• 0896-6205-4692 (Bahrul)
  • ksei.febundip@gmail.com

Author Archive

BULETIN AL AMWAL 002

Dapat didownload di: bit.ly/AlAmwal002

KSEI FEB Undip

Konsep Keuangan Islam sebagai Solusi dalam Menghadapi Kemerosotan Perekonomian Indonesia di Masa Pandemi Covid-19

Merebaknya Coronavirus Diseases 2019 (Covid-19) memiliki pengaruh besar pada berbagai sector seperti kesehatan, perekonomian, sosial, dan politik. Dalam sektor ekonomi khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kebijakan physical distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan berbagai kebijakan lainnya berdampak pada proses produksi dan distribusi oleh UMKM. Sehingga UMKM yang ketika Krisis Moneter 1998 dinilai dapat bertahan, kini menjadi sector yang paling merosot jika dilihat dari sisi pendapatannya. Dari sisi konsumen, penurunan pendapatan masyarakat berdampak pada konsumsi rumah tangga yang semakin menurun dan dapat menyebabkan turunnya pendapatan nasional. Dalam sector industri, industri pariwisata yang sebelumnya memberikan kontribusi sebesar 5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat ini menjadi tidak hidup dan mengalami berbagai kerugian.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk tetap menjaga kestabilan perekonomian Indonesia. Salah satu kebijakan pemerintah ditunjukkan dengan pemberian stimulus kepada masyarakat yang terdampak (Sri Mulyani, 2020). Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu) tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan yang telah ditandatangani Presiden Joko Widodo. Dalam Perppu ini, salah satu stimulusnya adalah jaring pengaman sosial yang diperuntukkan bagi masyarakat yang tidak mampu. Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan relaksasi pajak dan kebijakan insentif lainnya agar perekonomian makro Indonesia dapat tetap berhatan sebagaimana mestinya.

Meskipun begitu, dampak yang disebabkan oleh covid-19 tidak hanya menjadi masalah bagi pemerintah saja, tetapi juga masalah yang harus kita hadapi sebagai masyarakat ekonom Rabbani yang menginginkan terciptanya kesejahteraan ummat melalui berbagai konsep ekonomi islam. Dalam hal ini, solusi yang ditawarkan ekonomi islam dalam menghadapi covid-19 diealisasikan melalui berbagai instrumen keuangan islam seperti zakat, infaq, dan sedekah yang biasa dikenal dengan konsep keuangan sosial islam. Keberadaan konsep keuangan sosial ini dapat memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perekonomian makro Indonesia mengingat potensi zakat umat muslim Indonesia berdasarkan Outlook Zakat Indonesia 2019 telah mencapai Rp233,8 triliun per tahun. Keberadaan konsep keuangan sosial Islam ini erat kaitannya dengan sifat kedermawanan. Indonesia dikenal dengan masyarakatnya yang memiliki sifat dermawan. Berdasarkan World Giving Index 2018 yang dibuat oleh Charities Aid Foundation (CAF), Indonesia menempati posisi pertama dari 146 negara dalam aspek kedermawanan. Realisasi keuangan sosial ini ini ditunjukkan dengan banyaknya platform donasi yang saat ini memfasilitasi perusahaan dan masyarakat pada umumnya untuk menyalurkan donasi mereka kepada masyarakat yang terdampak covid-19. Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep keuangan sosial islam dapat diterapkan dalam menghadapi dampak dari pandemic covid-19.

Disamping itu, salah satu instrumen keuangan islam lainnya adalah keuangan komersial islam. Dimana dalam penerapannya konsep ini bertujuan untuk mendapatkan keuntungan bisnis dari suatu kegiatan ekonomi. Salah satu instrument keuangan komersial yang dikenal dewasa ini adalah Cash Wakaf Linked Sukuk (CWLS).

Cash Wakaf Linked Sukuk (CWLS) merupakan salah satu perwujudan program wakaf produktif dari Badan Wakaf Indonesia yang bekerjasama dengan kementerian Keuangan dan Bank Indonesia sebagai fasilitator. Cash Wakaf Linked Sukuk (CWLS) berbentuk investasi sosial di Indonesia dimana wakaf uang yang dikumpulkan oleh Badan Wakaf Indonesia selaku Nazhir melalui Bank Muamalat Indonesia dan BNI Syariah  sebagai Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKSPWU) akan dikelola dan ditempatkan pada instrumen Sukuk Negara atau SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) yang diterbitkan oleh Kementrian Keuangan (Kemenkeu) dengan jangka waktu 5 tahun.

Pada masa pandemi seperti ini, CWLS dapat membantu pembangunan negara. Kupon dan diskonto yang dibayarkan pada awal transaksi penerbitan dapat digunakan untuk membantun aset wakaf baru, seperti membangun rumah sakit maupun membeli alat penunjang sektor kesehatan lainnya. Saat ini, 360 rumah sakit rujukan nasional untuk menangani virus corona masih dianggap kurang (BEM FE UI, 2020).

Pada tahun 2019, Kementerian Keuangan menerbitkan CWLS dengan wakaf temporer dan memiliki minimal nominal sebesar Rp3 juta. CWLS saat itu digunakan untuk renovasi dan pembelian alat kesehatan dalam rangka mendukung pembangunan retina center pada Rumah Sakit Wakaf Achmad Wardi di Banten. Kupon yang dibayarkan setiap bulannya digunakan untuk melakukan operasi katarak gratis bagi kaum Dhuafa, dan menyediakan mobil ambulans tambahan untuk menjangkau pasien yang berjarak jauh dari Rumah Sakit. (BEM FE UI, 2020)

Hal ini sejalan dengan kondisi sector kesehatan masih minim fasilitas dalam menghadapi pandemic covid-19. Jurnal “Critical Care Bed Capacity in Asian Countries and Regions” mencatat Indonesia hanya memiliki kurang lebih tiga tempat tidur ICU untuk 100 ribu penduduk (Nafi, 2020). Berdasarkan data yang dipaparkan, rasio jumlah tempat tidur (bed) dibandingkan jumlah penduduk (bed to population ratio) di Indonesia sebesar 1,21:1.000. Artinya, per 1.000 pendudukan, hanya tersedia 1,21 tempat tidur perawatan di rumah sakit.  Rasio jumlah tempat tidur ini masih jauh dari rasio jumlah tempat tidur yang direkomendasikan WHO, yaitu sebesar 5:1.000, atau 5 tempat tidur perawatan di rumah sakit untuk setiap 1.000 penduduk.

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa memanfaatkan konsep keuangan Islami baik keuangan sosial maupun keuangan komersial dapat dijadikan salah satu alternative solusi dalam menghadapi pandemic covid-19. Pemerintah dapat mengoptimalkan pendistribusian zakat untuk mengatasi dampak jangka pendek dari turunnya konsumsi rumah tangga. Selain itu, adanya zakat, infaq, dan sedekah dapat menciptakan masifnya budaya berderma ditengah musibah pandemic covid-19 ini. Dalam menghadapi dampak jangka panjang pandemic covid-19, CWLS dapat dijadikan salah satu alternatif solusi dalam memulihkan perekonomian makro Indonesia. Dengan dimasifkannya konsep keuangan islami ini, salah satu dampak positif lainnya adalah masyarakat semakin mengenal konsep ekonomi islam yang tidak hanya bertujuan pada kesenangan dunia saja, tetapi juga memiliki orientasi akhirat yang direalisasikan dengan tercapainya kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Referensi:

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 2020. Kondisi dan Solusi Ekonomi Islam Pada Masa Pandemi. https://drive.google.com/file/d/1DvwX4ivNMV4PSesc0UWNinXZSxsQGuTr/view diakses pada 24 Mei 2020

Bank Wakaf Indonesia. 2019. Mengenal Lebih Dekat Wakaf Linked Sukuk. https://www.bwi.go.id/4030/2019/11/artikel/inspirasi-wakaf/mengenal-lebih-dekat-cash-wakaf-linked-sukuk/ diakses pada 24 Mei 2020

Djono, Aditya L. 2020. Rasio Bed Dibanding Populasi di Indonesia Masih Rendah. https://investor.id/national/rasio-bed-dibanding-populasi-di-indonesia-masih-rendah diakses pada 24 Mei 2020

Bayu, Dimas Jarot. 2020. Asosiasi RS Swasta Anggap 360 RS Rujukan Corona Masih Kurang. https://katadata.co.id/berita/2020/04/03/asosiasi-rs-swasta-anggap-360-rs-rujukan-corona-masih-kurang diakses pada 24 Mei 2020

Intan, Ghina. 2020. Menkeu: Dampak Covid-19, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020 bisa Minus 0,4 persen. https://www.voaindonesia.com/a/menkeu-dampak-covid-19-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2020-bisa-minus-0-4-persen/5355838.html diakses pada 24 Mei 2020

Nafi, Muchammad. 2020. Gelombang Virus Corona di Antara Minimnya Fasilitas dan Tenaga Medis. https://katadata.co.id/berita/2020/04/06/gelombang-virus-corona-di-antara-minimnya-fasilitas-dan-tenaga-medis diakses pada 24 Mei 2020

CNN Indonesia. 2020. Menghitung Kontribusi Sektor Pariwisata Bagi Ekonomi RI. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200226121314-532-478265/menghitung-kontribusi-sektor-pariwisata-bagi-ekonomi-ri diakses pada 24 Mei 2020

Badan Amil Zakat Nasional. 2018. Outlokk Zakat Indonesia 2019. https://drive.google.com/file/d/1ZkeHwL8Wl6j1LeQdCx3OOAoo9Wu258Wz/view diakses pada 24 Mei 2020

Charities Aid Foundation (CAF). 2018. CAF World Giving Index 2018. https://www.cafonline.org/docs/default-source/about-us-publications/caf_wgi2018_report_webnopw_2379a_261018.pdf diakses pada 24 Mei 2020

KSEI FEB Undip

Wakaf Produktif sebagai Poros Roda Perekonomian

Oleh: Lutfi Hidayat

Menurut istilah fiqih, Wakaf adalah memindahkan harta milik pribadi menjadi milik suatu badan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan tujuan untuk mendapatkan kebaikan dan ridha dari Allah SWT. Jika di tinjau dari sisi ekomi maka dengan seseorang melakukan wakaf maka akan memberikan dampak baik yang luas bagi kegiatan perekonomian di masyarakat. Sebagai contoh sederhana kita mewakafkan sebidang tanah untuk di kelola desa dan hasilnya sebagian di pakai untuk membayar pekerja sebagian lagi disimpan sebagai dana amal untuk di bagikan ke masyarakat kurang mampu, tentu dengan hal tersebut kita dapat melihat dengan kita mewakafkan sebidang tanah untuk di kelola kita dapat sekaligus membuka lapangan pekerjaan dan membantu masyarakat kurang mampu dengan hasil usaha tersebut. Kesenjangan sosial dapat sedikit demi sedikit teratasi dan pahala yang besar dapat kita peroleh selagi tanah tersebut di gunakan untuk kebaikan.

Wakaf mempunyai peran penting sebagai salah satu instrumen dalam memberdayakan ekonomi umat. Dalam sejarah, wakaf telah memerankan peran penting dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Hal-hal yang paling menonjol dari lembaga wakaf adalah peranannya dalam membiayai berbagai pendidikan Islam dan kesehatan. Kesinambungan manfaat hasil wakaf dimungkinkan oleh berlakunya wakaf produktif yang didirikan untuk menopang berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Wakaf Produktif pada umumnya berupa tanah pertanian atau perkebunan, gedung-gedung komersial, dikelola sedemikian rupa sehingga mendatangkan keuntungan yang sebagian hasilnya dipergunakan untuk membiayai berbagai kegiatan tersebut. Sehingga dengan demikian harta wakaf benar-benar menjadi sumber dana dari masyarkat untuk masyarakat.

Saat ini bangsa Indonesia menghadapi dua tantangan pokok dalam usaha menjalankan roda pembangunan. Kesenjangan yang semakin melebar antara golongan kaya dan golongan miskin di satu sisi, dan kecenderungan meningkatnya ketergantungan kaum miskin kepada pemilik modal dan ketergantungan Indonesia kepada negara maju di sisi yang lain. Sedikitnya ada empat permasalahan dasar pergerakan dakwah Islam. Pertama, masalah kemiskinan baik dari sisi ekonomi maupun keterbatasan sarana dan kebutuhan fisik yang pada urutannya melahirkan budaya kemiskinan. Kedua, sebagai akibat dari lilitan kemikinan mendorong munculnya gejala keterbelakangan. Ketiga, munculnya sikap eksklusif dan involutif. Terakhir, lemahnya kelembagaan penampung partisipasi dan lemahnya mekanisme kerjasama untuk melancarkan perjuangan sistematis.

 

Wakaf yang menjadi salah satu alternatif diharapkan mampu memberikan solusi dalam penyelesaian masalah tersebut. Maka perlu pengelolaan secara optimal terhadap benda wakaf. Namun saat ini banyak harta wakaf yang tidak dikelola secara optimal. Hal ini menunjukkan sempitnya pemahaman masyarakat terhadap harta yang diwakafkan, yaitu benda yang tidak bergerak dan hanya untuk kepentingan yang bersifat ibadah, seperti masjid, musholla, madrasah, pemakaman, dan lain-lain. Padahal tanah wakaf tersebut dapat dikelola secara produktif. Sebagai contoh harta wakaf yang dikelola dan dikembangkan secara baik adalah Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern Gontor Jawa Timur dan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia. Selain itu, dalam upaya pengelolaan tanah wakaf secara produktif, peran nazhir wakaf yaitu orang atau badan hukum yang diberi tugas untuk mengelola wakaf sangat dibutuhkan. Nazhir merupakan salah satu dari rukun wakaf yang mempunyai tanggung jawab dan kewajiban memelihara, menjaga, dan mengembangkan wakaf serta menyalurkan hasil dan manfaat dari wakaf kepada sasaran wakaf. Sering kali harta wakaf dikelola oleh nadzir yang tidak mempunyai kemampuan memadai, sehingga harta wakaf tidak dikelola secara maksimal dan tidak memberikan manfaat bagi sasaran wakaf.

Menurut fiqih diantara syarat nazhir selain Islam dan mukallaf yaitu memiliki kemampuan dalam mengelola wakaf (profesional) dan memiliki sifat amanah, jujur dan adil. Ketika harta wakaf dikelola secara optimal dan nazhir sebagai pengelola wakaf mempunyai kemampuan memadai, maka perlu adanya dukungan politik pemerintah dalam pemberdayaan Civil Society. Potensi besar yang dimiliki oleh wakaf sebagai salah satu variabel penting dalam memberdayakan kesejahteraan masyarakat banyak didorong oleh pemerintah secara politik dengan peraturan perundang-undangan wakaf agar wakaf dapat berfungsi secara produktif. Dalam hal ini umat Islam memiliki kebebasan untuk mengelola kekayaan yang dimiliki sesuai dengan sistem keuangan syari’ah. Sistem ini tidak hanya menguntungkan masyarakat akan tetapi hal ini mendukung program pemerintah. Dengan keadaan seperti ini akan membuka peluang bagi pemberdayaan wakaf produktif sebagai upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Demi terwujudnya tujuan utama wakaf yaitu untuk mengoptimalkan fungsi harta wakaf sebagai prasarana untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan sumber daya insani, maka perlu dilakukan perubahan terhadap pemahaman umat Islam yang menganggap harta wakaf hanya sebatas harta tidak bergerak yang tidak dapat diproduktifkan seperti kuburan, masjid, yayasan, pesantren dan sebagainya. Wakaf merupakan salah satu lembaga keuangan Islam di samping zakat, infak dan shadakah yang menjadi salah satu alternatif yang mampu mengatasi permasalahan yang saat ini menimpa masyarakat Indonesia terutama kemiskinan. Dengan pengelolaan wakaf secara produktif diharapkan mampu membantu pemerintah mencari penyelesaian dari masalah yang ada. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah mengubah pemahaman masyarakat yang menganggap bahwa wakaf hanya sebatas pada benda tidak bergerak yang tidak dapat dikelola secara produktif. Dalam pelaksanaannya, wakaf dikelola oleh nazhir wakaf. Nazhir wakaf harus memiliki kemampuan yang memadai sehingga mampu mengelola wakaf secara maksimal.

 

Selain itu perlu adanya regulasi peraturan perundangan wakaf yang memberikan urgensi bahwa wakaf tidak hanya untuk kepentingan ibadah tetapi pemberdayan wakaf secara produktif untuk kepentingan sosial yaitu untuk kesejahteraan umat. Dengan pemahaman baru dan pengelolaan wakaf produktif secara maksimal maka diharapkan akan mampu mengatasi masalah yang saat ini sedang melanda umat.Beberapa ayat Al Qur’an tentang wakaf

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. [Ali Imran:92].

Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata: Abu Thalhah Radhiyallahu ‘anhu datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata,”Wahai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (Ali Imran:92). Sesungguhnya harta yang paling aku senangi adalah tanah bairoha. Dan sesungguhnya tanah ini aku shadaqahkan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aku berharap sorgaNya dan simpanannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wahai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Aturlah tanah ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi petunjuk kepadamu … [HR Bukhari, Kitab Az Zakat, 1368].

 

Referensi: https://almanhaj.or.id/3035-keutamaan-waqaf.html

Ahmad Muhammad Al Assal, Sistem, Prinsip dan Tujuan Ekonomi Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1999

KSEI FEB Undip

Peran Ekonomi dan Keuangan Syari’ah dalam menghadapi wabah COVID-19

COVID-19 telah dikategorikan sebagai Pandemik Internasional oleh organisasi WHO (World Health Organization) sejak bulan Januari yang lalu. Ini telah disimpulkan bahwasannya COVID-19 tidak hanya sekedar penyakit sembarangan, ini telah menjadi ancaman hidup dan mati bagi kita semua. Pertanyaan yang sering muncul yakni sampai kapankah virus ini tetap ada?

Para ahli berpendapat bahwa Pandemi COVID-19 ini akan berjalan dalam tempo yang cukup panjang. Kita perlu mempersiapkan mental dan psikologis mulai sekarang. Grand strategy kita kedepan lebih kepada buying time, atau menunggu agar tidak terlalu banyak orang untuk harus ke Puskesmas dan Rumah Sakit.

Lalu bagaimanakah dampaknya pada perekonomian?

Dengan wabah ini, setidaknya ada tiga pasar yang mengalami shock. (1) Pasar Barang dan Jasa, (2) Pasar Tenaga Kerja, dan (3) Pasar Keuangan. Pasar adalah tempat bertemunya permintaan dan penawaran. Pasar barang dan jasa tentu akan tergganggu jikalau interaksi antara keduanya tidak ada. Makanya kita bisa melihat sekarang negara yang terdampak adalah negara besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa yang menyebabkan supply dan demand dunia terganggu. Pasar tenaga kerja juga terdisrupsi jika rendahnya permintaan akan barang, maka akan sedikit pabrik yang berproduksi sehingga PHK besar-besaran akan terjadi

Dengan asumsi-asumsi di atas, tak dapat dipungkirilah ekonomi lesu akibat wabah. Pemerintah baik pusat maupun daerah perlu melakukan intervensi untuk memastikan konsumsi berjalan dengan baik dan sektor usaha tetap berproduksi. Bantuan pangan dan tunai sangat diperlukan dalam situasi yang memprihatinkan inu. Sudah ada rencana kesana, tetapi kita perlu mendata ulang agar bantuan tersebut dapat diperoleh secara merata. Kita sebagai masyarakat juga harus bergotong royong agar menjadi upaya memastikan orang-orang miskin dan rentan di sekitar tidak kelaparan. Untuk dunia usaha, pendanaan kredit dan pengurangan pajak juga harus dilakukan.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh Ekonomi dan Keuangan Syari’ah dalam situasi ini? Sepertinya kita perlu mengamalkan apa yang sudah Islam ajarkan melalui Al Qur’an dan Sunnah beserta sirah Nabi dan ulama terdahulu .

Contohnya dulu ketika zaman Nabi Yusuf AS pernah ada masa yang mana beliau pernah membuat lumbung pangan semasa krisis. Manajemen Pangan Prinsip Swasembada Pangan dalam Jangka Panjang perlu dilakukan demi ketahanan pangan. Hal ini perlu menjadi komitmen bagi semua, terutama pemerintah, agar ketahanan nasional tidak mudah goyah dan gonjang-ganjing, hanya karena nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi sehingga impor pangan akan sangat mahal. Semua negara mesti mengutamakan rakyat terlebih dahulu.

Kenapa pangan lebih utama? Karena saat ini dengan adanya pembatasan sosial maka cara kita hanya berusaha survive dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat berupa bantuan pangan tersebut.

Kemudian, di tengah pandemi ini perlu kita mengungatkan  Wakaf Sosial. Wakaf Sosial adalah wakaf yang dimaksudkan untuk membangun fasilitas wakaf sosial yang dibutuhkan oleh umat. Mereka perlu mendapatkan manfaat ekonomi dengan tetap mempertahankan prinsip aset wakaf untuk dapat melayani umat secara berkelanjutan, sehingga wakaf sosial tersebut berorientasi kepada sosial

Kita perlu pula memperkuat zakat, infak, dan shadaqah untuk membantu para dhuafa. Dan pastikan semua orang dapat dan jangan sampai ada yang tersisa. Ekonomi Islam bisa membantu mereka yang tidak terbagi bantuan pemerintah.

Di sisi pasar keuangan, keuangan Islam bisa menyasar sektor-sektor yang berpeluang untuk berkembang di kala pandemik ini. Lembaga Keuangan Syari’ah bisa memberikan pembiayaan sosial dan UMKM  beberapa sektor, seperti gambar di bawah ini.

Oleh karena itulah Ekonomi Islam tidak hanya berusaha di tataran publik yang rasional, tetapi bisa memberikan pendekatan batin bahwa itu membuat semakin dekat kepada Allah SWT yang menciptakan virus Covid-19 ini. Ini semua karena izin Allah, dan hanya kepada Allah-lah kita berdoa agar kita bisa menghadapi semua ini.

 

 

Referensi :

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/14/02/03/n0dtpt-manajemen-pangan-ala-nabi-yusuf-as

https://tirto.id/rakyat-bersatu-bangun-lumbung-pangan-tanpa-menunggu-pemerintah-eMkv

KSEI FEB Undip

Sharia Paper Competition Sehati 11

Assalamu’alaikum, rabbani economists!

Your wait is finally over.
11th SEHATI proudly presents :

•SHARIA PAPER COMPETITION•
With our grand theme :
“Reconstruction of the Halal Industry towards Indonesia as the Center for Global Islamic Economy”

For registration, you can fill the form at :
bit.ly/FormOnlineSPACE (Online)
bit.ly/SpaceDownload(Offline)

You can download and read the guidance book at :
bit.ly/BookletSPACESEHATI11

Stay tune on our official account for the latest information.

For further information :
IG : sehati_undip
Twitter : sehati_undip
Line : @ykj9325e
#11thSEHATI #SEHATI11 #KSEIFEBUNDIP

KSEI FEB Undip

Islamic Economic Olympiad Sehati 11

Assalamu’alaikum, rabbani economist!

Your wait is finally over.
11th SEHATI proudly presents :

•ISLAMIC ECONOMIC OLYMPIAD•
With our grand theme :
“Reconstruction of the Halal Industry towards Indonesia as the Center for Global Islamic Economy”

For registration, you can fill the form at :
bit.ly/FormOnlineIEO (Online)
bit.ly/FormPendaftaranIEO (Offline)

You can download and read the guidance book at :
bit.ly/BookletIEOSEHATI11

Stay tune on our official account for the latest information.

For further information :
Ig : sehati_undip
Twitter : sehati_undip
Line : @ykj9325e
#11thSEHATI #SEHATI11 #KSEIFEBUNDIP

KSEI FEB Undip

Marhaban Ya Ramadhan

Assalamu’alaikum wr. wb.

The beautiful and holy month is coming back. 11th SEHATI committees would say Marhaban ya Ramadhan 1441 H. May Allah bless all of us and every soul be given His forgiveness.
Take care of your health and Happy Fasting!

 

#11thSEHATI
#SEHATI11
#KSEIFEBUNDIP

KSEI FEB Undip

Al Amwal 001

Download Buletin Al Amwal Edisi 001 di: bit.ly/AlAmwal001

KSEI FEB Undip

Sehati 11 Highlights

Hello, Rabbani Economists!

We are back to announce our Highlights of
11th Sharia Economic Activity by KSEI FEB UNDIP

This is Highlights of our biggest event:

– Sharia Paper Competition (SPACE)
– Islamic Economic Olympiad (IEO)
– Sehati Fieldtrip
– Sehati International Seminar
– Sehati Gala Dinner

 

Note: All competitions only for students university

 

Stay tune for this event guys!

For further information:
Instagram : sehati_undip
Twitter     : sehati_undip
LINE          : @ykj9325e

#11thSEHATI
#SEHATI11
#KSEIFEBUNDIP

KSEI FEB Undip

Mosquenterpreneurship Lewat Teknologi Digital dalam Mengoptimalkan Potensi Masjid

Oleh : Wulan Listiani

Masjid adalah rumah atau bangunan tempat bersembahyang orang Islam atau tempat ibadah umat Islam atau Muslim. Masjid artinya tempat sujud, dan sebutan lain bagi masjid di Indonesia adalah musala, langgar atau surau.(KBBI) Bagi umat Islam, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah namun memiliki peran strategis dalam mendorong pengembangan peradaban ummat Islam, salah satunya dalam perekonomian. Selama ini, sejarah telah mencatat masjid Nabawi oleh Rasulullah SAW difungsikan sebagai pusat ibadah, pusat pendidikan dan pengajaran, pusat penyelesaian problematika umat dalam aspek hukum (peradilan), pusat pemberdayaan ekonomi umat melalui Baitul Mal (ZISWAF), pusat informasi Islam, hingga sebagai pusat pelatihan militer dan urusan-urusan pemerintahan Rasulullah, serta fungsi lainnya.

Seiring dengan perkembangan zaman dan derasnya aliran “sekularisasi” dan pandangan hidup “materalisme”, tanpa disadari peranan masjid dalam kehidupan umat Islam semakin menyempit dan bahkan terpinggirkan. Besarnya gelombang sekularisasi yang mempengaruhi pandangan orang terhadap agama, telah menjadikan agama dan lembaga-lembaga agama sebagai pelengkap dalam kehidupan. Pada kenyataannya fungsi masjid yang ada saat ini sebagian besarnya hanya terbatas sebagai tempat ibadah ritual saja. Hal ini berbeda dengan fungsi masjid pada zaman Rasulullah SAW. kecenderungan umat meninggalkan masjid karena mereka merasa masjid tidak memberikan manfaat langsung dalam kehidupan mereka yang semakin komplek. Untuk itu perlu kembali kita mereposisikan masjid sebagai sentral kegiatan umat yang mampu memberikan kontribusi langsung kepada umat.

Berdasarkan data Ditjen Bimas Islam Kemenag menyebutkan jumlah masjid di Indonesia tahun 2020 sebanyak 263.888 buah. Dengan perkiraan potensi penerimaan zakat,infaq,dan sadakah(ZISWAF) sangat besar yang dapat dioptimalkan. Ekonomi potensial masjid yang terkumpul melalui ZIS berdasarkan sampel yang diambil rata-rata sebesar Rp 22.574.920/masjid.Seandainya potensi dana zakat sebesar Rp 217 triliun ini dapat terkumpul, tentunya akan ada beberapa keuntungan dari potensi ekonomi masjid yang dapat dikembangkan, yaitu : 1) dapat membantu pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan, 2) dapat mengurangi ketergantungan pemerintah kepada pinjaman luar negeri untuk program pengentasan kemiskinan, 3) dapat dipergunakan untuk membangun kemandirian ekonomi umat, 4) sangat membantu dalam meningkatkan ketersediaan pembiayaan sektor produktif yang pada gilirannya akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, mengentaskan kemiskinan, bahkan mendorong Indonesia menjadi pusat keuangan syariah dunia.

Mosquenterprenuership merupakan program kerja MES bidang UMKM dan Kewirausahaan dalam rangka untuk membangun kebangkitan ekonomi umat melalui masjid. Dengan melakukan sinergi dengan dewan masjid dan jamaahnya untuk mengembangkan UMKM yang berbasis syariah serta memberikan pendampingan dalam implementasinya.(Diantri, 2017) Strategi untuk meningkatkan peranan tersebut dapat dilakukan dengan lima tahapan yaitu tahapan pertama merupakan tahap sosialisasi peran ekonomi masjid, tahapan kedua peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia,  DKM(Dewan Kemakmuran Masjid) dan pengelola masjid, tahapan ketiga inovasi metode penerapan peningkatan ekonomi berbasis masjid, tahapan keempat implementasi dan tahapan kelima evaluasi dan tindakan perbaikan.

Gambar

Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Berbasis Baitul Mal Masjid

Source: Iqtishoduna p-ISSN: 2252-5661, e-ISSN: 2443-0056

Tahap Sosialisasi peran ekonomi masjid, kebutuhan hidup umat Islam mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali saat ini dipenuhi dari luar lingkaran ekonomi ummat. Oleh karena itu, dalam membangun masjid sebagai kekuatan ekonomi dengan menjadikan para jamaah di masjid sebagai mata rantai ekonomi yang terintegrasi sebagai konsumen, produsen dan pemilik dalam kegiatan ekonomi yang dibangun di masjid. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, DKM, dan pengelola masjid dapat dilakukan dengan mengelola masjid dengan baik sehingga mampu memakmurkan masjid. Pengurus masjid yang kurang memiliki kapabilitas dan kurang berwawasan dalam mengelola harus ditingkatkan dengan pelatihan dan training dari DMI terkait. Pengurus masjid sangat menentukan maju-mundurnya umat Islam. Pengurus masjid yang kurang berwawasan dalam memandang agama Islam sebatas ibadah dan aqidah harus diubah wawasannya. Sehingga harapannya masjid harus dipersiapkan untuk diisi oleh orang yang memahami ibadah dan muamalah, ekonomi Islam serta manajemen masjid melalui Baitul Mal sehingga dengan demikian kebangkitan ekonomi berbasis masjid dapat terwujud. Inovasi metode penerapan peningkatan ekonomi berbasis masjid(Mosquenterprenuership), memfungsikan masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, namun juga pusat ekonomi umat dengan mengembangkan UMKM yang belum ada dan atau sudah ada serta mensupport dengan menggabungkan stakeholder dari pembiayaan, perusahaan financial technology (fintech), platform baik marketing dan accounting yang dapat diakses online. Sehingga ada keberpihakan umat dan RT RW sekitar masjid. Implementasi, dengan tersedia tiga pilar teknologi digital yaitu pembiayaan usaha (fintech), operasional usaha (POS system) dan terhubungnya supply-demand (marketplace) melalui masjid, maka tidak perlu khawatir untuk memulai usaha dan membangkitkan ekonomi ummat. Mosquenterprenuership ini dapat di-roll-out ke masjid-masjid lain di bawah koordinasi MES dengan sinergi berbagai pihak. Evaluasi dan tindakan perbaikan dapat dilakukan dengan melihat hasil dari kegiatan yang telah dilakukan di masjid-masjid yang telah menerapkan hal ini.

Dengan kelima strategi tersebut diharapkan potensi ekonomi masjid yang sangat penting dapat mengembangkan pemberdayaan ekonomi yang bermanfaat bagi segala kalangan. Berdasarkan beberapa indikator potensi ekonomi masjid, maka masjid memiliki potensi ekonomi baik dari segi jumlah dana, jenis dana terhimpun maupun pengelolaan dana tersebut. Ekonomi potensial masjid hendaknya dapat digunakan bukan saja untuk pembangunan masjid tetapi juga dapat digunakan untuk pembangunan ekonomi umat melalui pemberdayaan ekonomi produktif umat yang dilakukan secara selektif.

 

Referensi

Imran, Carolina. 2008. Masjid sebagai Sentral Pemberdayaan Ekonomi Umat. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah.

Muhtadi, “Pemberdayaan Masjid Untuk Pengentasan Kemiskinan”, Republika, 27 September 2006, 1.

Suryanto, A., & Saepulloh, A. (2016). Optimalisasi Fungsi dan Potensi Masjid: Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis Masjid di Kota Tasikmalaya. Iqtishoduna: Jurnal Ekonomi Islam5(2), 1-27.

Erziaty, R. (2015). Pemberdayaan Ekonomi Potensial Masjid Sebagai Model Pengentasan Kemiskinan. AL IQTISHADIYAH JURNAL EKONOMI SYARIAH DAN HUKUM EKONOMI SYARIAH2(2).

Yulianto, Agus. 2017. Membangun Ekonomi Berbasis Masjid Lewat Teknologi Digital dalam https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islamnusantara/17/12/24/p1g3 u2396-membangun-ekonomi-berbasis-masjid-lewat-teknologi-digital diakses pada 18 April 2020.

Body, Bayu. 2019. Potensi ZISWAF di Indonesia Capai Rp 217 Triliun, Hanya Rp 8 Triliun yang Terkumpul dalam https://www .timesindonesia .co.id/read/news/ 237151/potensi-ziswaf-di-indonesia-  capai-rp-217-triliun-hanya-rp-8-triliun-yang-terkumpul  diakses 18 April 2020.

KSEI FEB Undip