• 0896-6205-4692 (Bahrul)
  • ksei.febundip@gmail.com

Category ArchiveArtikel

EKSYARTICLE – Akselerasi Inklusivitas Keuangan Syariah di Indonesia Melalui Layanan Fintech Syariah

    Teknologi Finansial (fintech) adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem pembayaran (Bank Indonesia, 2018). Dengan demikian fintech syariah adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang berdasarkan syariat atau aturan Islam. Indonesia, sebagai negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia mempunyai potensi yang sangat besar bagi perkembangan fintech syariah, terlebih lagi di era pandemi Covid- 19 ini menuntut adanya digitalisasi dalam berbagai bidang, temasuk finansial ekonomi agar tercipta kemudahan dalam bertransaksi dan menghindari penyebaran Covid- 19 karena transaksi dilakukan secara touchless (tanpa sentuhan)

    Penggunaan fintech tentunya membutuhkan prasarana penting seperti koneksi internet dan perangkat mobile. Hal ini didukung oleh jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 202,6 juta atau sekitar 73,7% dari seluruh penduduk Indonesia dan jumlah perangkat mobile yang terkoneksi mencapai 345,3 juta atau sekitar 125,6% dari seluruh penduduk Indonesia (Kemp, 2021). Dua hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendongkrak tingkat inklusivitas keuangan syariah Indonesia. Menurut OJK, inklusi keuangan didefinisikan sebagai akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan yang bermanfaat dan terjangkau dalam memenuhi kebutuhan masyarakat maupun usahanya  dalam hal ini transaksi, pembayaran, tabungan, kredit dan asuransi yang digunakan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan (OJK, 2017).

         Berdasarkan Global Islamic Fintech Report tahun 2021, Indonesia ada di peringkat  4 pasar fintech syariah dunia. Peringkat satu sampai tiga secara berturut- turut yaitu malaysia, Saudi Arabia, dan U.A.E yang berarti potensi pengembangan fintech di Indonesia sangat besar (Salaam Gateway, 2021). Dengan perkiraan total penduduk muslim sebanyak 229,62 juta jiwa pada tahun 2020, pengguna produk syariah di Indonesia nyatanya masih tergolong rendah (Kusnandar, 2019). Sebagai contoh, menurut laporan dari OJK pada Desember tahun 2020, market share bank syariah di Indonesia hanya 6,51% yang terdiri dari Bank Umum Syariah, Unit Usaha Syariah, dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (OJK, 2021).

Gambar 1. Market Share Perbankan Syariah

Sumber: (OJK, 2021)

       Berdasarkan data tersebut, maka terdapat lebih dari 90% masyarakat indonesia yang tidak memiliki rekening bank syariah per Desember 2020. Padahal, sebuah sistem keuangan yang inklusif harus memiliki pengguna sebanyak mungkin, oleh karena itu sistem keuangan inklusif harus menjangkau secara luas di antara pengguna (Umar, 2017). Dengan adanya inovasi keuangan syariah berupa fintech syariah, diharapkan dapat memberikan layanan keuangan syariah kepada mereka yang tidak memiliki rekening bank syariah tertentu sehingga percepatan inklusi keuangan syariah dapat lebih cepat tercapai (Rabbani, et al., 2021). Layanan fintech syariah sendiri sudah memiliki payung hukum yaitu Peraturan OJK (POJK) Nomor 77 Tahun 2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dan Fatwa DSN- MUI No: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah serta Fatwa DSN- MUI No. 117 / DSN-MUI / II / 2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah.

    Selama masa pandemi ini, fintech syariah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Akumulasi pembiayaan yang disalurkan (fintech syariah) sudah Rp1,3 triliun yang artiya memiliki growth sekitar 198% dibanding tahun lalu (Ihsanudin, 2020). Dalam hal pembiayaan P2P lending syariah juga mengalami peningkatan sebesar Rp500 miliar per Desember 2020 dibandingkan september 2020 sehingga totalnya menjadi Rp1,7 triliun (Wulandari, 2021). Hal serupa juga diungkapkan CEO fintech ALAMI, Dima Djani, menurutnya kondisi ALAMI sangat baik di masa pandemi, bahkan penyaluran bulanan meningkat hingga lima kali lipat. Kenaikan-kenaikan tersebut diharapkan dapat meningkatkan inklusivitas serta memperbesar market share keuangan syariah.

     Namun, ada beberapa hal juga yang menjadi tantangan dalam pengembangan fintech berbasis syariah kedepannya yaitu kesadaran yang rendah pada masyarakat Indonesia untuk bertransaksi secara digital, yakni baru 35% sumber daya manusia yang berkompeten di bidang ekonomi syariah dan pertumbuhan ekonomi syariah yang cenderung lambat dengan market share yang kecil (Subagiyo, 2019).

       Fintech syariah sendiri sudah memiliki payung hukum dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Fatwa dari DSN- MUI. Perkembangan fintech syariah selama pandemi ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini mungkin dikarenakan masyarakat mencari alternatif pembayaran non- tunai yang tanpa sentuhan (touchless) untuk menghindari penyebaran Covid- 19 tetapi tetap sesuai dengan syariat agama Islam. Namun, perkembangan Fintech syariah kedepannya, masih memerlukan segenap dukungan dan partipsipasi baik dari pemerintah, pengembang aplikasi, konsumen, bank, maupun lembaga- lembaga keuangan syariah yang lain.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bank Indonesia, 2018. Mengenal Financial Teknologi. [Online]
Available at: https://www.bi.go.id/id/edukasi/Pages/mengenal-Financial-Teknologi.aspx
[Accessed 23 June 2021].

DSN-MUI, 2018. Ini Fatwa Terbaru DSN MUI Tentang Uang Elektronik dan Layanan Pembiayaan Berbasis IT. [Online]
Available at: https://mui.or.id/berita/11352/ini-fatwa-terbaru-dsn-mui-tentang-uang-elektronik-dan-layanan-pembiayaan-berbasis-it/
[Accessed 21 Juni 2021].

Ihsanudin, M., 2020. Pandemi Covid-19 Membawa Berkah bagi Fintech Syariah. [Online]
Available at: https://knks.go.id/berita/336/pandemi-covid-19-membawa-berkah-bagi-fintech-syariah?category=1
[Accessed 23 Juni 2021].

Kemp, S., 2021. Digital 2021 Indonesia. [Online]
Available at: https://datareportal.com/reports/digital-2021-indonesia
[Accessed 23 Juni 2021].

Kusnandar, V. B., 2019. Indonesia Negara dengan Penduduk Muslim Terbesar Dunia. [Online]
Available at: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/09/25/indonesia-negara-dengan-penduduk-muslim-terbesar-dunia
[Accessed 22 Juni 2021].

OJK, 2016. RPOJK Fintech Layanan Pinjam Uang. [Online]
Available at: https://www.ojk.go.id/id/regulasi/otoritas-jasa-keuangan/rancangan-regulasi/Documents/rpojk-fintech-layanan-pinjam-uang.pdf
[Accessed 21 Juni 2021].

OJK, 2017. Sikapi Uangmu. [Online]
Available at: https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/10532
[Accessed 22 Juni June 2021].

OJK, 2021. Snapshot Perbankan Syariah Desember 2020. [Online]
Available at: https://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/berita-dan-kegiatan/publikasi/Pages/-Snapshot-Perbankan-Syariah-Desember-2020.aspx
[Accessed 24 June 2021].

Rabbani, M. R. et al., 2021. Exploring the Role of Islamic Fintech in Combating theAftershocks of COVID-19: The Open Social Innovation of theIslamic Financial System. Journal of Open Innovation: Technology,Market, and Complexity, 136(7), pp. 1-19.

Salaam Gateway, 2021. Global Islamic Fintech Report 2021 Executive Summary. [Online]
Available at: https://cdn.salaamgateway.com/special-coverage/islamic-fintech-2021/Global-Islamic-Fintech-Report-2021-Executive-Summary
[Accessed 23 Juni 2021].

Subagiyo, R., 2019. ERA FINTECH: PELUANG DAN TANTANGAN BAGI. el-JIZYA Jurnal Ekonomi Islam| Islamic Economics Journal, 7(2), pp. 1-18.

Umar, A. I., 2017. INDEX OF SYARIAH FINANCIAL INCLUSION IN INDONESIA. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, 20(1), pp. 1-28.

Wulandari, R., 2021. Akumulasi Pencairan Pinjaman Fintech Syariah Capai 17 T. [Online]
Available at: https://www.republika.co.id/berita/qo1uhz370/akumulasi-pencairan-pinjaman-emfintechem-syariah-capai-rp-17-t
[Accessed 23 Juni 2021].

 

EKSYARTICLE – Menelisik Perkembangan dan Produk-Produk Pasar Modal Syariah di Indonesia

Pendahuluan :

             Terdapat banyak sektor perekonomian yang dapat memajukan perekonomian, salah satunya adalah pada sektor investasi. Investasi merupakan salah satu sektor yang  dapat mendorong terjadinya laju perekonomian secara signifikan, contohnya adalah pada sektor pasar modal. Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia. Untuk itu pemerintah berusaha menghadirkan pasar modal syariah pada tahun 2003. Dengan didirikan pasar modal syariah  diharapkan ekonomi islam dapat berjaya kembali dan menghadirkan solusi yang lebih baik.

              Satu dekade telah terlewatkan sejak diluncurkannya Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) pada tanggal 12 Mei 2011 (BEI, 2021). Direktur BEI Inarno Djadadi mengungkapkan bahwa sampai bulan Maret 2021 saham syariah telah mengalami peningkatan sebesar 83,1%, hal itu juga diikuti oleh bertumbuhnya investor syariah sebesar 17,191% sejak diluncurkannya Shariah Online Trading System (SOTS) di tahun yang sama. Tidak hanya pada saham syariah, reksa dana syariah mengalami lonjakan yang sangat tinggi. Tercatat dari tahun 2011 sampai 2020 reksa dana syariah tumbuh sebesar 1.238% dari Rp. 6 triliun hingga Rp. 74 triliun (OJK, 2021). Selain dua produk syariah tersebut, sukuk korporasi syariah juga bertumbuh dari dari Rp. 6 triliun sampai Rp. 30 triliun pada tahun 2020 (OJK, 2021).

Isi :

Sumber : OJK

             Tabel diatas merupakan data yang dituturkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada seminar online dengan judul Berkah Berinvestasi Di Pasar Modal Syariah. Dari data tersebut terlihat bahwa aset keuangan syariah mengalami kenaikan dari tahun 2020 sebesar Rp. 1.757,86 triliun menjadi Rp.  1.823,13 triliun pada bulan Januari 2021. Hal tersebut tidaklah termasuk saham syariah, yang tercatat Rp. 3.344,93 triliun pada Januari 2021. Secara presentase market share pasar modal syariah menyumbang 59% dari seluruh aset keuangan syariah. Sementara itu pasar modal syariah juga menyumbang sebesar 17,29% dari semua aset di pasar modal Indonesia.

            Dari data pada tabel yang disajikan sebelumnya mungkin masih banyak yang awam dengan produk pasar modal syariah. Berikut merupakan penjelasan mengenai macam-macam produk pasar modal syariah berdasarkan data dari OJK :

  • Saham Syariah, merupakan sebuah bentuk kepemilikan atas perusahaan yang efeknya termasuk ke dalam Saham Syariah. Kepemilikan atas saham syariah dapat diperoleh dengan memesan efek terlebih dahulu ataupun dengan transaksi waran syariah (OJK, 2017).
  • Sukuk, ialah salah satu bentuk kepemilikian atau sertifikat atas penerbitan sukuk. Selain itu akad yang dipakai ada beraneka macam yaitu Akad Ijarah, Mudharabah, Musyarakah, Wakalah, dsb. Sukuk di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu sukuk korporasi dan sukuk negara. Letak perbebedaannya adalah sukuk korporasi tidak diperjualbelikan secara ritel sedangkan sukuk negara dijual dalam bentuk ritel (KNKS, 2020).
  • Reksa Dana Syariah, dengan reksa dana investor dapat mengeluarkan dana yang lebih sedikit, karena akan dihimpun secara luas dan di ivestasikan oleh manajer investasi (KNKS, 2020). Produk ini cocok bagi pemula yang belum mempunyai pengetahuan tentang investasi
  • EBA Syariah, adalah bentuk efek sekuritasi aset yang menggunakan prinsip syariah. Produk pasar modal syariah ini terdiri dari dua bentuk. Pertama, kontrak investasi kolektif antara manajer investasi dan bank kustodian yang terdiri dari aset keuangan piutang, pembiyaan atau aset keuangan lainnya. Sedangkan yang kedua berbentuk surat partisipasi (EBA-SP) yang terdiri dari kumpulan piutang dan pembiyaan rumah (BEI, 2018).
  • Dire Syariah, merupakan wadah investasi Real Estat dengan mengumpulkan dana dari masyarakat pemodal. Produk ini dikatakan memenuhi prinsip syariah jika akad dan cara pengelolaannya tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
  • SCF Syariah, produk ini merupakan alternatif bagi pendanaan UMKM.

          Perkembangan pasar modal syariah di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan dengan produk-produk syariah yang diperjualbelikan pada pasar modal syariah. Khususnya pada tahun 2019 dan 2020 Bursa Efek Indonesia (BEI) meraih penghargaan sebagai penghargaan The Best Islamic Capital Market dari Global Islamic Finance Award (GIFA). Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan bahwa dengan diraihnya penghargaan tersebut membuktikan bahwa produk pasar modal telah memenuhi transaksi saham yang end-to-end dengan prinsip syariah.

Kesimpulan :

            Pasar modal syariah di Indonesia mengalami pergerakan yang positif selama sepuluh tahun terakhir. Perkembangan tersebut menjadikan peluang pasar modal syariah semakin besar dan dapat meluas di masyarakat umum. Apalagi landasan yang digunakan sudah berdasarkan prinsip-prinsip syariah yang diridhai Allah SWT. Ditambah dengan upaya lembaga pemerintah seperti OJK dan BEI  maupun non-pemerintah yang aktif dalam mengadakan seminar online mengenai pengenalan pasar modal syariah serta produk-produknya. Upaya tersebut diharapkan dapat menambah literasi pasar modal syariah indonesia, sehingga masyarakat tidak memiliki keraguan dalam berinvestasi disana.

 

Daftar Pustaka :

BEI, 2021. Peringatan Satu Dekade Kebangkitan Pasar Modal Syariah Indonesia. [Online]
Available at: https://idxislamic.idx.co.id/whats-on-idx-islamic/peringatan-satu-dekade-kebangkitan-pasar-modal-syariah-indonesia/ [Accessed 27 Mei 2021].

BEI, 2018. Produk Syariah. [Online] Available at: https://www.idx.co.id/idx-syariah/produk-syariah/ [Accessed 26 Mei 2021].

KNKS, 2020. Berinvestasi di Produk Pasar Modal Syariah, Dijamin Kesyariahannya.. [Online]  Available at: https://knks.go.id/berita/326/berinvestasi-di-produk-pasar-modal-syariah-dijamin-kesyariahannya?category=1 [Accessed 25 Mei 2021].

OJK, 2017. Pengantar Daftar Efek Syariah. [Online] Available at: https://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/data-dan-statistik/daftar-efek-syariah/default.aspx [Accessed 26 Mei 2021].

OJK, 2021. Webinar: Berkah Berinvestasi Di Pasar Modal Syariah. [Online] Available at: : https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Document/458 [Accessed 22 Mei 2021].

EKSYARTICLE – Pemberdayaan Umat di Tengah Krisis Melalui Ekonomi Masjid

A. PENDAHULUAN

  Ekonomi masjid merupakan pemaksimalan peran masjid dalam memberdayakan masyarakat. Terdapat dua peran masjid dalam sejarah Islam, masjid mempunyai peran sebagai tempat berhubungan dengan Allah, yakni masjid bermakna vertikal, menyangkut hubungan manusia dengan khalik. Peran masjid juga mencakup sosial kemasyarakatan, yaitu masjid bermakna horizontal (Suwarto, 2012). Selain pusat ibadah, masjid juga digunakan sebagai pusat pemerintahan, politik, Pendidikan, budaya , dan pengembangan ekonomi. Selain itu masjid juga berperan dalam melahirkan tokoh – tokoh penting tidak hanya dibidang hukum Islam, tetapi juga pakar matematika, filsafat, astronomi, kimia, biologi, seni, arsitektur, dan ekonomi (Bakar, 2007).

B. ISI

 Masjid dalam sejarah peradaban Islam merupakan sarana untuk melakukan dakwah dan pengembangan sumber daya ekonomi umat Islam. Setiap jama’ah dalam membangun masjid, berorientasi untuk melakukan dakwah dan sekaligus memberdayakan ekonomi jama’ah dan masyarakat yang ada di sekitar masjid (Hasyim, 2016). revitalisasi fungsi masjid sebagai wadah melakukan dakwah dan pemberdayaan umat merupakan implementasi dari peran masjid secara luas. Potensi masjid di Indonesia sebagai Pemberdayaan ekonomi umat sangat besar, dengan jumlah masjid mencapai 277.877 yang tersebar diseluruh wilayah di Indonesia.

Gambar 1. Data Masjid di Indonesia (SIMAS, 2021)

  Terkait dengan potensi ekonomi masjid, sekarang ada beberapa unit usaha jama’ah masjid yaitu Koperasi simpan pinjam antar pengurus, wartel, wc umum, penitipan sendal dan sepatu, arisan majelis taklim, dan toko milik masjid. Usaha yang pertama yakni Koperasi simpan pinjam adalah upaya di antara sesama pengurus untuk mengatasi kebutuhan harian dan saling membantu mereka bermufakat mendirikan koperasi simpan pinjam. Kedua, Wartel. Kebutuhan informasi daan telekomunikasi saat ini, ditambah tempat yang strategis membuat keberadaan warung telekomunikasi ini sangat dibutuhkan masyarakat. Ketiga, wc umum. Jasa yang satu ini sangat dibutuhkan masyarakat apalagi apabila masjid berada di lokasi keramaian pasar. Pengurus beriniasiatif menyediakan wc umum yang cukup representatif usaha jasa ini sangat menguntungkan dan meraup keuntungan yang berlipan ganda. Keempat, Penitipan Sandal dan Sepatu. Jasa yang satu ini juga lahan potensi ekonomi yang sangat potensial jika dikelola secara bagus dan profesional, terbukti infak yang terkumpul pertahunnya mencapai jutaan rupiah. Kelima, Arisan Jamaah Majlis Taklim. Ada inisiatif dari jamaah wirid majlis taklim untuk mengadakan arisan. Hal ini masih berjalan dan perputaran uang pada sekali putaran mencapai puluhan juta. Keenam, Toko milik masjid. Masjid telah mengembangkan toko sebagai sarana pengembangan modal pembiayaan masjid. Tujuh, Jasa ambulan. Jasa ini juga sangat dibutuhkan dengan perkembangan masyarakat dan berbagai sektor (Hasyim, 2016).

  Adapun langkah – langkah revitalisasi dan realisasi potensi kekuatan umat berbasis masjid. Antara lain, Pertama, mendata potensi jamaah masjid meliputi: pendataan jamaah masjid kategori mampu dan tidak mampu, diversifikasi mata pencaharian masing-masing individu jamaah masjid, latar belakang pendidikan para jamaah, dan data kependudukan yang bersifat standar, seperti usia dan jenis kelamin. Pengurus masjid juga harus menganalisis tingkat partisipasi jamaah dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan sebagai indikator kemakmuran masjid. Kedua, mendata potensi ekonomi lingkungan sekitar masjid, termasuk menganalisis potensi ekonomi masyarakat yang tinggal disekitar masjid, termasuk analisis potensi strategis lokasi masjid. Ketiga, memperkuat jaringan ekonomi dengan masjid lainnya. Jaringan merupakan salah satu sumber kekuatan umat yang harus dikelola dengan baik, sehingga akan memiliki manfaat yang bersifat luas.  Dengan hal ini, maka dapat dipastikan sector riil akan bergerak, dan tingkat pengangguran pun diminimalisasi karena masjid dapat mempekerjakan masyarakat yang tidak mendapat pekerjaan.

C. KESIMPULAN

  Masjid mempunyai peran yang multifungsi, tidak hanya dibidang agama, tetapi meliputi bidang ekonomi, politik, sosial, dan Pendidikan dalam membangun umat. Dewasa ini salah satu persoalan yang dihadapi umat Islam adalah masalah kemiskinan, ketimpangan, dan sulitnya akses ekonomi, terlebih dikondisi pandemi dan krisis seperti sekarang. Ibnu Khaldun pernah berkata “Ekonomi adalah tiang dan pilar paling penting untuk membangun peradaban Islam (Imarah). Tanpa kemapanan ekonomi, kejayaan Islam sulit dicapai bahkan tak mungkin diwujudkan. Ekonomi penting untuk membangun negara dan menciptakan kesejahteraan umat”. Hal ini dapat diwujudkan melalui ekonomi masjid, Apabila umat Islam memiliki komitmen dalam memberdayakan masjid sebagai pusat kegiatan perekonomian, maka berbagai permasalahan yang terkait dengan rendahnya tingkat kesejahteraan umat akan dapat diatasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Yamali, F. R. & Putri, R. N., 2020. Dampak Covid-19 Terhadap Ekonomi Indonesia. Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JIAP), Volume I, p. 386.

Suwarto, 2012. Peranan Majid dalam Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Masjid Riyad Surakarta, Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Bakar, H. A., 2007. Manajemen Masjid Berbasis II H. Abu Bakar. Yogyakarta: Arina.

Hasyim, S. L., 2016. Strategi Masjid Dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat. Jurnal Lentera, XIV(Lentera), p. 279.

Hasyim, S. L., 2016. Strategi Masjid Dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat. Jurnal Lentera, XIV(Lentera), p. 284.

 

EKSYARTICLE – Vaksin Halal: Katalisator Perkembangan Produk Farmasi Halal Indonesia

A. PENDAHULUAN

     Virus COVID-19 telah menemani kita selama kurang lebih 1 tahun, menyelimuti manusia dengan ketakutan akan kematian. Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) menyebutkan total kasus COVID-19 di Indonesia sampai 11 April 2021 tercatat 1.566.995 kasus positif, dengan 42.530 kasus meninggal (KPCPEN, 2021). Dengan kasus sebanyak itu menyebabkan munculnya vaksinasi sebagai bagian dari penanganan COVID-19 di Indonesia, selain 3M (Memakai masker, Menjaga jarak dan hindari kerumunan, Mencuci tangan pakai sabun) dan 3T (Testing, Tracing, Treatment).

     Pemberian vaksinasi ini dibagi atas 4 tahapan dengan mempertimbangkan ketersediaan, waktu kedatangan dan tahapan pelaksanaan vaksinasi COVID 19. Vaksinasi mulai diberlakukan dengan total sasaran sebesar 10.002.901. Penduduk Indonesia sebagian besar beragama muslim sehingga pemberlakuan vaksinasi dengan vaksin COVID-19 wajib dipastikan kehalalannya. Penanganan tersebut diserahkan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait dengan Komisi Fatwa MUI Pusat. Vaksinasi sendiri merupakan bentuk dari produk farmasi sehinggga perkembangannya mmpu meningkatkan pangsa pasar farmasi Indonesia. Pada tahun 2023 diperkirakan pangsa pasar farmasi akan naik sebesar 7.1 persen menjadi USD 131 miliar (KNKS, 2018). Faktanya farmasi merupakan salah satu industri andalan yang ditetapkan oleh Kementerian Perindustrian dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional. Urgensi ini menjadi tantangan serta potensi bagi Indonesia untuk mengembangkan vaksin halal yang akan meningkatkan industri farmasi halal Indonesia.

B. ISI

     Data vaksinasi Indonesia terlihat di gambar, pada 14 Januari sampai 10 April 2021 sudah mencapai 3,7 % atas total 10.002.901 sebagai penerima minimal 1 dosis vaksin.

Grafik 1 Jumlah Vaksinasi COVID-19 di Indonesia

     Dalam Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2021 tentang produk vaksin COVID-19, vaksin yang diproduksi Sinovac Life Sciences Co. Ltd. China dan  PT. Bio Farma (Persero) hukumnya suci dan halal (MUI, 2021). Vaksin Covid-19 ini boleh digunakan untuk umat Islam sepanjang terjamin keamanannya menurut ahli yang kredibel dan kompeten.  Dikarenakan fakta diatas membuat pemerintah dengan  segera melakukan vaksinasi di Indonesia menggunakan vaksin Sinovac. Namun karena kekurangan terkait vaksin sinovac yang ada di Indonesia menjadikan pemerintah mencari vaksin lain, salah satunya adalah vaksin AstraZeneca. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa Nomor 14 tahun 2021 tentang Hukum Penggunaan Vaksin AstraZeneca, memiliki kandungan haram yaitu dalam proses pembuatannya memanfaatkan tripsin yang berasal dari babi namun hukumnya dibolehkan atau mubah (MUI , 2021).

     Untuk memenuhi target sasaran pemerintah yang totalnya masih jauh dibanding jumlah vaksin Indonesia. Biologi Molekuler Eijkman, PT Kalbe farma, dan PT Biofarma mencoba menciptakan vaksin hasil produksi Indonesia. Apabila hasilnya menjanjikan, vaksin akan siap diedarkan awal tahun 2022 (KEMKES RI, 2021). Hal tersebut membuat Indonesia memiliki potensi dalam industri farmasi untuk terus mengembangkan vaksin corona yaitu Vaksin Merah Putih.

Grafik 2 Pangsa Pasar Farmasi di Indonesia

     Berbicara tentang bidang farmasi dalam industri halal Indonesia, terdapat grafik pangsa pasar farmasi dalam negeri Indonesia. Hal ini menjadi bukti bahwa negara berkembang produk farmasinya cenderung lebih cepat tumbuh, karena secara agregat mengikuti indikator makroekonomi. Berdasarkan Euromonitor Consumer Health in Indonesia Country Report 2017, pangsa pasar farmasi Indonesia pada tahun 2019 nilainya mencapai Rp 55,874.9 miliar. State of Global Islamic Report mengatakan konsumsi muslim terhadap produk farmasi dan kimia dari tahun 2013-2017 menunjukkan tren yang meningkat (KNKS, 2018). Urgensi pengembangan vaksin halal dalam negeri tentu saja menjadi potensi atau batu loncatan Indonesia untuk mendorong menuju industri halal bidang farmasi nasional maupun iternasional.

C. KESIMPULAN

   Urgensi vaksin menjadikan pemerintah bergerak secara cepat dengan mengimpor vaksin sinovac dan astrazeneca. Namun faktanya kedua vaksin tersebut dikatakan masih kurang untuk memenuhi target. Oleh karena itu, muncullah percobaan penciptaan vaksin Indonesia yaitu Vaksin Merah Putih. Dengan melihat vaksin sebelumnya yang telah digunakan pemerintah sebagai evaluasi kekurangan masing-masing. Diharapkan vaksin buatan Indonesia ini mampu menjadi vaksin halal, memiliki efikasi vaksin yang tinggi, disertai dengan efek samping yang sedikit. State of Global Islamic Report mengatakan konsumsi muslim terhadap produk farmasi dan kimia dari tahun 2013-2017 menunjukkan tren yang meningkat. Jadi apabila vaksin ini mampu memenuhi harapan yang ada mampu mewujudkan perkembangan industri halal dalam bidang farmasi Indonesia. Dengan adanya urgensi, tantangan, serta potensi tersebut dibutuhkan kepekaan untuk bisa dimanfaatkan dengan tujuan kemajuan produk halal Indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA

KEMKES RI. (2021). Artikel Sehat. Dipetik April 12, 2021, dari p2ptm.kemkes.go.id: http://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/vaksin-corona-buatan-indonesia-siap-edar-tahun-2022

KNKS. (2018). Masterplan Eksyar. Dipetik April 14, 2021, dari knks.go.id: https://knks.go.id/storage/upload/1573459280-Masterplan%20Eksyar_Preview.pdf

KPCPEN. (2021, April 11). Data sebaran COVID-19 di Indonesia. Dipetik April 11, 2021, dari covid19.go.id: https://covid19.go.id/

MUI . (2021, Maret 19). Fatwa MUI. Dipetik April 12, 2021, dari mui.or.id: https://mui.or.id/produk/fatwa/29883/fatwa-mui-hukum-penggunaan-vaksin-covid-19-produk-astrazeneca/

MUI. (2021). Fatwa MUI. Dipetik April 12, 2021, dari mui.or.id: https://mui.or.id/category/produk/fatwa/

MUI. (2021, Januari 20). Fatwa MUI. Dipetik April 12, 2021, dari mui.or.id: https://mui.or.id/produk/fatwa/29485/fatwa-mui-no-02-tahun-2021-tentang-produk-vaksin-covid-19-dari-sinovac-life-sciences-co-ltd-china-dan-pt-biofarma/

 

EKSYARTICLE – Pentingnya Literasi Keuangan Syariah dalam Menjadikan Indonesia sebagai Pusat Keuangan dan Ekonomi Syariah Dunia

A. Pendahuluan

    Diperkirakan pada tahun 2020 jumlah umat muslim di Indonesia mencapai 229,62 juta jiwa (Toni, 2020). Hal ini menjadikan Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi salah satu pusat keuangan dan ekonomi Syariah dunia. Dalam mencapai hal tersebut maka diperlukan dukungan melalui peningkatan literasi keuangan syariah di Indonesia.  Berdasarkan peraturan OJK, Nomor 76 /POJK.07/2016 menyatakan  bahwa Literasi Keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan, yang mempengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan dalam rangka mencapai kesejahteraan.

Berdasarkan data dari OJK di setiap 100 penduduk di Indonesia hanya terdapat 21 orang yang well-literate (indeks literasi keuangan 21,84%). Demikian halnya untuk inklusi keuangan, dari 100 penduduk Indonesia, hanya 59 orang yang memiliki akses terhadap produk/layanan jasa keuangan (indeks inklusi keuangan 59,74%) (OJK, 2017). Selain itu, untuk literasi keuangan syariah sendiri berdasarkan data dari OJK literasi keuangan syariah masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong sangat rendah yaitu pada 10 ribu orang hanya terdapat 2 orang yang memiliki tingkat literasi keuangan syariah yang baik (Nasution & AK, 2019).

Maka dari itu, dengan segala potensi yang ada diperlukan peningkatan literasi keuangan syariah untuk dapat menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan dan ekonomi syariah dunia. Hal ini pun tidak lepas dari peran mahasiswa dalam meningkatkan literasi serta dalam mencerdaskan masyarakat sekitar.

B. Isi

    Salah satu hal yang menyebabkan kondisi literasi keuangan Syariah yang rendah tersebut adalah penduduk Muslim Indonesia sebagai mayoritas tidak dapat merasakan secara langsung dampak positif ekonomi keberadaan keuangan Syariah. Maka dari itu, diperlukan sebuah upaya untuk dapat meningkatkan literasi keuangan syariah terutama pada generasi muda sebagai ujung tombak bangsa.

Gambar 2.1 Pembagian Usia dan Fase Materi Literasi Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNKS, 2019)

    Dalam hal ini, penulis membagi upaya tersebut kedalam dua langkah khusus yaitu pada usia 16-18 tahun dan usia 19-23 tahun. Pada fase 16-18 tahun diperlukan sebuah pembelajaran pengetahuan lanjutan ekonomi dan keuangan Syariah disertai dengan latihan praktek. Materi ekonomi dan keuangan Syariah yang dipelajari pada tahap ini adalah zakat dan pajak, hukum Islam dan hukum positif, kurban dan akikah, ekonomi Syariah, dan memahami beberapa akad yang halal dan yang haram seperti riba, gharar, mahysir, haram, dzolim, dharar. Pengetahuan ekonomi dan keuangan Syariah pada masa ini yaitu pemahaman fungsi perekonomian halal dan lembaga-lembaga keuangan Syariah komersil dan sosial dalam keuangan pribadi dan keluarga. Sedangkan  pada fase usia 19-23 tahun diharapkan melalui pembekalan terkait  pemahaman aqidah pada fase sebelumya dapat menanamkan aqidah yang benar, mengevaluasi kesalahan, menjaga keimanan. Pada masa ini, individu sudah memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan pribadi yaitu mulai berpartisipasi dalam usaha meningkatkan ekonomi masyarakat dan menjaga lingkungan hidup melalui gaya hidup yang sesuai Syariah. Pengetahuan Syariah diaplikasikan dalam hal kemampuan mengambil keputusan keuangan berdasarkan informasi yang tepat, melakukan negosiasi, dan memahami dampak keputusan tersebut bagi kondisi pribadi, keluarga, kelompok, masyarakat, dan lingkungan.

C. Penutup

    Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia sudah seharusnya umat Islam Indonesia dapat memberikan peran dalam menyajikan sebuah literasi keuangan yang baik. Dalam hal ini, peran kita sebagai mahasiswa atau kaum intelektual sangatlah besar untuk dapat membawa masyarakat paham dan turut merasakan arti penting keberadaan ekonomi syariah. Tentunya, hal ini dikukan untuk dapat menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan dan ekonomi syariah dunia.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

KNKS, 2019. STRATEGI NASIONAL PENGEMBANGAN MATERI EDUKASI UNTUK PENINGKATAN LITERASI EKONOMI DAN KEUANGAN SYARIAH, Jakarta: Direktorat Pendidikan dan Riset Keuangan Syariah Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS).

Nasution, A. W. & AK, M. F., 2019. Analisis Faktor Kesadaran Literasi Keuangan Syariah Mahasiswa Keuangan dan Perbankan Syariah. EQUILIBRIUM: Jurnal Ekonomi Syariah, 7(1), p. 43.

OJK, 2017. Siaran Pers: OJK: Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Meningkat. [Online]
Available at: https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/Siaran-Pers-OJK-Indeks-Literasi-dan-Inklusi-Keuangan-Meningkat.aspx
[Accessed 26 Maret 2021].

Toni, H., 2020. Dakwah Syarikat Islam dan Kontribusinya dalam Masyarakat Indonesia. Anida (Aktualisasi Nuansa Ilmu Dakwah), 20(2), p. 222.

 

 

 

EKSYARTICLE – Peran Zakat Dalam Mengurangi Dampak Krisis Ekonomi Akibat Pandemi Covid-19

A. Pendahuluan

Pandemi covid-19 berdampak pada kehidupan masyarakat di semua sektor termasuk perekonomian (Fahlefi, Rizal. Ahmad, 2020). Suryo Utomo selaku Dirjen Pajak Kemenkeu, menyampaikan gangguan pada sektor perekonomian akibat Covid-19 berdampak pada tiga hal besar. Pertama, Covid-19 menyebabkan tingkat konsumsi jatuh cukup jauh. Kedua, terhentinya usaha dikarenakan investasi semakin melemah. Ketiga, kegiatan ekspor terhenti dan terjadinya penurunan harga komoditas karena adanya penurunan ekonomi secara global (Fahlefi, Rizal. Ahmad, 2020). Di antara bentuk upaya yang diserukan dan dilakukan oleh dunia dalam rangka mengurangi penyebaran wabah ini adalah dengan social atau physical distancing (Iskandar, Possumah and Aqbar, 2020). Namun sayangnya, pemberlakuan social distancing ini mempengaruhi penurunan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Dalam kajian teori ilmu ekonomi, social atau physical distancing atau pengetatan dan pembatasan aktifitas masyarakat akan berakibat pada penurunan Agregat Supply (AS) dalam perekonomian yang berdampak pada penurunan jumlah produksi atau quantitiy (Q). Kondisi dimana masyarakat yang hanya berdiam diri di rumah (stay at home), berdasarkan hukum supply dan demand, lambat laun akan menyebabkan penurunan permintaan secara agregat atau Agregat Demand (AD) yang berujung pada jumlah produksi yang terus menurun (Hafizah, 2020). Mengingat bahwa aspek-aspek vital ekonomi yaitu supply, demand dan supply-chain telah terganggu, maka dampak krisis akan dirasakan secara merata ke seluruh lapisan atau tingkatan masyarakat. (Iskandar, Possumah and Aqbar, 2020).

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, umat Islam dapat memberikan peran terbaiknya melalui berbagai bentuk atau model philanthropy dalam Ekonomi dan Keuangan Syariah (Iskandar, Possumah and Aqbar, 2020). Salah satu instrument filantropi islam yaitu zakat. Penduduk Indonesia yang mayoritas beragama islam menggambarkan akan besarnya potensi zakat

B. Isi

Cara pertama yang dapat dilakukan untuk menghadapi guncangan ekonomi saat ini adalah dengan menyalurkan bantuan langsung tunai yang berasal dari zakat, infak dan sedekah, baik yang berasal dari lembaga-lembaga penghimpun zakat maupun yang berasal dari masyarakat. Khusus untuk zakat, penyalurannya diharapkan dapat berfokus pada masyarakat miskin yang terdampak COVID-19 secara langsung sebagai pihak yang berhak menerimanya (mustahik). Hal ini merupakan salah satu potensi besar yang dimiliki oleh Ekonomi Islam dalam menghadapi guncangan perekonomian yang disebabkan oleh wabah COVID-19 (Hafizah, 2020).

Sebagian dana yang dikumpulkan oleh unit-unit atau organisasi pengumpul zakat (khususnya yang ada di daerah) dapat digunakan untuk memperkuat usaha UMKM. Menyelamatkan kelompok UMKM yang krisis atau terancam bangkrut karena terkena dampak ekonomi dari wabah Covid-19, dapat dikategorikan sebagai golongan asnaf (penerima zakat), yaitu sebagai kelompok miskin, berjuang di jalan Allah (fii sabilillah), atau orang yang berhutang (gharimin) (Iskandar, Possumah and Aqbar, 2020).

Ketika seorang mustahik yang menerima zakat memiliki kemampuan untuk membelanjakan harta untuk memenuhi kebutuhannya, maka kondisi akan mengakibatkan bergesernya kurva Demand ke kanan dari D0 ke D1 . Di lain pihak, ketika seorang muzakki memiliki aset, ia termotivasi untuk menginvestasikan aset tersebut ke sektor riil sehingga suplai barang dan jasa akan meningkat dan kurva supply akan bergerak ke kanan, dari S0 ke S1 .

Gambar 1. Intervensi ZISWAF dalam Kurva Demand dan Supply

Kemudian, pada periode pembayaran zakat berikutnya, mustahik tetap memiliki kemampuan untuk membelanjakan harta untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga kurva Demand akan terus bergeser ke kanan dari D1 ke D2 . Hal ini akan berlangsung terus menerus. Begitu pula, sisi supply juga akan bergerak ke kanan, dari S1 ke S2, dan terus bergerak. Pada akhirnya, pergerakan sisi demand dan supply ke kanan yang terus menerus lambat laun akan meningkatkan GDP atau GDP per kapita yang berujung pada kesejahteraan dan kemakmuran.

Gambar 2. Kondisi Akhir Perekonomian dengan Intervensi ZISWAF Pada

Melalui sistem pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan yang baik, zakat dapat menjadi alternatif kestabilan krisis ekonomi (Afrina, 2020). Pengumpulan dana zakat ini diharapkan akan meningkatkan kembali aggregate demand dan aggregate supply ke kanan, diikuti dengan pembangunan pasar dan fokus kepada UMKM yang mempertemukan permintaan dan penawaran, sehingga surplus ekonomi terbentuk kembali dan membantu percepatan pemulihan ekonomi (Iskandar, Possumah and Aqbar, 2020).

C. Penutup

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, umat Islam dapat memberikan peran terbaiknya melalui berbagai bentuk atau model philanthropy dalam Ekonomi dan Keuangan Syariah, khususnya dalam masa pandemi Covid-19. Peran ini diharapkan dapat mengatasi guncangan ekonomi yang terjadi dan seluruh masyarakat, khususnya umat muslim, dapat ikut serta berkontribusi dalam memulihkan guncangan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Afrina, D. (2020) ‘Manajemen Zakat Di Indonesia Sebagai Pemberdayaan Ekonomi Umat’, EkBis: Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 2(2), p. 201. doi: 10.14421/ekbis.2018.2.2.1136.

Fahlefi, Rizal. Ahmad, S. R. (2020) ‘Dampak pandemi covid 19 terhadap perekonomian masyarakat di sektor informal’, 4(2), pp. 3–9.

Hafizah, G. D. (2020) ‘Peran Ekonomi dan Keuangan Syariah pada Masa Pandemi COVID-19’, Jurnal Likuid, 1(1), pp. 55–64.

Iskandar, A., Possumah, B. T. and Aqbar, K. (2020) ‘Peran Ekonomi dan Keuangan Sosial Islam saat Pandemi Covid-19’, SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i, 7(7). doi: 10.15408/sjsbs.v7i7.15544.

 

NARRATIVE REVIEW: LITERASI KEUANGAN SYARIAH PADA PONDOK PESANTREN DI INDONESIA

NARRATIVE REVIEW: LITERASI KEUANGAN SYARIAH PADA PONDOK PESANTREN DI INDONESIA

Biro Penelitian dan Pengembangan Prestasi Kelompok Studi Ekonomi Islam; Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah

 

ABSTRAK

 

Indonesia merupakan negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Akan tetapi, hal ini tidak berbanding lurus dengan tingkat literasi keuangan syariah. Hasil survei OJK pada tahun 2016 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan syariah masih sangat rendah yaitu 8,11 persen. Dalam hal ini, pondok pesantren sebagai institusi pendidikan Islam khas Indonesia idealnya memiliki tingkat literasi keuangan syariah yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi literasi keuangan syariah pada pondok pesantren di Indonesia dan faktor-faktor yang memengaruhi literasi keuangan syariah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah narrative review dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Dengan metode ini didapatkan 10 artikel yang hasilnya sesuai dengan tema penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan syariah pada pondok pesantren masih belum merata dan didapatkan delapan faktor yang memengaruhi literasi keuangan syariah.

Kata kunci: literasi keuangan syariah, pondok pesantren

 

ABSTRACT

 

Indonesia is a predominantly Muslim country. However, this is not directly proportional to the level of its sharia financial literacy. The results of OJK survey in 2016 showed that the sharia financial literacy index for Indonesia is still very low at 8.11 percent. In this case, islamic boarding school as a typical Islamic educational institution of Indonesia ideally has a good level of sharia financial literacy. This research aims to determine the condition of sharia financial literacy in islamic boarding schools in Indonesia and the factors that influence sharia financial literacy. The research method used in this study is narrative review with inclusion and exclusion criteria. With this method obtained 10 articles whose results correspond to the theme of research. The results showed that sharia financial literacy in boarding schools is still uneven and found eight factors that influence sharia financial literacy

Keywords: sharia financial literacy, islamic boarding school

 

PENDAHULUAN

 

OJK dalam Muhammad Khozin Ahyar (2018) mengartikan literasi keuangan sebagai seperangkat aktivitas atau proses dalam peningkatan keyakinan, keterampilan, dan pengetahuan masyarakat secara umum sehingga pengelolaan keuangan mereka dapat terkelola dengan lebih baik. Dalam hal ini, OJK mengklasifikasikan tingkat literasi keuangan seperti yang tertera di tabel berikut.

 

Tabel 1. Tingkat Literasi Keuangan

 

Kategori Aspek Well

Literate

Sufficient

Literate

Less

Literate

Not

Literate

Keterampilan dalam menggunakan produk/jasa

keuangan

 

V

 

X

 

X

 

X

Fitur, manfaat, risiko, serta

hak dan kewajiban

V V X X
Produk dan jasa keuangan V V V X
Pengetahuan dan keyakinan

tentang LJK

V V V V

Sumber: OJK dalam Ahyar (2018)

Sementara itu, literasi keuangan syariah sendiri merupakan kesanggupan atau kecakapan seseorang mengenai penerapan dan pemahaman yang diperlukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah (Asyhad dan Handono, 2017). Beberapa aspek yang termasuk ke dalam konsep keuangan syariah yaitu perencanaan keuangan, pengelolaan harta dan uang seperti dana pensiun, asuransi, dan investasi. Disamping itu, konsep keuangan syariah juga memiliki aspek sosial yang diimplementasikan dalam kegiatan infaq, wakaf, dan sedekah. Indikator untuk menilai tingkat literasi keuangan syariah yaitu pemahaman terkait produk dan jasa berikut akadnya, kepemilikan rekening di lembaga keuangan syariah, pengetahuan tentang bagi hasil dan jaminan. Berkaitan dengan hal tersebut, hasil survei OJK pada tahun 2016 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan syariah masih sangat rendah yaitu 8,11 persen yang berarti hanya terdapat 8 dari 100 orang yang

 

memahami sektor jasa keuangan syariah (OJK, 2016). Berikut adalah grafik rincian dari tingkat literasi keuangan syariah berdasarkan data OJK pada 2016.

Gambar 1. Tingkat Literasi Keuangan Syariah Indonesia Tahun 2016 (OJK, 2016) Di samping itu, salah satu lembaga pendidikan yang berperan besar dalam pendidikan islam adalah pondok pesantren. Berdasarkan data Kementerian Agama RI pada tahun 2019 terdapat 26.973 pondok pesantren tersebar di seluruh Indonesia (Kementerian Agama RI, 2019). Pesantren merupakan lembaga pendidikan dengan sistem tradisional yang berperan sebagai basis penyebaran sistem pendidikan madrasah di Indonesia. Pondok pesantren berperan sebagai salah satu ujung tombak dari terselenggaranya pendidikan agama Islam yang baik dan benar sesuai dengan tuntutan agama Islam yang tertuang dalam kitab suci Al-Quran dan Hadits Nabi SAW. Hal ini karena sampai saat ini pesantren masih menjadi institusi pendidikan Islam yang paling besar dan berpengaruh serta menjadi pusat pengkaderan ulama

dan da’i yang legitimed di masyarakat.

 

Melihat fenomena dan urgensi dari masalah tersebut, maka peneliti mengambil tema narrative review mengenai “Literasi Keuangan Syariah pada Pondok Pesantren di Indonesia”. Adapun tujuan peneliti dalam penelitian narrative review ini adalah untuk mengetahui kondisi literasi keuangan syariah pada pondok pesantren di Indonesia dan faktor-faktor yang memengaruhi literasi keuangan syariah.

 

METODE PENELITIAN

 

Penelusuran artikel publikasi dilakukan pada jurnal-jurnal nasional yang terindeks dan juga sumber-sumber data sekunder milik lembaga resmi. Untuk mencari artikel publikasi dalam portal, digunakan kata kunci yang dipilih: literasi keuangan syariah, literasi keuangan syariah pada pondok pesantren, pondok pesantren, dan keuangan syariah. Artikel atau jurnal yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi diambil untuk selanjutnya dianalisis. Narrative Review ini menggunakan literatur terbitan tahun 2015-2020 yang dapat diakses full-text sejumlah 30 jurnal. Kemudian setelah dilakukan screening, didapatkan 10 artikel yang hasilnya sesuai dengan tema penelitian. Jurnal yang sesuai dengan kriteria dan terdapat hubungan dengan tema penelitian berupa literasi keuangan syariah, pondok pesantren, dan faktor lainnya terhadap output keuangan syariah yang ada kemudian ditelaah. Kriteria jurnal yang terpilih adalah jurnal yang didalamnya terdapat tema hubungan antara tingkat literasi dengan faktor-faktor yang memengaruhinya.

Tabel 2. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Penelitian

 

Kriteria Inklusi Artikel –                              Artikel yang memiliki DOI (Digital Object Identifier)

–                              Artikel yang terbit dalam rentang waktu 2015-2020

–                              Artikel yang bersumber dari portal publikasi jurnal yang terindeks, baik nasional maupun internasional

–                              Artikel yang membahas mengenai hubungan antara tingkat literasi dengan faktor-faktor yang memengaruhinya

–                              Artikel menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris

–                              Data-data sekunder lain yang bersumber dari lembaga-

lembaga resmi

Kriteria Eksklusi Artikel –          Artikel yang tidak memiliki DOI

–          Artikel yang bersumber dari portal publikasi jurnal yang tidak terindeks

–          Artikel yang terbit sebelum tahun 2015

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. Perkembangan Jumlah dan Perkembangan Pondok Pesantren di Indonesia Berdasarkan data terakhir dari Kementerian Agama (2019), terdapat

26.973 pondok pesantren yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Dari data tersebut juga disebutkan bahwa Provinsi Jawa Barat memiliki jumlah pondok pesantren terbanyak dengan 8.343 pondok pesantren, sementara Provinsi Maluku memiliki jumlah pondok pesantren paling sedikit dengan 16 pondok pesantren. Sementara itu, dari jumlah tersebut didapatkan jumlah santri sebesar 2.558.275 santri di seluruh Indonesia dengan rincian 1.411.763 santri yang bermukim (menetap) dan 1.146.512 santri yang tidak bermukim (Kementerian Agama RI, 2019).

  1. Kondisi Literasi Keuangan Syariah pada Pondok Pesantren di Indonesia Dalam menganalisis kondisi keuangan syariah di pondok pesantren

yang berlokasi di Indonesia, peneliti mencoba mengambil beberapa sampel literatur yang meneliti kondisi literasi keuangan syariah di beberapa pondok pesantren. Berdasarkan penelitian (Qomaro & Septiana, 2017) yang meneliti tentang “Tinjauan Literasi Keuangan bagi Santri Pondok Pesantren Madura: Studi Kasus Pondok Pesantren Syaichona Kholil Kabupaten Bangkalan”, didapatkan simpulan bahwa secara umum tingkat literasi keuangan di pondok pesantren tersebut tergolong baik karena mampu menanamkan nilai-nilai agama dalam berekonomi di kehidupan bermasyarakat sehingga bisa dikatakan sudah menerapkan prinsip syariah dalam pelaksanaannya. Selanjutnya penelitian dari (Mustofa & Zainollah, 2018) tentang “Analisis Persepsi Pondok Pesantren Terhadap Lembaga Keuangan Syariah (Studi Kasus Pada Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo)” bahwa literasi keuangan syariah pada masyarakat santri di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong yang diwujudkan dari pemahaman tentang lembaga keuangan syariah, yaitu bank syariah ditinjau dari pendekatan budaya, sosial, pribadi dan psikologis, adalah positif terhadap bank syariah atau bisa dikatakan tergolong baik untuk produk dan jasa keuangan syariah tersebut.

Sementara itu, penelitian (Ahyar, 2018) yang meneliti tentang “Literasi Keuangan Syariah dan Pondok Pesantren (Studi Kasus Pondok Modern Asy-

 

Syifa Balikpapan)”, didapatkan hasil penelitian bahwa literasi keuangan syariah di Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Balikpapan tergolong rendah atau less literate dikarenakan obyek penelitian hanya memahami mengenai produk atau jasa keuangan syariah yang mereka gunakan. Kemudian, penelitian dari (Syathiri, 2020) mengenai “Pendidikan Literasi Keuangan Syariah bagi Santri Pondok Pesantren Darul Iman Desa Seri Kembang, Muara Kuang Ogan Ilir” menyebutkan bahwa sebelum dilakukan pemberian pendidikan literasi keuangan syariah terhadap santri Pondok Pesantren Darul Iman, didapatkan rata-rata skor pre-test (pemberian soal sebelum perlakuan) sebesar 7,6 dari 15 soal dengan jawaban benar atau hanya sekitar 51 persen. Hal tersebut membuat literasi keuangan syariah di pondok pesantren tersebut masih tergolong rendah.

  1. Faktor-faktor yang memengaruhi Literasi Keuangan Syariah

Dalam menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi literasi keuangan syariah, peneliti juga menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi literasi keuangan secara umum. Berdasarkan penelitian dari (Nasution, 2019) mengenai “Analisis Faktor Kesadaran Literasi Keuangan Syariah Mahasiswa Keuangan dan Perbankan Syariah”, menyebutkan bahwa terdapat empat faktor yang memengaruhi kesadaran literasi keuangan syariah, yaitu orang tua, pengetahuan, perilaku ekonomi, serta gender dan teknologi informasi. Lalu, penelitian dari (Soraya & Lutfiati, 2020) tentang “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Literasi Keuangan (Studi Kasus Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam As-Syafi’iyah)” menjelaskan bahwa didapatkan empat faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap literasi keuangan khususnya pada mahasiswa, yaitu jenis kelamin, IPK, pendapatan orang tua, dan pengalaman kerja.

Kemudian, penelitian dari (Suryanto & Rasmini, 2018) yang berjudul “Analisis Literasi Keuangan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Survey pada Pelaku Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah di Kota Bandung) menemukan bahwa ada tiga faktor yang secara simultan berpengaruh terhadap literasi keuangan pelaku UMKM di Kota Bandung, yaitu usia, tingkat pendidikan, dan pendapatan usaha. Sementara itu, dalam penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa terdapat dua faktor yang berpengaruh secara parsial

 

terhadap literasi keuangan pelaku UMKM di Kota Bandung, yaitu tingkat pendidikan dan pendapatan usaha. Selanjutnya, penelitian dari (Mahaeni et al., 2020) yang meneliti tentang “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Literasi Keuangan dalam Penggunaan Produk dan Jasa Lembaga Keuangan (Studi pada Mahasiswa Aktif Semester V Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Warmadewa)” menemukan bahwa didapatkan tiga faktor yang secara simultan berpengaruh positif terhadap literasi keuangan mahasiswa aktif semester lima Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Warmadewa, yaitu jenis kelamin, pendapatan orang tua, dan daerah asal. Selain itu, penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa hanya didapatkan satu faktor di antara ketiga faktor yang sudah disebutkan sebelumnya yang secara parsial berpengaruh terhadap obyek yang diteliti, yaitu jenis kelamin.

Terakhir, penelitian dari (Yusnita & Abdi, 2018) yang mengangkat topik penelitian literasi keuangan yang berjudul “Pengaruh Faktor Demografi terhadap Literasi Keuangan” yang menjelaskan bagaimana pengaruh faktor demografi terhadap tingkat literasi keuangan pelaku UMKM bengkel sepeda motor yang berlokasi di Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa terdapat satu variabel demografi yang berpengaruh terhadap literasi keuangan, yaitu tingkat pendapatan. Sementara itu, variabel lain seperti tingkat pendidikan, lama usaha, dan usia tidak berpengaruh terhadap literasi keuangan.

 

PENUTUP

 

Berdasarkan hasil studi literatur yang dilakukan, dapat disimpulkan dua simpulan sesuai tujuan penelitian ini sebagai berikut.

  1. Literasi keuangan syariah di beberapa pondok pesantren di Indonesia berdasarkan studi literatur yang dilakukan masih belum merata dikarenakan ada pondok pesantren yang literasi keuangan syariahnya tergolong baik dan ada juga yang masih tergolong
  2. Terdapat delapan faktor yang dapat memengaruhi literasi keuangan secara umum, termasuk literasi keuangan syariah. Faktor-faktor tersebut diantaranya: orang tua, pengetahuan, perilaku ekonomi, jenis kelamin, teknologi informasi, pengalaman kerja, tingkat pendidikan, dan tingkat

Penelitian ini dapat dijadikan acuan literatur yang ringkas bagi peneliti yang meneliti topik terkait mengenai literasi keuangan syariah pada pondok pesantren di Indonesia dan juga dapat dijadikan acuan bagi stakeholder terkait dalam menentukan kebijakan peningkatan literasi keuangan syariah, khususnya di lingkungan pondok pesantren.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahyar, M. K. (2018). LITERASI KEUANGAN SYARIAH DAN PONDOK PESANTREN (STUDI KASUS PONDOK MODERN ASY-SYIFA BALIKPAPAN). ISLAMICONOMIC: Jurnal Ekonomi Islam, 9(2). https://doi.org/10.32678/ijei.v9i2.107

Asyhad, M., & Handono, W. A. (2017). Urgensi Literasi Keuangan Syariah pada Pendidikan Dasar. MIYAH: Jurnal Studi Islam, 13(1), 126–143. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.33754/miyah.v13i01.124.g94

Kementerian Agama RI. (2019). Statistik Pondok Pesantren di Indonesia.

Pangkalan Data Pondok Pesantren. https://ditpdpontren.kemenag.go.id/pdpp/statistik

Mahaeni, N. K. K. N., Jayawarsa, A. A. K., & Bagiada, K. (2020). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Literasi Keuangan Dalam Penggunaan Produk Dan Jasa Lembaga Keuangan. Warmadewa Economic Development Journal (WEDJ), 3(2), 59–64. https://doi.org/10.22225/wedj.3.2.2270.59-64

Mustofa, & Zainollah. (2018). Analisis Persepsi Pondok Pesantren Terhadap Lembaga Keuangan Syariah (Studi Kasus Pada Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo). RELASI : JURNAL EKONOMI, 14(2). https://doi.org/10.31967/relasi.v14i2.264

Nasution, A. W. (2019). ANALISIS FAKTOR KESADARAN LITERASI KEUANGAN SYARIAH MAHASISWA KEUANGAN DAN PERBAKAN

SYARIAH. Equilibrium: Jurnal Ekonomi Syariah, 7(1), 40. https://doi.org/10.21043/equilibrium.v7i1.4258

OJK. (2016). SURVEI NASIONAL LITERASI DAN INKLUSI KEUANGAN 2016.

Otoritas Jasa Keuangan RI. https://www.ojk.go.id/id/berita-dan- kegiatan/siaran-pers/Documents/Pages/Siaran-Pers-OJK-Indeks-Literasi-dan- Inklusi-Keuangan-Meningkat/17.01.23 Tayangan Presscon nett.compressed.pdf

Qomaro, G. W., & Septiana, A. (2017). TINJAUAN LITERASI KEUANGAN

 

BAGI SANTRI PONDOK PESANTREN MADURA: STUDI KASUS PONDOK PESANTREN SYAICHONA KHOLIL KABUPATEN

BANGKALAN. JES (Jurnal Ekonomi Syariah), 2(1), 39–49. https://doi.org/10.30736/jes.v2i1.26

Soraya, E., & Lutfiati, A. (2020). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LITERASI KEUANGAN. Kinerja, 2(02), 111–134.

https://doi.org/10.34005/kinerja.v3i01.966

 

Suryanto, S., & Rasmini, M. (2018). ANALISIS LITERASI KEUANGAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA. Jurnal Ilmu Politik

Dan Komunikasi, 8(2). https://doi.org/10.34010/jipsi.v8i2.1336

 

Syathiri, A. (2020). PENDIDIKAN LITERASI KEUANGAN SYARIAH BAGI SANTRI PONDOK PESANTREN DARUL IMAN DESA SERI

KEMBANG, MUARA KUANG OGAN ILIR. Jurnal Pengabdian Sriwijaya, 8(1), 921–925. https://doi.org/10.37061/jps.v8i1.12407

Yusnita, R. R., & Abdi, M. (2018). Pengaruh Faktor Demografi terhadap Literasi Keuangan. Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING), 2(1), 163–184. https://doi.org/10.31539/costing.v2i1.388

Peran BMT Bagi UMKM dalam Situasi Ekonomi Resesi

5 November 2020 merupakan tanggal yang bersejarah bagi Indonesia, untuk ketiga kalinya Negara Indonesia mengalami resesi ekonomi setelah sebelumnya pernah terjadi pada tahun 1966 dan 1998. Hal tersebut disebabkan adanya pertumbuhan negatif produk domestik bruto (PDB) dalam dua kuartal berturut-turut. Indonesia dihadapkan dengan realita dimana telah banyak terjadi PHK, penjualan perusahaan yang terus menurun, serta (output) ekonomi negara keseluruhan mengalami penurunan. Dampak yang ditimbulkan dari resesi pun tidak main-main, salah satunya adalah multiplayer effect dalam bentuk negatif.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Dr. Willem A. Makaliwe menjelaskan bagaimana dampak resesi bagi masyarakat. Menurut Willem, keadaan resesi membuat masyarakat mengalami kemunduran yang disebut dengan penurunan aktivias. Hal itu dijelaskan melalui kanal Youtube OVIS UI yang berjudul “Dampak dari Resesi Ekonomi?”.

Dosen FEB UI ini menganalogikan resesi dengan sebuah perusahaan yang misalnya biasa memproduksi kursi dalam satu tahun sebanyak 10 kursi. Masing-masing kursi tersebut, lanjutnya, dikerjakan oleh satu orang yang berarti terdapat 10 orang atau karyawan yang dipekerjakan.

“Namun, karena terjadi penurunan aktivitas akibat resesi, perusahaan ini dalam satu tahun hanya bisa menjual delapan kursi yang menyebabkan penurunan penjualan dari tahun lalu,” ujar Willem seperti dikutip Bisnis, Kamis (5/11/2020).

Akibatnya, perusahaan hanya mempekerjakan delapan orang dan dua orang lainnya akan kehilangan pekerjaannya. Oleh karena itu, katanya, dua orang pekerja tentu akan mengurangi porsi belanja sehari-hari.

“Yang bekerja 2 orang yang kehilangan pekerjaan pastinya akan mengurangi belanjanya katakanlah ya biasanya mungkin sore-sore iseng-iseng ya makanya kue, siomay dan sebagainya. Wah, terpaksa ditahan belanjanya. Belanja beli sepatu baru ditahan,” terang Willem.

Tidak berhenti sampai disana, pedagang kue atau siomay ini nantinya juga akan mengalami penurunan penjualan yang kemudian juga mempengaruhi pendapatannya. Penurunan pendapatan itu, lanjutnya, bakal mempengaruhi daya beli penjual siomay. Kondisi tersebut berlaku seperti efek domino atau akan mempengaruhi perekonomian lain. Hal ini kemudian juga dikenal dengan istilah multiplayer effect dalam bentuk negatif.

“Membuat permintaan masyarakat mengalami penurunan dan itu yang kita sedih karena bisa berlanjut pada berbagai macam sektor atau berbagai macam kegiatan,” ungkap Willem melalui akun Youtube OVIS UI.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diperkirakan bahwa resesi akan menciptakan gelombang pengangguran baru di masyarakat. Namun dimana ada masalah di situ ada jalan keluar. Salah satu penggerak penting perekonomian Indonesia adalah UMKM. UMKM merupakan sektor yang dapat bertahan pada saat terjadi krisis ekonomi 1998, dimana pada saat itu sektor lainnya mengalami krisis. UMKM juga merupakan sektor terbesar dalam perekonomian Indonesia, kurang lebih sekitar 90 – 97% sektor ekonomi di Indonesia dipegang oleh UMKM. Setelah kita ketahui mengapa UMKM itu penting, maka berikut beberapa peran penting UMKM dalam perekonomian nasional:

  1. Sebagai pemeran utama dalam kegiatan ekonomi
  2. Penyedia lapangan kerja terbesar
  3. Pemain penting dalam pengembangan perekonomian lokal dan pemberdayaan masyarakat
  4. Pencipta pasar baru dan sumber inovasi, serta
  5. Kontribusinya terhadap neraca pembayaran (Departemen Koperasi 2008)

Sangat vital bukan? Maka dari itu UMKM memerlukan perhatian khusus terutama di masa resesi seperti ini. Seperti sektor lainnya, UMKM juga memiliki kelemahan. Salah satu kelemaha UMKM adalah keterbatasan modal. Seperti yang kita ketahui sekarang merupakan masa-masa sulit dan ekonomi sedang lesu. Pemain-pemain UMKM perlu berpikir dua kali untuk mencari sumber modal untuk usahanya. Diperlukan adanya sumber modal yang tidak memberatkan serta mudah untuk didapat. Situasi tersebut merupakan saat yang tepat bagi UMKM untuk bekerja sama dengan BMT.

Baitul Maal wat Tamwil (BMT) merupakan bagian dari bank syariah atau semacam LSM yang beroperasi seperti bank koperasi dengan pengecualian ukurannya yang kecil dan tidak mempunyai akses ke pasar uang. Baitul Maal wat Tamwil terdiri dari dua istilah yaitu baitul  maal dan baitut tamwil. Baitul maal adalah lembaga keuangan  umat Islam yang mengelola dana umat islam yang bersifat sosial dan sumber dana baitul mal berasal dari zakat, infaq, sodaqoh, hibah dan lain-lain sedangkan baitul tamwil adalah lembaga keuangan yang mengelola dana umat yang sifatnya komersial yang sesuai dengan syariat Islam.

 

Baitul Maal wat Tamwil (BMT) berfungsi menghimpun dan menyalurkan dana kepada masyarakat  sebagaimana  bank  atau  lembaga keuangan  yang  lain.

 

Pada dasarnya prinsip operasi Baitul Maal wat Tamwil terdiri dari

  1. Sistem Jual Beli; Sistem ini merupakan suatu tata cara jual beli yang dalam pelaksanaanya BMT mengangkat nasabah sebagai agen yang diberi kuasa melakukan pembelian barang atas nama BMT, kemudian bertindak sebagai penjual dan menjual  barang  yang  telah  dibelinya  tersebut  bengan  ditambah mark-up.
  2. Sistem non-profit; Sistem yang sering disebut sebagai pembiayaan kebijakan ini merupakan pembiayaan yang bersifat sosial dan non komersial, nasabah cukup mengembalikan pokoknya saja.
  3. Akad Bersyarikat; Akad bersyarikat adalah kerjasama antara dua pihak atau lebih dan masing-masing pihak mengikutsertakan modal (dalam berbagai bentuk) dengan perjanjian pembagian keuntungan/kerugian yang disepakati.
  4. Produk Pembiayaan; Penyediaan uang dan tagihan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam diantara BMT dengan pihak lain yang mewajibkan pihak meminjam untuk melunasi  utangnya  beserta  bagi  hasil  setelah jangka waktu tertentu.

Salah satu karakter penting dari BMT adalah Baitul Maal wa Tamwil (BMT) dalam menyalurkan dana (Pembiayaan) bersifat luwes tidak mesti bankable, dengan demikian penyaluran dana dapat menyentuh para pengusah mikro yang tidak terlayani akses permodalan oleh perbankan. Keluwesan disini tetap memperhatikan kelayakan dan kesehatan kredit yang diberikan menurut parameter Baitul Maal w Tamwil (BMT), karena banyak pengusaha mikro yang sebenarnya layak mendapatkan bantuan kredit tetapi tidak bisa terlayani oleh perbankan disebabkan berbenturan dengan aturan-aturan yang mengikat dalam dunia perbankan,misalnya kelayakan jaminan kredit, memiliki ijin usaha dan persyaratan-persyaratan lainnya yang harus dipenuhi. Disinilah peran Baitul Maal wa Tamwil (BMT) agar para pengusaha mikro tersebut tetap mendapatkan akses permodalan, jangan sampai karena tidak mendapatkan kredit di Bank mereka terjebak oleh pinjaman pinjaman yang diberikan para Rentenir dengan biaya bunga yang sangat tinggi. Sehingga Baitul Maal wa Tamwil (BMT) dapat menjadi jembatan penyelamat antara dunia perbankan dan para rentenir yang bunga pinjamannya sangat mencekik para pengusaha mikro.

Kesimpulan, pandemi COVID-19 telah menyebabkan kelesuan di bidang perekonomian negara Indonesia yang berujung pada terjadinya resesi. Salah satu sektor perekonomian yang sangat penting adalah UMKM yang mana dapat bertahan saat terjadi krisis moneter dan merupakan sektor terbsesar dalam perekonomian Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan modalnya UMKM dapat bekerja sama dengan BMT sebagai solusi dari pinjaman-pinjaman yang berbunga (riba) serta menerapkan prinsip syariah untuk memajukan industri halal di Indonesia.

 

 

Sumber:

Trend Good Corporate Governance Terhadap Peningkatan Kinerja Keuangan Perbankan Syariah

Oleh: Thifal Suci Kharunnisa, Amal Yara Putri Riana,

Nur Lely Sofia, Indira Januarti

 

Perbankan Syariah adalah lembaga yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau prinsip hukum islam yang diatur dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia seperti prinsip keadilan dan keseimbangan (a’adl wa tawazun), kemaslahatan (maslahah), universalisme (alamiyah), serta tidak mengandung gharar, maysir, riba, zalim dan objek yang haram (UU No. 21, 2008) .

Perbankan syariah saat ini masih menjadi isu yang cukup hangat ditengah pandemi Covid-19, dimana adanya rencana Marger perbankan syariah BUMN yang diinisiasi oleh Kementerian BUMN. Hal ini tentu menjadi kabar baik dalam perkembangan keuangan syariah di Indonesia, dimana market value dari perbankan syariah akan semakin besar. Perbankan syariah dalam meningkatkan market value dan kinerja keuangan tentunya harus memperhatikan tata kelola perusahaan yang baik atau disebut Good Corporate Governance (GCG).

Perbankan syariah yang mengimplementasikan Good Corporate Governance (GCG) dipercaya dapat melindungi kepentingan pemegang saham, meminimalkan masalah keagenan dan mencapai kinerja perusahaan yang unggul. Saat ini Perbankan syariah yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya BRI Syariah dan BTPN Syariah. Tentunya ini menjadi tantangan bagi perbankan syariah untuk bisa bersaing dengan perbankan konvensional yang ada.

Menurut Aslam dan Haron (2020) Corporate Governance memiliki peran yang sangat penting dalam mengendalikan konflik keagenan dan meningkatkan kinerja perusahaan. Perbankan syariah yang menerapkan GCG akan meningkatkan kepercayaan para investor serta stakeholder terutama masyarakat dalam menggunakan produk-produk perbankan syariah yang ada sehingga kinerja keuangan perbankan syariah akan semakin meningkat kedepannya.

Perbankan syariah yang ingin menerapkan GCG harus mengerti dan memahami prinsip-prinsip GCG. Perusahaan harus memperhatikan dan memahami prinsip-prinsip GCG untuk mendukung dalam aktivitas operasional perusahaan GCG. Prinsip dan pedoman menurut Komite Nasional Kebijakan Governance yaitu (KNKG, 2012) :  Transparency,  Accountability, Responsibility, Independency, Fairness.

Menurut Ataur Rahman dan Islam (2018), jika kita melihat dari penelitian sebelumnya maka penelitian sebelumnya lebih banyak menjelaskan mengenai konsep GCG di bank konvensional dibandingkan dengan bank syariah. Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi mengenai konsep GCG perbankan syariah serta minimnya literatur yang ada. Selain itu menurut Bukhari et al (Bukhari et al., 2013) mendefinisikan bahwa GCG Islam memiliki karateristik yang unik dengan menambahkan aturan islam pada stakeholder dalam model GCG. Sedangkan menurut Magalhães dan Al-Saad (Magalhães & Al-Saad, 2013) kerangka kerja GCG bergantung pada pengembangan sistem hukum, regulasi, dan lingkungan kelembagaan. GCG pada bank syariah dipandang sebagai suatu konsep yang berbeda dari bank konvensional.

Mekanisme Good Corporate Governance (GCG) di perbankan cukup luas, dalam artikel ini menjelaskan mengenai mekanisme GCG yang difokuskan pada variabel komite audit dan Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam peningkatan kinerja perbankan syariah.

Komite audit mempunyai tugas dan tanggungjawab diantaranya melakukan penelaahan atas informasi keuangan, ketaatan terhadap peraturan perundangan dan menjadi penengah apabila ada perbedaan antara akuntan dan manajemen (OJK, 2015). Menurut Abdel jawad (Abdeljawad et al., 2020) komite audit bertanggung jawab untuk memastikan transparansi di bank, dengan memberikan informasi yang kredibel, melindungi ekuitas dan kepentingan pemegang saham. Jumlah komite audit yang banyak dan pertemuan yang dilakukan dalam setahun mengindikasikan adanya pengawasan yang baik, sehingga dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.

Di Indonesia sesuai dengan Peraturan BI Nomor 8/4/PBI/2006 mengenai tata kelola perbankan, komite  audit  mempunyai  peran  utama  yaitu  menjamin  dan memastikan kualitas laporan keuangan yang dipublikasikan. Sedangkan di Malaysia memiliki The Malaysian Code of Good Corporate Governance yang menyatakan bahwa masing-masing perusahaan perlu memiliki komite audit. Di Malaysia, dewan perlu membuat komite audit yang setidaknya berjumlah 3 anggota yang mayoritas adalah independen.(BI, 2006)

Mekanisme GCG yang paling membedakan antara perbankan konvensional dengan perbankan syariah adalah Dewan Pengawas Syariah (DPS). Ada tiga peran utama dari Dewan Pengawas Syariah (DPS) yaitu konsultasi, pengendalian dan memastikan. Dewan Pengawas Syariah (DPS) mempunyai tugas khusus yaitu menangani yurisprudensi pada bank syariah dan harus memiliki keahlian dalam keuangan syariah (AAOIFAAOIFI. (2010). Accounting, Auditing, 2010).  Dewan Pengawas Syariah (DPS) juga memainkan peran penting terhadap kontrol internal perusahaan yaitu mengawasi kegiatan bank syariah (Darmadi, 2013). Peran yang paling penting dari Dewan Pengawas Syariah (DPS) adalah memastikan kepatuhan terhadap prinsip hukum yang mengatur mengenai keuangan syariah (Hamza, 2013).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Buallay (Buallay, 2019) memberikan bukti bahwa adanya kesenjangan dalam literatur ketika memeriksa pengaruh DPS terhadap kinerja keuangan. Jumlah dewan pengawas syariah yang banyak menunjukkan pengawasan yang baik terhadap perbankan syariah sehingga diharapkan dapat meningkatkan kinerja keuangan (Almutairi dan Quttainah, 2017; Rahman dan Bukair, 2015). Eksekutif (DPS) yang diberikan remunerasi yang tinggi diharapkan dapat menjalankan tugas pengawasannya dengan baik, sehingga dapat meningkatkan kinerja keuangan (Lee dan Isa, 2015).

Tabel 1. Peringkat Islamic Finance Country Index 2014-2019

Countries 2019Rank 2018Rank 2017

Rank

2016

Rank

2015

Rank

2014

Rank

Indonesia 1 6 7 6 7 7
Malaysia 2 1 1 1 2 1

Sumber :Global Financial Islamic Report 2014-2019

Malaysia dan Indonesia menjadi negara penggerak perkembangan industri keuangan Syariah di kawasan Asia Tenggara (Rama, 2015). Berdasarkan Global Financial Report 2014-2019 Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara yang konsisten menduduki 10 besar peringkat perkembangan keuangan syariah di kawasan Asia Tenggara. Data tersebut dapat diartikan bahwa Indonesia dan Malaysia memiliki potensi yang besar terhadap pengembangan kualitas dan kuantitas perbankan syariah. Potensi ini tentunya memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesejahteraan masyarakat apabila dikelola dengan baik sesuai dengan prinsip GCG.

Industri Halal : Potensinya di Indonesia

Persoalan halal dan haram adalah hal yang sangat perlu diketahui dan diuatamakan bagi setiap muslim dalam menggunakan produk atau jasa. halal sendiri dapat diartikan dengan segala sesuatu yang diperbolehkan oleh Allah, sementara haram adalah segala sesuatu yang tidak diperbolehkan atau dilarang. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada Q.S Al-Baqarah ayat 168

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa barang yang dikonsumsi haruslah barang yang halal dan thayyib atau baik.

Dalam rangka memenuhi permintaan pasar mengenai produk halal, maka diperlukan industri halal didalamnya. Dalam KBBI disebutkan bahwa industri adalah kegiatan memproses atau mengolah denganmenggunakan sarana dan peralatan, misalnya dengan mesin. Sementara halal dalam kbbi diartikan dengan diizinkan atau tidak dilarang oleh syarak. Maka, industri halal dapat disimpulkan dengan kegiatan memproses atau mengolah dengan menggunakan sarana dan peralatan yang sesuai dengan syariat islam. fungsi dan tujuan dari industry halal adalah sebagai bentuk perwujudan dari UU no. 33 tahun 2014 yang berisi tentang jaminan produk halal.

Dengan 87% penduduk beragama Islam, Indonesia menjadi pasar terbesar dalam konsumsi industry halal, seperti halal food dan fashion. Dari data Global Islamic Economic Report 2018-2019 yang dipublikasikan oleh KNKES, menyebutkan bahwa Indonesia berada pada peringkat pertama dari sepuluh negara dalam pengeluaran konsumsi barang dan jasa halal. total konsumsi barang dan jasa halal di Indonesia pada ahun 2017 sekitar US$ 218,8 miliar dan akan terus bertambah hingga 5,3 persen hingga mencapai US$ 330,5 miliar pada tahun 2025.

Dengan potensi yang dimiliki, Indonesia masuk dalam peringkat lima dari sepuluh negara dalam industry halal dengan enam indikatornya yakni halal food, fashion, recreation, friendly travel, Cosmetics dan Islamic finance. Indonesia masuk dalam sepuluh besar pada indikator fashion, muslim friendly travel dan Islamic finance sementara pada indikator lainnya Indonesia masih dibawah sepuluh besar. Meski demikian hal itu merupakan suatu pencapaian yang bagus dan perlu ditingkatkan kembali kedepannya sehingga Indonesia tidak hanya menjadi konsumen terbesar dalam industry halal tetapi juga sebagai produsen produk dan jasa halal.

Salah satu pengembangan yang diperlukan dalam industri halal adalah pengembangan sumber daya manusia. Dengan sumber daya manusia yang berkompeten akan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan ide cemerlang dalam memberi solusi disetiap permasalahan industri halal. sumber daya manusia dapat dikembangkan melalui berbagai sarana seperti sosialisasi media sosial, kegiatan dan sosialisasi desa, perlombaan dan seminar keilmuwan. Semakin banyaknya individu yang paham mengenai industry halal, maka akan semakin banyaknya ketersediaan produk dan jasa halal yang dapat dinikmati bersama.

Selain melalui pengembangan sumber daya manusia, diperlukan juga dukungan pemerintah mengenai industri halal. dukungan pemerintah dalam industri halal dapat berupa undang-undang mengenai jaminan produk halal dan kawasan industri halal, hal ini diperlukan agar terciptanya ekosistem yang baik dalam mengembangkan industri halal tersebut.

Dengan adanya potensi dan usaha pengembangan industri halal, diharapkan Indonesia tidak hanya sebagai konsumen dari produk halal, tetapi juga akan membawa kemajuan dan dapat turut memimpin arah gerak dari industri halal secara global.

 

Sumber

https://knks.go.id/storage/upload/1603516943-Paparan%20Menko%20Ekon%20-%20Webinar%20KNEKS%20-%20Menuju%20Pusat%20Halal%20Dunia.pdf

https://www.kompasiana.com/chrisantarigan/5cd98f7e6db84325c7752272/tantangan-dan-peluang-indonesia-sebagai-industri-halal-terbesar-di-dunia#