalian di bumi itu (sumber) penghidupan”. Firman Allah SWT di atas sudah sangat jelas bahwa Allah SWT meminta kepada manusia untuk bekerja mencari sumber penghidupan yang sudah disediakan oleh Allah SWT. Hal tersebut kemudian dipertegas dalam hadis agar dalam mencari sumber rejeki haruslah dengan jalan yang halal karena mencari rezeki halal adalah wajib hukumnya.

Setelah mengetahui kewajiban kita dimuka bumi untuk mencari rizki yang halal, kita sebaiknya menjalankan bisnis dalam kaidah agama islam. Apa itu bisnis islami? Bisnis Islami adalah segala bentuk bisnis dengan dibatasi oleh cara mendapatkan dan memberdayakan harta agar selalu halal dan menolak hal-hal yang bersifat haram atau dapat didefinisikan sebagai aktivitas bisnis-ekonomi dengan berbagai bentuk yang tidak ada batasan dalam hal kepemilikan harta baik itu jasa maupun barang, namun dibatasi dalam hal cara memperoleh dan pendayagunaan harta lantaran aturan haram dan halal menurut Islam.

Tujuan bisnis syariah sendiri mengacu kepada bisnis yang bila dilakukan tidak merugikan satu pihak maupun pihak lainnya sehingga tidak mengandung sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Haram yang dimaksud adalah haram zatnya, yaitu menjual barang yang dilarang dalam syariat Islam dan haram selain zatnya, yaitu berbisnis dengan menggunakan prinsip riba, maihsir dan gharar Meskipun menggunakan dasar syariah, akan tetapi bisnis berbasis syariah ini tetap memiliki tujuan untuk mencari keuntungan. Tentu saja keuntungan yang dihalalkan menurut syariat islam.

Perbedaan bisnis konvensional dengan bisnis yang berbasis syariah terletak dalam tujuannya, yaitu bisnis berbasis syariah tidak hanya mengejar keuntungan duniawi semata, namun juga berorientasi pada falah, yaitu mencapai tujuan panjang pada hidup yang berupa kemenangan dalam dunia dan akhirat. Diantara implementasi dai hal tersebut dalah adanya kewajiban dari pengusaha untuk mengeluarkan zakat berdasarkan keuntungan yang telah didapatkan. Zakat adalah Corporate Social Responsibility (CSR) yang cukup baik, sebab dapat meningkatkan kesejahteraan dan kondisi ekonomi masyarakat agar dapat menimbulkan hubungan baik antara masyarakat dan pengusaha. Selain itu, secara tidak langsung pengusaha telah meningkatkan nilai ibadah dengan berzakat. Sedangkan manfaat dari kita menjalankan bisnis islami menurut komunitas pegusaha muslim Indonesia adalah:
• Keberlangsungan. Target yang telah dicapai dengan pertumbuhan setiap tahunnya harus dijaga keberlangsungannya agar perusahaan dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama.
• Keberkahan. Semua tujuan yang telah tercapai tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada keberkahan di dalamnya. Maka bisnis Islam menempatkan berkah sebagai tujuan inti, karena hal tersebut merupakan bentuk dari diterimanya segala aktivitas manusia. Keberkahan ini menjadi bukti bahwa bisnis yang dilakukan oleh pengusaha muslim telah mendapat ridha dari Allah SWT dan bernilai ibadah.
• Pertumbuhan. Jika profit materi dan profit non materi telah diraih, perusahaan harus berupaya menjaga pertumbuhan agar selalu meningkat. Upaya peningkatan ini juga harus selalu dalam koridor syariah, bukan menghalalkan segala cara.
• Target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri. Artinya bahwa bisnis tidak hanya untuk mencari profit (qimah madiyah atau nilai materi) setinggi-tingginya, tetapi juga harus dapat memperoleh dan memberikan benefit (keuntungan atau manfaat) nonmateri kepada internal organisasi perusahaan dan eksternal (lingkungan), seperti terciptanya suasana persaudaraan, kepedulian sosial dan sebagainya.
• Benefit. Yang dimaksudkan tidaklah semata memberikan manfaat kebendaan, tetapi juga dapat bersifat nonmateri. Islam memandang bahwa tujuan suatu amal perbuatan tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, namun juga berorientasi kepada nilai-nilai sosial dan spiritual.

Ditulis oleh
Ulfa Wahyudiana
Wakil Manager Bisnis Islam periode 2015/2016 Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Pentingnya Bershalawat di Hari Jum’at

Shalawat merupakan bentuk kata jamak dari bahasa arab, bentuk kata tunggalnya adalah salat yang berarti doa, keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan dan ibadah.‎
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzaab: 56]
Diriwayatkan bahwa makna shalawat Allah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pujian Allah atas beliau di hadapan para Malaikat-Nya, sedangkan shalawat Malaikat berarti mendo’akan beliau, dan shalawat ummatnya berarti permohonan ampun bagi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shalawat merupakan amalan yang paling hebat namun banyak dilalaikan umat muslim. Sholawat merupakan bagian kecil dalam meniru dan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Allah SWT dan para malaikat-Nya. Jika kita menginginkan kemudahan dan kesuksesan, perbanyaklah bershalawat kepada Rasulullah SAW maka akan semakin baik dan menjadi salah satu amal kita sehari-hari. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umat muslim untuk memperbanyak membaca shalawat kepadanya pada hari Jum’at. Sebab pada hari Jum’at merupakan hari yang paling mulia. Oleh karena itu, sangat dianjurkan kepada umat muslim untuk menyempatkan waktunya di hari Jum’at untuk membaca shalawat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا.
“Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at, barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Keutamaan bershalawat pada hari Jum’at:
1. Jika bershalawat satu kali pada hari Jumat, maka Allah bershalawat untuknya sepuluh kali. Maksud Allah bershalawat kepada Nabi SAW adalah dengan memberi rahmat-Nya untuk manusia yang bershalawat.
2. Mengucapkan shalawat pada hari Jumat akan disaksikan oleh malaikat dan malaikat akan bershalawat 10 kali kepada mereka yang membacanya dan memintakan ampunan untuk manusia tersebut.
3. Siapa yang paling banyak bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW pada hari Jumat, maka akan dekat kedudukannya dengan Nabi SAW di Yaumil Mahsyar kelak. 
4. Memperbanyak membaca shalawat pada hari dan malam jumat, maka Nabi Muhammad akan menjadi saksi dan penolongnya pada hari kiamat.
5. Memperbanyak shalawat pada hari Jumat sebanyak seribu kali, maka ia tidak akan mati sebelum melihat surga sebagai tempat tinggalnya. 
6. Barangsiapa membacakan shalawat untukku pada hari jumat, maka shalawat itu akan menjadi syafaat baginya besok di hari kiamat.
7. Siapa yang shalat ashar pada hari Jumat, kemudian sebelum berdiri meninggalkan shalatnya membaca “Allaahumma Shalli ‘Alaa Muhammad An-Nabiyyil Ummiyyi wa ‘Alaa Alihi wa Shahbihi Wa Sallim Tasliiman Katsiira” sebanyak delapan puluh kali, maka dosa-dosanya selama delapan puluh tahun akan diampuni dan akan dituliskan pahala ibadah selama delapan puluh tahun untuknya.”

Shalawat merupakan amalan yang mudah dilakukan, namun dalam menjalankannya akan banyak godaan karena aktivitas dunia yang membuat kita lupa akan pentingnya bershalawat. Oleh karena itu, mari kita intropeksi diri kita, renungkan dan rasakan betapa banyaknya manfaat yang dapat diambil jika kita melakukan amalan allah salah satunya bershalawat. Marilah kita bershalawat selagi masih ada kesempatan dan terus mencoba dengan keyakinan dalam menjalankan amalan yang juga dilakukan oleh Allah SWT dan malaikat-Nya.

Ditulis oleh
Marlita Dwi Widhayanti
Sekretaris II Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Peran BMT (Baitul Mal Wat Tamwil) sebagai Lembaga Pembiayaan UMKM Bagi Masyarakat Menengah Ke Bawah

Seperti yang telah kita ketahui bahwa di era modern ini wiraswasta merupakan sebuah profesi yang sangat diminati dan diperhatikan.Tidak bisa dipungkiri hampir delapan puluh persen masyarakat Indonesia berkeinginan menjadi wiraswasta dengan memiliki usaha sendiri. Namun,faktor utama dan paling dominan yang menjadi kendala masyarakat dalam mendirikan sebuah usaha adalah modal.Sedangkan faktor kedua yang cukup dirisaukan masyarakat adalah risiko kerugian ketika mendirikan suatu usaha. Sebenarnya sudah banyak lembaga keuangan yang memberikan fasilitas dalam peminjaman dan pembiayaan dana untuk kegiatan usaha,antara lain perbankan baik perbankan konvensional maupun syari’ah. Kelemahan sistem perbankan konvensional dalam pembiayaan adalah ketika nasabah mengalami kerugian dalam kegiatan usahanya,mereka tetap harus mengembalikan sesuai dengan jumlah yang mereka pinjam beserta bunga jelas diharamkan oleh syari’at Islam dan sangat memberatkan masyarakat terutama masyarakat menengah ke bawah.,hal ini jelas sangat menzalimi.Kelemahan perbankan syari’ah menurut Karnaen Perwataatmadja dan M Syafi’I Antonio juga menyatakan, pertama, kelemahan bank syariah adalah bahwa bank dengan sisem ini terlalu berprasangka baik kepada semua nasabahnya dan berasumsi bahwa semua orang yang terlibat dalam bank Islam adalah jujur. Dengan demikian bank Islam sangat rawan terhadap mereka yang beritikad tidak baik,sehingga diperlukan usaha tambahan untuk mengawasi nasabah yang menerima pembiayaan dari bank syariah. Kedua, sistem bagi hasil memerlukan perhitungan-perhitungan yang rumit terutama dalam menghitung bagian laba nasabah yang kecil-kecil dan yang nilai simpanannya di bank tidak tetap.Dengan demikian kemungkinan salah hitung setiap saat bias terjadi sehingga diperlukan kecermatan yang lebih besar dari bank konvensional. Disinilah peran BMT diperlukan sebagai lembaga keuangan mikro syari’ah (LKMS) sebagai lembaga pembiayaan bagi masyarakat menengah kebawah.Walaupun jumlah dana yang akan dibiayai terbatas,lembaga tersebut sangat efektif dalam membantu masyarakat menengah kebawah yang ingin mendirikan sebuah usaha.

BMT dalam hal ini dapat membangun perekonomian rakyat yang berarti meningkatkan kemampuan rakyat dengan cara mengembangkan dan mendinamisasikan potensinya, dengan kata lain memberdayakan ekonomi mereka. Ekonomi rakyat yang dimaksud adalah ekonomi rakyat kecil, yang pengembangannya bermakna pengembangan ekonomi “dari rakyat, oleh rakyatdan untuk rakyat”. Perekonomian rakyat ini dibangun untuk membentuk rakyat agar mampu mandiri dan dapat menopang kelangsungan hidupnya dalam tahap awal.Pengorganisasian ekonomi di dalam masyarakat dituntut untuk membentuk kelompok swadaya masyarakat (KSM). Dengan wadah tersebut mereka merasa memiliki alternatif KSM sebagai ajang kegiatan ekonomi yang dapat meningkatkan taraf hidupnya. KSM ini dapat berupa Baitul Maal wat – Tamwil (BMT) yang mampu merambah masyarakat lapis bawah (wong cilik) yang rentan terhadap ketergantungan rentenir. Dalam sebuah surat kabar menyatakan bahwa koperasi jasa keuangan syariah (KJKS) dalam bentuk Baitul maal Wat Tanwil (BMT) berkembang sangat signifikan. Hal ini tidak lepas dari perkembangan kinerja dari BMT secara nasional di tahun ini telah mencapai aset sebesar Rp 4,7 triliun dan jumlah pembiayaan sebesar Rp 3,6 triliun. Setyo Heriyanto  selaku Deputi Bidang Kelembagaan dan UKM Kementerian Koperasi dan UKM meyakini BMT akan sangat berperan sebagai lembaga keuangan mikro yang mampu menggerakan sektor riil di masyarakat.Keberadaan dari BMT di Indonesia, tak lepas dari peran dari berbagai pihak khususnya regulator, asosiasi, para pengelola, anggota dan masyarakat. Bahkan keberadaan dari BMT juga menjadi alternatif financial inclusion ketika masyarakat tidak mampu mengakses keuangan karena keterbatasan dan beberapa prasyarat yang harus dipenuhi dalam sistem perbankan. Bahkan sudah banyak BMT yang menggunakan teknologi canggih yang dimiliki oleh perbankan seperti ATM,Mobile Banking,serta Internet Banking yang mendukung kegiatan anggotanya dan dapat meningkatkan kepercayaan anggota itu sendiri pada koperasi syari’ah tersebut.

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) merupakan awal dari berkembangnya perekonomian masyarakat dalam sebuah negara guna meningkatkan pendapatan perkapita terhadap negara yang bersangkutan. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hill (2001), menyatakan bahwa UMKM memegang peranan yang penting dalam perkembangan perekonomian di Indonesia, karena : pertama, kontribusi yang signifikan berkaitan dengan penyerapan tenaga kerja. Kedua, pemerintah Indonesia menempatkan prioritas lebih tinggi untuk UMKM. Ketiga, potensi kontribusi UMKM dalam mengembangkan usaha yang dilaksanakan oleh pribumi asli. Keempat, pentingnya formulasi kebijakan perekonomian yang sesuai denga karakteristik UMKM. Kelima, harapan atas kontribusi UMKM untuk meletakkan dasar bagi pertumbuhan industri. Keenam, UMKM telah terbukti lebih tahan terhadap deraan dan tempaan krisis ekonomi yang dialami Indonesia tahun 1997-1998. Berdasarkan data terakhir yang diperoleh, sektor tersebut memiliki jumlah pelaku usaha yang mencapai 51,3 juta unit usaha atau memiliki kontribusi sebesar 99% menyerap tenaga kerja, 90,9 juta pekerja (97%), menyumbang PDB sebesar Rp 2.609 triliun (55,6%) Serta memberikan sumbangan devisa sebesar Rp183,8 triliun (20%).(Sumber: Bank Indonesia.2010).
Perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terbukti merupakan penggerak utama sektor riil yang berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan BMT meruapakan alat tarnsportasi bagi pergerakan sector riil tersebut dalam meningkatkan pertumbuhan serta menyokong pembangunan ekonomi. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, jumlah UMKM pada tahun 2011 sebanyak 55,2 juta unit dengan terbagi sebagai berikut 54.559.969 unit Usaha Mikro, 602.195 unit Usaha kecil dan 44.280 unit Usaha Menengah. Jumlah UMKM pada tahun 2011 adalah sekitar 99,99% dari jumlah total unit usaha yang ada. Hingga akhir 2013 jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia tercatat sebanyak 57.895.721, atau naik 2,41% dari 56.534.592 pada 2012. Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan berharap, tahun ini, jumlahnya kembali membengkak hingga di atas 58 juta (Sumber: Bani Saksono dari Wartawan Harian Ekonomi Neraca).

Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa BMT memiliki peranan yang cukup dominan terhadap pembiayaan UMKM masyarakat miskin dalam sebuah perekonomian sector riil,karena UMKM merupakan salah satu indikator yang sangat menentukan apakah negara tersebut sudah maju ataukah belum.Sedangkan dari sisi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi,UMKM memiliki peran dalam meningkatkan GNP serta pendapatan perkapita masyarakat dan pendapatan nasional sebuah negara.

Daftar Referensi
Buku:
Jazuli dan Yadi Janwari. 2002. Lembaga lembaga Perekonomian Umat, Jakarta: PT. Raja Garfindo Persada.
Soemitra, Andri. 2009. Bank & Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Kencana.

Website:
www.bi.go.id
www.kemendag,go.id
http://www.kompasiana.com/cantika_rachman/peran-baitul-maal-wa-tamwil-bmt-dalam-pemberdayaan-usaha-mikro-kecil-dan-menengah-umkm_552cc09e6ea83497068b4584
www.portalgaruda.org

Ditulis oleh
Raihan Nurfianto
Kepala Biro Sinergitas Departemen periode 2015-2016 Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Pemanfaatan BMT (Baitul Maal Wa Tamwil) Dengan Model Tripple Helix Sebagai Alternatif Pembiayaan UMKM Berbasis Syariah

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar di Indonesia yang menjadi salah satu tumpuan dalam perekonomian. Data UMKM di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan, Tahun 2012 jumlah unit UMKM di Indonesia sebesar 56.534.592 unit dan mengalami peningkat pada tahun 2013 sebesar 2,41 % atau 57.895.721 unit dan berhasil menyerap tenaga kerja sebesar 96,18 % yang ada di Indonesia (Badan Pusat Statistik. 2016).

Peningkatan jumlah UMKM berbanding lurus dengan peningkatan Industri Halal di Indonesia. Akan tetapi peningkatan Industri Halal bagi UMKM di Indonesia memiliki beberapa kendala. Menurut penelitian terdahulu (Effendi Ishak. 2005) Beberapa permasahan yang dihadapi UKM di Negara-negara ASEAN hampir sama, yaitu rendahnya aksesibilitas terhadap pembiayaan dari perbankan adalah kendala utama kurang berkembangnya sektor usaha ini (Asyraf, 2008) hal ini menyebabkan UMKM mengalami kekurangan Modal dalam mengembangkan usahanya. Hal ini disebabkan oleh persayaratan 5C dalam pemberian pembiayaan usaha/kredit oleh bank : Collateral (jaminan), Capacity (kapasitas usaha), Character (karakter peminjam), Capital (modal usaha), Condition of Economy (kondisi perekonomian sektor makro). Diantara kelima persyaratan tersebut, unsure Collateral (jaminan) merupakan factor yang paling sulit dipenuhi oleh UMKM (Dusuki, 2008).

Usaha Kecil yang mulai berkembang di Indonesia memiliki kebutuhan dalam hal permodalan yang belum mampu di jangkau oleh Lembaga Keuangan Bank (LKB) atau Lembaga Keuangan non Bank (LKNB). Ketidakmampuan tersebut terutama dalam sisi penanggungan resiko dan biaya operasi, juga dalam identifikasi usaha dan pemantauan penggunaan kredit yang layak usaha. Ketidakmampuan lembaga keuangan ini menjadi penyebab terjadinya kekosongan pada segmen pasar keuangan di wilayah pedesaan. Akibatnya 70%-90% kekosongan tersebut diisi oleh lembaga keuangan non formal, yaitu para rentenir yang beroperasi dengan mengenakan tingkat suku bunga tinggi yang masuk dalam kategori Riba. Salah satu lembaga keuangan mikro syari’ah (LKMS) masa kini yang paling strategis dan fungsional sebagai alternatif pembiayaan usaha kecil sekaligus melepaskan diri dari jeratan sistem Riba (Bunga) dan mengalihkan pada sistem ekonomi islam adalah Baitul Maal Wa Tamwil (BMT). Untuk mengatasi akses pembiayaan UMKM ini, maka Pemerintah Indonesia telah mencanangkan pengembangan dan pemanfaatan BMT sejak 7 Desember 1995 sebagai gerakan (Obaidullah, 2008). Gerakan Nasional ini bertujuan untuk menjembati kesenjangan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan menggali potensi ekonomi dikalangan ummat Islam. Tahun 2006, sebanyak 3.200 BMT telah tersebar di Indonesia, dengan sekitar 3 juta orang mendapat layanan dari BMT. Oleh karena itu, solusi agar terhindar dari sistem riba dengan cara mengembangkan BMT agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberian modal kepada UKM yang tidak terlayani Lembaga Perbankan.

Dalam mengembangkan BMT penulis menggunakan metode Tripple Helix yaitu sinergisitas antar ketiga lembaga yaitu Intellectuals (Intelektual), Business (Bisnis), dan Government (Pemerintah) sebagai para aktor utama penggerak industri Halal. Peran ketiga lembaga tersebut sebagai berikut :
1. Intellectual, kaum intelektual yang berada pada institusi pendidikan formal, informal dan non formal yang berperan sebagai pendorong lahirnya ilmu dan ide yang merupakan sumber kreativitas dan lahirnya potensi kreativitas insan Indonesia, Intellectual dalam hal ini Masyarakat kampus atau Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) mempunyai peran dalam memberikan Edukasi kepada Pelaku Usaha Mikro kecil dan menengah (UMKM) agar menjadikan BMT (Baitul Mall Wa Tamwil) sebagai alternatif Pembiayaan UMKM berbasis Syariah yang terhindar dari unsur riba.
2. Business, pelaku usaha yang mampu mentransformasi kreativitas menjadi bernilai ekonomis, Businnes juga berperan dalam memasarkan produk Industri Halal yang diproduksi oleh UMKM berbasis Syariah.
3. Government, pemerintah selaku fasilitator dan regulator agar BMT (Baitul Mall Wa Tamwil) dapat dijadikan badan keuangan yang memiliki potensi dalam mengembangkan Industri Halal di Indonesia.
Adapun langkah-langkah pengembangan BMT. 
a. Pembinaan terhadap Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) BMT. 
Merintis usaha-usaha untuk memperkuat kelembagaan, permodalan, dan Sumber Daya Manusia (SDM) LKMS BMT. 
b. Merintis usaha-usaha untuk menanggulangi masalah likuiditas antar LKMS BMT.
Meningkatkan  kerjasama jaringan antar LKMS BMT dan antar Lembaga-Lembaga Pendamping dari LKMS BMT. 
c. Meningkatkan kualitas manajemen BMT sehingga layanan yang diberikan kepada nasabahnya dapat ditingkatkan. 
d. Melakukan akreditasi LKMS BMT agar setiap BMT termotivasi untuk menciptakan inovasi sistem keuangan yang baik dan baru.

Implementasi dari BMT (Baitul Maal Wa Tamwil) tersebut akan memaksimalkan pemberian modal terhadap UKM di Indonesia yang bebas dari unsur riba dan sebagai pusat industri halal sehingga disebut UMKM basis Syariah karena terhindar dari pembiayaan yang mengandung unsur riba yang dapat merugikan salah satu pihak. Karena riba yang ditawarkan seperti penolong tapi sebenarnya menjerat si pemimjam disebabkan bunga yang sangat tinggi. Allah Swt Berfirman : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat-ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapatkeberuntungan.” (Q.S. Ali Imran: 130).

Ditulis oleh
Endi Deswanto
Staff Biro Penelitian dan Prestasi Departemen Kajian dan Penelitian Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Memanfaatkan Keunggulan Teknologi Untuk Membayar Zakat

Membayar zakat adalah rukun Islam ke-3. Ini berarti bahwa kita sebagai umat muslim diwajibkan untuk menjalani perintah Allah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah –dalam riwayat lain: kepada tauhidullah-. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka kamu jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah” (H.R Bukhari 1395 dan Muslim 19)

Jelas, zakat adalah sesuatu yang wajib kita lakukan jika memenuhi syarat individu membayar zakat yaitu: Islam, Merdeka, Berakal dan baligh, Memiliki nishab

Di era sekarang ini dimana teknologi keuangan mendominasi dan masyarakat lebih banyak menggunakan transaksi yang berbasis internet dan aplikasi yang dimana lebih memudahkan mereka untuk bertransaksi, telah membuat suatu cara membayar zakat yang lebih mudah.

Dalam prakteknya, pemberi zakat kadang mengalami kesulitan menemukan lokasi untuk menunaikan kewajiban tersebut. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, urusan memberikan zakat kini juga dapat dilakukan secara online. Beberapa penyalur zakat resmi di dalam negeri telah menambahkan opsi untuk berzakat secara online. Beberapa contoh lembaga yang mengelola pembayaran zakat di Indonesia adalah: Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, BAZNAS, dan kitabisa.com .

Keuntungan menbayar zakat secara online antara lain :
1. Ada fasilitas kalkulator zakat, yang berguna untuk menghitung seberapa besar zakat yang harus dikeluarkan oleh seseorang berdasarkan kondisi setiap orang.
2. Membayar zakat secara online lebih bisa dipercaya karena para pemberi zakat diberikan informasi mengenai jumlah dana dan ke mana dana tersebut dialokasikan
3. Tidak perlu mendatangi para penerima zakat. Kita bisa membayarkan zakat tanpa harus pergi jauh ke masjid atau mencari-cari orang yang berhak menerima zakat.

Maka dari itu, yuk mari membayar zakat! Tidak ada alasan lagi untuk malas membayar zakat. Selain itu merupakan kewajiban kita, sekarang sudah dipermudah dengan perkembangan teknologi yakni sistem zakat online.

Ditulis oleh
Esha Strndiva
Staff Divisi Kajian Departemen Kajian dan Penelitian Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Mengenal Islamic Fintech dan Peluangnya

Apa itu FinTech?
Ada sebuah industri baru bernama financial technology atau FinTech. Keberadaan FinTech bertujuan untuk membuat masyarakat lebih mudah mengakses produk-produk keuangan, mempermudah transaksi  dan juga meningkatkan literasi keuangan. Perusahaan-perusahaan FinTech Indonesia didominasi oleh perusahaan startup dan berpotensi besar.

Fintech bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk transaksi komersial akan tetapi juga bisa dipakai untuk dunia sosial. Kebanyakan untuk yang komersial berada pada bidang investasi sedangkan yang sosial lebih pada bentuk corwdfunding dana untuk berbagi kegiatan. Namun dalam tulisan kali ini akan lebih difokuskan pada Fintech untuk komersial yang berkaitan prospek dan peran Islamic Fintech dalam dunia UMKM. Secara garis besar yang diusung oleh penggerak Islamic Fintech tidak jauh beda dengan keuangan syariah pada umumnya yaitu terhindar dan terbebas dari sistem ribawi dan menuju sistem profit and loss sharing.

Memang belum ada definisi baku untuk Islamic Fintech bahkan Fintech itu sendiri. Namun begitu, secara singkat Islamic Fintech dapat di artikan sebagai teknologi keuangan yang berbasis syariah. Artinya akad (kontrak) dan prosesnya sesuai dengan prinsip prinsip syariah.

Dalam skala global Islamic Fintech Alliance (IFA) telah dibentuk baru baru ini. Aliansi Islamic Fintech ini bertujuan membangun trust sesama penggerak crowdfunder muslim, dan meningkatkan inovasi inovasi berbasis syariah. Jika kita lihat terdapat beberapa Islamic Fintech yang beroperasi di Indonesia. Setidaknya, Islamic Fintech yang beroperasi di Indonesia bisa di bedakan menjadi dua kategori jika dilihat dari sasarannya.
Pertama adalah Fintech yang menyasar seluruh UMKM.

Kedua, Fintech yang memang menyasar niche market. Sebagai contoh Fintech yang berak khusus di bidang real estate terdapat ethiscrowd.com. Dengan Slogan “the world’s first Real Estate Islamic Crowdfunding Platform”, ethiscrowd berusaha membangun perumahan sederhana untuk rakyat. Crowdfunding syariah merupakan sebuah aset keuangan syariah karena berpotensi mengisi kesenjangan di industri.

Islamic Fintech juga merambah pertanian. Igrow.asia membuat terobosan baru dalam dunia investasi dibidang pertanian. Investor dapat memantau investasi mereka, tapi juga bisa merasakan senangnya menumbuhkan dan melihat perkembangan tanaman yang mereka danai.

Tantangan islamic fintech, Peluang mengembangkan Islamic Fintech untuk menfasilitasi UMKM masih terbuka lebar,namun memiliki tantangan, ada dua tantangan besar yang dihadapi oleh Islamic Fintech. Pertama adalah terkait aturan hukum. Ganjalan ini dirasakan oleh Islamic Fintech maupun Fintech pada umumnya. Selama ini belum ada aturan khusus dari lembaga otoritas jasa keuangan yang mengatur Fintech. Kedua, kaitannya dengan social trust. Fintech harus mampu menyakinkan pengguna baik dari sisi investor maupun penerima manfaat dari investasi. Tidak jauh beda dengan perbankan investor juga harus diyakinkan dengan keamanan dana yang mereka investasikan, dan harus Mampu Menjaga prinsip prinsip syariah dalam operasinya. Sebagai solusinya, perlu adanya dewan pengawas syariah (DPS) yang kompeten dalam bidang ini diperlukan untuk menjaga kepatuhan syariah tersebut.

Ditulis oleh
Anggun Setia Dewi
Staff Divisi Kajian Departemen Kajian dan Penelitian Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Ekonomi Islam : Pelumas Dalam Menciptakan Kesejahteraan dan Keadilan

Ekonomi Islam atau Ekonomi Syariah adalah sebuah sistem yang telah berkembang sejak zaman Rasulullah SAW dan diteruskan oleh para khalifah yang menggantikan beliau. Ekonomi syariah membawa dampak yang sangat baik bagi ummat pada saat itu. Contohnya, saat zamankekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, tidak ada yang mau menerima zakat karena semua warganya dapat digolongkan sebagai warga yang mampu. Begitupun didalam Baitul Maal wat Tammil (Rumah Harta) saat itu juga sangat penuh. Itu artinya masyarakat saat itu memeroleh kesejahteraan secara adil dan merata.

Namun, peran ekonomi islam sempat meredup dikala jatuhnyakekhalifahan utsmani ke tangan sekulerisme oleh Mustafa Kamal Attarturk. Sistem ekonomi dikuasai oleh kapitalis yang sangat merugikan rakyat yang kurang mampu. Karena, pada prinsipnya, kapitalisme hanya menyejahterakan masyarakat yang memiliki modal yang besar atau notabenenya adalah masyarakat yang kaya.

Kondisi tersebut sangat menggambarkan situasi perekonomian Indonesia yang sangat tidak stabil. Dimana kesenjangan sosial yang sangat tinggi menyebabkan lambatnya pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Dibuktikan dengan di tahun 2015, menurut laporan dari Bank Pembangunan Asia (ADB) bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia hanya mencapai 4,8% pada akhir tahun, jauh dari target yaitu sebesar 5,3%.

Hal itu disebabkan karena rendahnya ekspor dan juga investasi di Indonesia. Faktor tingginya bunga dari bank pemberi pinjaman adalah salah satu alasan mengapa para pengusaha sulit untuk berkembang dan berinvestasi karena takut akan beban hutang yang tinggi akibat dari bunga yang diberikan. Maka dari itu, diperlukan pengelolaan peminjaman dana yang menggunakan prinsip syariah agar tidak menguntungkan satu pihak saja.

Atas berbagai permasalahan tadi, diperlukan sebuah solusi untuk mengatasinya. Untuk itulah kembali dikembangkan sistem ekonomi islam yang diharapkan dapat mengatasi berbagai persoalan ekonomi. Salah satunya adalah konsep ekonomi islam yang tidak mengenal bunga atau riba. Melainkan diganti oleh bagi hasil ataumudharabah, sehingga menguntungkan kedua belah pihak. Hal itu juga menjadi solusi bagi pengusaha menengah untuk terus mengembankan bisnisnya karena tidak ada bunga yang memberatkan.

Ekonomi islam kembali dikembangkan pertama kali di dunia adalah di Mesir pada tahun 1962 olehIslamic Development Bank (IDB) dan dilanjutkan oleh beberapa negara setelahnya. Hingga akhirnya sampai di Indonesia pada tahun 1992 oleh Bank Muamalat. Perkembangannya di Indonesia cukup pesat dan diikuti oleh munculnya berbagai bank syariah yang menganut dual banking system salah satunya adalah Bank Mandiri Syariah.

Meskipun belum 100% menganut sistem syariah, namun kehadiran bank tersebut telah memberikan angin yang cukup segar bagi perkembangan perekonomian di Indonesia. Salah satunya dengan munnculnya berbagai instrumen yang mendukung ekonomi islam, seperti surat berharga syariah, asuransi syariah, deposito syariah dan sebagainya. Hal itu membuat para pengusaha semakin nyaman dengan sistem ini. Bahkan, banyak pengusaha non muslim yang turut menikmati hasil dari sistem perekonomian ini.

Pakar-pakar ekonomi islam pun mulai muncul, seperti Dr. Syafiin Antonio yang sangat konsen dan mendukung sistem ini, diikuti dengan munculnya kurikulum dan jurusan ekonomi islam di berbagai universitas guna mendukung dan mensosialisasikan sistem ini. Karena ekonomi islam bagaikan sebuah mata air yang hadir ditengah ancaman kapitalisme yang terus menyudutkan rakyat kecil. Kesadaran masyarakat akan pentingnya ekonomi islam sangatlah dibutuhkan agar semakin banyak yang tersadarkan dengan begitu menguntungkannya sistem ini.

Di Indonesia saja, praktek ekonomi islam diwujudkan dengan banyaknya UU yang mengatur perekonomian syariah dan berbagai instrumennya. Hal tersebut adalah bentuk apresiasi dari pemerintah untuk mengaplikasikan sistem ini. Harapannya, sistem ini dapat terus disosialisasikan agar masyarakat tersadar bahwa ekonomi islam bukanlah sebuah kampanye agama, melainkan sebuah sistem yang bertujuan untuk menyejahterakan seluruh masyarakat dengan nilai-nilai islam yang adil, sejahtera dan menjunjung kemakmuran.

Instrumen ekonomi islam tersebut juga dapat menjadi sebuah solusi dalam menyelesaikan permasalahan di negeri ini. Contohnya saja, dengan adanya wakaf produktif maka tanah wakaf dapat dibangun dengan apartemen yang keuntungannya dapat disalurkan kepada masyarakat yang kurang mampu. Atau wakaf tunai yang mampu menyelesaikan permasalahan infrastruktur yang belum merata.

Dengan diterapkannya sistem ini, diharapkan para pengusaha akan semakin tergugah untuk membangun usaha dengan karena tidak dibebankan bunga ketika meminjam modal usaha. Dengan hal itu, produktivitas akan semakin meningkat sehingga semakin banyak pengusaha yang lahir dan mendukung pertumbuhan perekonomian nasional.

Diharapkan, implementasi dari sistem ekonomi islam yang menjunjung tinggi kesejahteraan dan pemerataan masyarakat mampu diimplementasi dan mampu bertransformasi dengan nilai-nilai pancasila yang telah ada di Indonesia. Karena, pada prinsipnya, ekonomi islam memberikan kesempatan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mampu mencapai kesejahteraannya sesuai dengan pancasila ayat kelima yang berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

Ditulis oleh
Naufal Haidar Farras
Staff Divisi Acara Departemen Kajian dan Penelitian Kelompok Studi Ekonomi Islam FEB Universitas Diponegoro periode 2016-2017

Pendidikan Ekonomi Syariah Sebagai Instrumen Untuk Meningkatkan Pembangunan Ekonomi Negara

Di Indonesia saat ini pekermbangan pendidikan ekonomi syariah sudah mulai berkembang cukup pesat. Hal ini ditandai dengan munculnya program studi di berbagai perguruan tinggi baik yang berada di bawah naungan Kementerian Agama ataupun berada di bawah nauangan Kementerian Riset, Teknogi dan Pendidikan Tinggi. Tidak hanya program studi, ada juga berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh beberapa organisasi berkaitan dengan ekonomi syariah.
Meskipun relaif banyak yang sudah memfasilitasi terkait dengan pendidikan ekonomi syariah, namun masih terdapat permasalahan yang berkaitan dengan hal tersebut. Permasalahan ini terkait dengan kualitas pendidikan ekonomi syariah yang masih perlu ditingkatkan guna menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk itu diperlukan sejumlah langkah stategis guna meningkatkan kualitas pendidikan ekonomi syariah sehingga pendidikan ekonomi syariah terutama di Indonesia memiliki daya saing di dunia internasional.
Salah satunya yaitu perlunya peningkatan kualitas kurikulum pendidikan ekonomi syariah. Cara penyelesaian hal tersebut diantaranya perlunya standarisasi kurikulum pendidikan ekonomi syariah, baik yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi maupun lembaga atau organisasi yang ada. Selain itu, alangkah baiknya jika kurikulum pendidikan ekonomi syariah dapat disesuaikan ataupun beradaptasi dengan perkembangan masa. Untuk itu diperlukan adanya koordinasi antara pemerintah dengan berbagai lembaga ataupun organisasi yang ada guna melalukan evaluasi untuk kemudian menysusun aturan yang terkait dengan kurikulum pendidikan ekonomi syariah tersebut.
Namun, disisi lain tidak hanya kurikulum pendidikan ekonomi syariah saja yang perlu diperbaiki. Pihak lembaga ataupun organisasi yang telah memfasilitasi pendidikan ekonomi syariah juga harus memastikan kualitas sumber daya tenaga pendidik yang ada. Jika tenaga pendidik memiliki kualitas sumber daya manusia yang bagus, tentu hal ini akan berpengaruh pada sumber daya yang akan dididik olehnya nanti.
Selain itu diperlukan adanya dukungan dari pemerintah terkait dengan perkembangan pendidikan ekonomi syariah, misalnya saja melalui penyediaan fasilitas penunjang guna meningkatkan kualitas pendidikan ekonomi syariah yang ada. Dengan adanya fasilitas yang lengkap, yangmana disediakan oleh pemerintah diharapkan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pendidikan akan menjadi lebih mudah, sebagai contoh fasilitas yang disediakan pemerintah untuk mempermudah penelitian – penelitian yang ada pada perguruan tinggi, hal ini tentunya akan meningkatkan kualitas dari pendidikan itu sendiri.
Selain itu perlu adanya koordinasi dengan dunia industri sebagai sarana untuk mengaplikasikan perkembangan ekonomi syariah yang ada. Dunia industri seperti yang kita tahu bahwasannya dunia industri juga memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan perekonomian, salah satunya adalah yang menerapkan sistem ekonomi syariah, yang pada dasarnya tentu saja memerlukan sumber daya yang berkualitas, salah satunya sumber daya manusia. Industri ini tidak hanya yang berkaitan dengan produksi saja tentunya, bisa juga industr yang berkaitan dengan keuangan.
Hal – hal tersebut tentu saja berguna bagi perkembangan pendidikan ekonomi syariah yang ada, dengan demikian tentu akan menghasilkan sumber daya – sumber daya manusia yang berkualitas, jika sumber daya manusia berkualitas tentu akan mampu meningkatkan berbagai aktivitas yang ada terutama berkaitan dengan pengelolaan sumber daya yang ada, salah satunya adalah sumber daya manusia. Dengan demikian, hal tersebut akan mampu meningkatkan pembangunan ekonomi suatu negara.

Ditulis oleh
Redita Aprilia
Staff Ahli Divisi Jaringan Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Ekonomi Islam dalam Perspektif Pembangunan Masa Depan

Ekonomi berasal dari bahasa yunani “oikos” yang berarti rumah tangga, keluarga dan “nomos” yang berarti peraturan, aturan, hukum. Secara garis besar, ekonomi diartikan sebagai “aturan rumahtangga” atau “manajemen rumah tangga”. Seperti yang kita ketahui ekonomi merupakan salahsatu hal yang memiliki pengaruh besar atas suatu aturan bahkan subuah tatanan pemerintahan (komunis dan liberalis misalnya).

Dalam bidang ekonomi Islam, seseorang tidak boleh memaksakan diri berhutang sebelum ia meninjau terlebih dahulu kekayaan yang dimilikinya, masih cukup atau memang tidak mencukupi. Demikian pula halnya dengan negara; suatu negara tidak boleh mengimpor barang dari negara lain sebelum ia meninjau kekayaan yang dimilikinya, dan juga kemampuan yang ada padanya. Bercermin dari hal ini, kita bisa bertanya: Tidakkah kekayaan jiwa, kekayaan pemikiran, dan kekayaan hati itu bisa dibangun, sebagaimana halnya kekayaan material yang ada pada diri manusia?

Pasti bisa! Apa lagi kita berada di negara Indonesia yang mayoritas masyarakat muslim. Kekayaan sumber daya dan modal semangat kita tidak akan tumbang jika kita tidak berfikir untuk meng impor prinsip-prinsip dan ideologi yang dibuat oleh makhluk yang memiliki keterbatasan berfikir. Seseorang bertanya mengapa islam dikatakan agama rahamatan lil alamin namun penganutnya kebanyakan terihat miskin, menderitan dan bodoh(jumud), sedangkan orang nonislam – yahudi misalnya – justru menjadi sekelompok orang yang kaya dan bahkan hampir menguasai berbagai sektor ekonomi dunia. Masalah apa yang terjadi disini?, Masalah yang membuat orang-orang berfikir agama hanya sebuah praktik ritual peribadatan dan harus terlepas dari sendi-sendi kehidupan sosial kemasyarakatan. Agama islam ini bersifat sempurna dan tidak memiliki kecacatan apapun, sedangkan muslim dalah seorang makhluk – yaitu manusia yang memiliki kekurangan. Seseorang yang mengamalkan Islam secara keseluruhan maka ia akan dekat dengan kesempurnaan. Jika anda tidak percaya kenapa tidak anda buktikan sendiri dengan mengamalkan ajaran islam secara keseluruhan.

Jikalau ada satu saja golongan masyarakat yang didalamnya menerapkan prinsip-prinsip syariat secara syummul/keseluruhan, maka yang akan didapati oleh sekelompok masyarakat tersebut adalah sebuah kemakmuran, kesejahteraan dan tonggak kemajuan peradaban, salah satu buktinyata adalah ketikka dinasti abasiyah tengah berada pada puncak kejayaan. Ketika seluruh syaria’at-syariat islam ditegakkan, dinasti abasiyah memiliki kekuatan politik, kekuatan militer yang kokoh dan menjadi pusat dari peradaban dunia pada masa itu.

Mari kita jadikan potensi ummat yang besar ini, sekaligus pedoman yang sempurna ini yaitu al-qur’an sebagai alat untuk mencapai kejayaan, kesuksesan dan pembangunan tatanan dunia dimasa depan menjadi lebih baik.

Wallahu a’lam bisawwab.

Daftar pustaka :
https://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi
Sayyid Quthb. 1984. Keadilan Sosial dalam Islam. PUSTAKA-Perpustakaan Institut Teknologi Bandung: Bandung.
PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI ABBASIYAH

Ditulis oleh
Khoirun nisa
S1-Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan angkatan 2016 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro